IHSG Diramal Menguat Uji 6.714 pada Jumat (4/9), Analis Sarankan Titik Akumulasi

Jumat, 04 September 2026 | 07:47:00 WIB

BISNISINSIGHT.COM — Pergerakan indeks saham pada akhir pekan ini diprediksi masih hijau, tetapi investor tetap diminta waspada terhadap fluktuasi harga. Sebab, secara teknikal, indeks dinilai telah mencapai target kenaikan sebelumnya dan mulai menutup area gap yang sempat terbentuk.

Level yang Perlu Dicermati Investor

Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menjelaskan IHSG saat ini berada dalam bagian dari wave v dari wave (c) pada perhitungan teknikal. Kondisi itu membuka ruang bagi indeks untuk bergerak naik menuju rentang 6.681–6.714.

“Waspadai akan adanya koreksi dalam jangka pendek ke 6.649–6.669,” tulis Herditya dalam risetnya, Jumat (4/9).

Untuk acuan perdagangan, MNC Sekuritas menempatkan area support IHSG di kisaran 6.561–6.476. Adapun level resistance atau batas atas diperkirakan berada pada rentang 6.705–6.755.

Support adalah titik terendah yang diyakini menjadi area beli karena daya beli meningkat, sedangkan resistance adalah titik tertinggi yang biasanya memicu aksi jual hingga laju kenaikan tertahan.

Rekomendasi Saham: dari Bank Mandiri hingga Japfa

MNC Sekuritas merekomendasikan strategi buy on weakness alias membeli saat harga melemah untuk sejumlah saham. Salah satunya PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang bisa diakumulasi di rentang Rp 4.390–Rp 4.430, dengan target harga Rp 4.510–Rp 4.590 dan stop loss di bawah Rp 4.320.

Selain itu, ada PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) yang disarankan dikoleksi di rentang Rp 675–Rp 695. Target harganya berada di Rp 745–Rp 785, dengan level stop loss di bawah Rp 655.

Sementara itu, Phintraco Sekuritas melihat IHSG berpeluang menguji area 6.705–6.760. Rekomendasi sahamnya mencakup PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Archi Indonesia Tbk (ARCI).

Sentimen Domestik dan Global yang Menggerakkan Pasar

Dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati rencana efisiensi anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut anggaran MBG pada 2027 yang semula Rp 240 triliun berpotensi ditekan menjadi di bawah Rp 200 triliun melalui efisiensi dan pemanfaatan teknologi.

Badan Gizi Nasional (BGN) juga membuka peluang melakukan efisiensi serupa tahun depan. Lembaga itu akan menghitung ulang kebutuhan anggaran 2027 dengan mempertimbangkan hasil pembenahan data penerima manfaat dan evaluasi pelaksanaan di lapangan.

“Jika anggaran program MBG dapat dikurangi diharapkan akan dapat digunakan untuk program lain yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi serta menekan defisit anggaran,” tulis Phintraco dalam analisisnya.

Dari sisi eksternal, pasar menunggu pertemuan OPEC+ pada 6 September yang akan membahas tingkat produksi minyak untuk Oktober. Rusia menyatakan kelompok produsen minyak itu tidak berencana memangkas produksi di tengah pemulihan permintaan global. Jika produksi kembali dinaikkan, tambahan pasokan berpotensi menahan lonjakan harga minyak dunia.

Potensi profit taking menjelang akhir pekan tetap menjadi risiko utama, terutama di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Investor disarankan mencermati pergerakan indeks dan memanfaatkan koreksi untuk akumulasi beli pada saham-saham berfundamental baik.

Terkini