JAKARTA - Aktivitas mawas diri lazimnya ditempuh lewat sesi pembuatan jurnal yang praktis. Kendati demikian, kebiasaan tersebut dapat dimaksimalkan dengan memanfaatkan cara-cara yang cukup khas, contohnya dengan mengekor tren yang sedang viral di platform media sosial.
Saat ini, terdapat sebuah tren yang tengah digandrungi di TikTok, yakni bertajuk "My Favorite Person". Fenomena tersebut memang lazimnya berfokus pada individu lain di sekeliling kita. Walau demikian, bukan berarti pola tersebut mustahil direplikasi pada diri sendiri guna memupuk rasa bangga sekaligus mendongkrak kepercayaan diri.
Mengenal tren "My Favorite Person"
Secara umum, tren ini mengajak orang-orang untuk membagikan video tentang sosok yang mereka kasihi, seperti anak, pasangan, atau hewan peliharaan.
"Tren ini mengundang orang untuk membagikan video tentang sosok yang mereka cintai sambil mengidentifikasi kualitas dan momen sehari-hari yang membuat sosok tersebut begitu istimewa," ujar psikoterapis Dipesh Patel, MBA, MSW, LCSW/LICSW.
Patel menguraikan bahwa gelombang tren ini merepresentasikan manifestasi kesadaran relasional, mengingat seseorang secara terbuka mengutarakan afeksi yang jarang diekspos dalam dinamika pergaulan sehari-hari.
Pandangan serupa disampaikan oleh terapis Chloë Bean, LMFT. Menurutnya, tren ini mencerminkan bentuk apresiasi yang mendalam dan penuh kelembutan kepada sosok yang penting dalam hidup.
"Ini tentang memerhatikan apa yang disukai oleh orang favoritmu, bagaimana mereka berinteraksi dengan orang lain dan dunia di sekitar mereka, serta apa yang membuat mereka menjadi diri mereka sendiri," jelas dia.
Bean melanjutkan, praktik rasa syukur ini dilakukan untuk orang lain yang hadir secara langsung, sehingga menciptakan koneksi emosional yang kuat karena mereka merasa dilihat dan dihargai keunikannya.
Mengapa perlu diterapkan pada diri sendiri?
Sekalipun kebiasaan ini secara konvensional menyoroti figur eksternal, mempraktikkannya pada diri sendiri justru menawarkan segudang faedah psikologis. Menurut Bean, pendekatan ini membantu kita mengapresiasi eksistensi diri apa adanya, alih-alih sekadar menilai dari pencapaian yang telah diperbuat.
Kita berkesempatan memposisikan diri sendiri sebagai sosok favorit personal, sehingga limpahan welas asih menguat dan suara-suara sumbang internal di kepala berangsur-angsur meredup.
Ketika mengeksekusi tren ini, otak manusia dilatih untuk merumuskan hal-hal baru yang konstruktif. Alih-alih terperangkap dalam renungan pesimistis, kita mulai mengamati diri melalui kacamata berbeda, yang pada saat bersamaan turut mereduksi kadar hormon stres karena tubuh merasakan ketenangan yang lebih baik.
Pemahaman diri yang kian mendalam ini berfungsi sebagai fondasi vital dalam melahirkan ketahanan mental serta rasa percaya diri yang tangguh.
Tips memulai tren untuk apresiasi diri
Cobalah menjawab beberapa pertanyaan sebagai pembuka Bagi sebagian orang, memulai tren untuk mengapresiasi diri ini mungkin terasa menantang, terutama jika sudah terbiasa berfokus pada orang lain atau memiliki kritik batin yang tajam. Untuk mencobanya, kamu bisa mulai menjawab beberapa pertanyaan penuntun yang ramah diri.
Misalnya bagaimana caramu menunjukkan kepedulian kepada orang lain. Kemudian hal apa saja yang berjalan baik minggu ini, apa yang membuatmu tertawa dan merasa terhubung dengan sisi ceria. Selanjutnya adalah bagaimana caramu memperlakukan orang asing, serta nilai-nilai apa yang kamu pegang teguh dalam hidup.
Catat kualitas diri Bean menyarankan agar kamu mencatat berbagai kualitas diri dari sudut pandang rasa penasaran alih-alih penghakiman. Langkah praktisnya bisa dimulai dari skala kecil. "Pilih satu hal setiap hari untuk diperhatikan tentang dirimu, bisa berupa sesuatu yang kamu syukuri atau hal yang berjalan dengan baik," ujar dia.
Berpikir lebih spesifik terhadap sesuatu yang positif Selain itu, cobalah bersikap spesifik ketika menyadari momen atau sifat yang positif. MIsalnya dengan berpikir "Kami mendengarkan keluh kesah teman dan menanyakan apa yang dia butuhkan", bukannya "Kami adalah orang yang baik".
Lakukan saat pikiran sedang tenang Kemudian, apresiasi diri saat pikiranmu sedang tenang, dan sadari bahwa penolakan dari dalam diri kemungkinan besar akan muncul. Suara kritik di kepala mungkin akan menyebut bahwa mengikuti tren ini terasa konyol. Namun, hal itu wajar sebagai bentuk pola pikir lama yang sedang diubah melalui latihan kesadaran secara berkala.