Raksasa Aluminium Rusia Rusal Siap Tanam Modal Besar di Indonesia

Jumat, 04 September 2026 | 04:37:02 WIB
Kepala Negara RI Prabowo Subianto. (Foto: NET)

JAKARTA — United Company Rusal (UC Rusal) menjadi sorotan publik menyusul pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai rencana investasi besar-besaran dari raksasa aluminium asal Rusia tersebut di Indonesia. 

Prabowo menjelaskan bahwa Rusal berencana membangun fasilitas pengolahan dengan menggandeng sejumlah kelompok usaha dalam negeri.

Pernyataan tersebut diungkapkan oleh kepala negara ketika berbicara dalam forum Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 yang berlangsung di Vladivostok, Rusia, pada hari Kamis (3/9/2026).

“Kami juga telah melangkah sangat jauh di bidang pemrosesan misalnya, pertambangan, seperti kami bekerja sama dengan perusahaan besar, saya pikir entitas aluminium terbesar di dunia, Rusal. Rusal akan hadir besar-besaran di Indonesia, membangun fasilitas pengolahan bersama grup-grup Indonesia,” ujar Prabowo, dikutip Jumat (4/9/2026). 

Langkah strategis ini dinilai sejalan dengan kebijakan pemerintah yang fokus memperkuat hilirisasi mineral demi mendongkrak nilai tambah komoditas nasional.

Berdasarkan situs resminya, Rusal merupakan salah satu pemain terbesar global di sektor aluminium dengan sistem bisnis terintegrasi, mencakup penambangan bauksit, pengolahan alumina, peleburan aluminium, hingga penciptaan berbagai barang bernilai tambah tinggi. 

Catatan perusahaan menunjukkan bahwa volume produksi aluminium Rusal mencapai 3,918 juta metrik ton sepanjang 2025, yang merepresentasikan sekitar 5,3% dari total pasokan dunia. Pada periode yang sama, total produksi alumina mereka menyentuh angka 6,858 juta metrik ton atau berkisar 4,7% dari pangsa global.

Jaringan operasional perusahaan ini juga tergolong sangat luas dengan kepemilikan 45 fasilitas di lima benua berbeda. Portofolio komoditas yang dihasilkan meliputi aluminium primer, paduan aluminium, bilet ekstrusi, slab canai, wire rod, produk dengan kemurnian tinggi, hingga berbagai varian foil dan kemasan. 

Melalui rantai pasok yang terintegrasi penuh, Rusal mengklaim mampu menjaga standar mutu barang secara konsisten mulai dari tahap ekstraksi bauksit mentah hingga produk akhir siap pakai.

Sejarah pendirian Rusal berawal pada tahun 2000 saat Siberian Aluminium serta Millhouse Capital memutuskan menggabungkan aset mereka. 

Perusahaan ini kemudian bertransformasi menjadi kekuatan global lewat merger antara Rusal, Siberian-Urals Aluminium Company (SUAL), serta lini bisnis alumina milik Glencore pada 2007. 

Penggabungan tersebut melahirkan United Company Rusal yang sempat menyandang status produsen aluminium terbesar di dunia sebelum posisinya bergeser oleh Aluminum Corporation of China Limited (Chinalco) beserta China Hongqiao Group Limited.

Saat ini, jejak operasional korporasi tersebut telah tersebar ke berbagai negara seperti Rusia, Guinea, Jamaika, Irlandia, Kazakhstan, Australia, India, Nigeria, hingga Swedia.

Sebelum rencana terbaru ini mengemuka, ketertarikan Rusal untuk menanamkan modal di Indonesia sebenarnya sudah sempat tercatat pada tahun 2014 lalu. 

Merujuk arsip pemberitaan Bisnis, Rusal sempat meneken nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dengan PT Arbaya Energi yang merupakan bagian dari Satmarindo Group pada 26 Februari 2014. 

Kesepakatan kemitraan strategis tersebut mencakup eksplorasi dan penambangan bauksit serta produksi alumina di wilayah Kalimantan Barat.

Penandatanganan dokumen kerja sama itu dilakukan di Jakarta oleh Oleg Deripaska yang kala itu menjabat sebagai CEO UC Rusal bersama Suryo B. Sulisto selaku Chairman PT Arbaya Energi, di bawah payung Komisi Bersama Antarpemerintah Indonesia–Rusia terkait Perdagangan serta Kerja Sama Ekonomi dan Teknik. 

Berdasarkan isi kesepakatan tersebut, kedua belah pihak sepakat merintis perikatan strategis guna mengoptimalkan potensi sumber daya serta investasi infrastruktur pendukung, di mana proyek konkret akan ditentukan kemudian sesuai kesepakatan bersama.

Oleg Deripaska sempat menyampaikan antusiasmenya atas peluang untuk bermitra bersama PT Arbaya Energi dalam sektor pertambangan bauksit dan pengolahan alumina di Indonesia. 

“Kami telah lama menyatakan keinginan untuk memperluas ke pasar penting Asia Tenggara yang tentu semakin meningkat dan menonjol di panggung pertambangan global. Ini adalah tonggak penting bagi bisnis kami secara global," ungkapnya pada saat itu.

Tidak hanya itu, rekam jejak Rusal di tanah air juga mencakup kesepakatan serupa pada tahun 2007 ketika mereka menandatangani MoU dengan PT Aneka Tambang Tbk atau Antam. 

Kerja sama tersebut diarahkan untuk membangun pabrik pengolahan atau smelter bauksit menjadi alumina yang berlokasi di Tayan, Kalimantan Barat. 

Rencananya, kedua perusahaan akan membentuk entitas usaha patungan (joint venture/JV) dengan komposisi kepemilikan saham mayoritas 51% dipegang oleh Rusal, sementara 49% sisanya dimiliki oleh Antam. 

Kendati demikian, rencana pembangunan tersebut akhirnya harus terhenti dan tidak dilanjutkan akibat hantaman krisis ekonomi saat itu.

Terkini

Dilepas Madrid Lewat Telepon, Ceballos Tantang Mantan

Jumat, 04 September 2026 | 06:19:32 WIB

Skenario Lolos Timnas U20 ke Piala Asia 2027

Jumat, 04 September 2026 | 06:18:01 WIB

Bocoran iPhone 18: Harga, Kamera, hingga Layar Lipat

Jumat, 04 September 2026 | 06:16:31 WIB

WBO Desak Sheeraz dan Zhanibek Segera Capai Kesepakatan Duel

Jumat, 04 September 2026 | 06:13:31 WIB