BISNISINSIGHT.COM — Head of Indonesia Equity Research J.P. Morgan, Benny Kurniawan, mengungkapkan optimisme ini bukan tanpa dasar. Pasca aksi jual besar-besaran investor asing, ia menilai kondisi pasar justru sudah berada di titik yang menarik untuk akumulasi.
Amunisi Investor Lokal Masih Tebal
Benny menjelaskan, aksi jual asing yang masif telah membersihkan posisi spekulatif di pasar. Di sisi lain, posisi kas reksa dana saham domestik tercatat masih tinggi dan siap dialokasikan ke pasar.
"Seperti yang kita tahu asing sudah jualan dan kalau kita lihat fund fact sheet dari reksadana-reksadana ekuitas di Indonesia, sebenarnya cash level mereka juga cukup tinggi. Jadi ada banyak amunisi untuk beli di market kita tahun ini," ujarnya dalam media briefing di Jakarta, Kamis (3/9).
Kondisi ini dinilai menjadi ruang bagi investor—baik asing maupun domestik—untuk kembali masuk ke pasar saham tanah air. Artinya, potensi arus dana masuk yang besar sudah siap meluncur ketika sentimen membaik.
Prospek Laba Emiten Jadi Penopang Utama
Selain faktor likuiditas, fundamental emiten juga disebut masih sehat. Benny menyebutkan konsensus analis memperkirakan pertumbuhan laba emiten mencapai sekitar 9 persen pada 2027.
"Untuk ke depannya di tahun 2027, konsensus dari analis memperkirakan earnings itu tumbuh sekitar 9 persen tahun depan. Dan ini juga pasti ditopang oleh pengeluaran pemerintah, goverment spending lagi, dan juga investment," tutur Benny.
Angka pertumbuhan laba tersebut menjadi katalis utama yang mampu mendorong penguatan IHSG secara berkelanjutan, bukan sekadar rebound teknikal jangka pendek.
Pelemahan IHSG Lebih Banyak akibat Faktor Eksternal
Menyoal pelemahan IHSG sepanjang tahun ini, Benny menilai faktor eksternal lebih mendominasi dibanding masalah fundamental domestik. Kenaikan harga minyak dunia, suku bunga yang masih bertahan tinggi di negara maju, serta imbal hasil obligasi pemerintah AS yang meningkat membuat aset emerging market seperti Indonesia kurang menarik.
Tekanan global ini menyebabkan investor asing cenderung menarik dananya. Namun, J.P. Morgan meyakini tekanan tersebut tidak permanen dan akan mereda seiring waktu.
Dampak Wacana Hapus Floor Price Rp 50
Benny juga memberikan pandangannya terkait wacana Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang berencana membuka batas harga minimum saham—menghapus floor price di level Rp 50. Ia menilai kekhawatiran pasar yang menganggap langkah ini akan mengubah bursa menjadi pasar penny stocks seperti di Amerika Serikat adalah tidak tepat.
"Saya rasa tidak seperti itu. Masalah MSCI itu apa concern-nya? Pertama, mereka tidak bisa mereplikasi indeksnya. Jadi, saham apa pun yang ditambah atau dihapus, itu tidak bisa dieksekusi pada rebalancing date dengan baik," jelas Benny.
Ia menambahkan, mekanisme pasar negosiasi atau over-the-counter (OTC) akan tetap tersedia bagi investor. Hal ini memastikan likuiditas tetap terjaga bagi saham-saham yang harganya berpotensi turun ke bawah level Rp 50.
"Banyak investor sekarang merasa mungkin dengan adanya Rp50 itu ada downside-nya. Tapi sebenarnya tidak seperti itu, karena ada mekanisme pasar negosiasi yang OTC. Jadi, kalau aturan Rp50 ini dilepas, menurut saya sentimennya seharusnya lebih positif," ujarnya.
Justru, penghapusan batas bawah harga ini dinilai dapat meningkatkan likuiditas dan transparansi. Selama ini, aturan floor price membuat sejumlah saham bernilai kecil tidak aktif diperdagangkan karena harga tidak bisa turun lebih jauh.
"Investor asing menurut saya seharusnya menangkap ini lebih positif. Karena kalau kita lihat pasar modal di luar, tidak ada floor price. Jadi, kalau misalnya Rp50 ini turun, seharusnya mekanisme pasar lebih berjalan. Investor yang mau beli tidak takut tidak bisa jual," pungkas Benny.
Investasi mengandung risiko.