BISNISINSIGHT.COM — Tak hanya indeks saham yang hijau, nilai tukar rupiah ikut menunjukkan taringnya. Berdasarkan data penutupan sore ini, mata uang Garuda perkasa di level Rp17.655,8 per dolar AS, menguat 0,53 persen atau 94,2 poin dari posisi pembukaan pagi di Rp17.750.
Sinyal Optimisme Pasar Domestik
Penguatan ini terjadi di tengah pergerakan bursa Asia yang cenderung variatif. Nikkei 225 Jepang memerah 0,18 persen, Hang Seng Hong Kong terkoreksi 0,38 persen, sementara SSE Composite China dan Straits Times Singapura bertahan tipis di zona hijau.
Kondisi itu membuat investor domestik justru lebih percaya diri. Indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan juga ditutup menguat signifikan sebesar 1,66 persen ke level 662,773.
Saham Apa Saja yang Jadi Motor Penggerak?
Aktivitas perdagangan tercatat cukup ramai dengan nilai transaksi harian mencapai Rp18,40 triliun. Total volume saham yang berpindah tangan mencapai 40,45 miliar lembar dengan frekuensi 2,48 juta kali transaksi.
Dari sisi aksi beli, saham-saham lapis kedua dan ketiga kompak menghijau. VRNA milik Mizuho Leasing Indonesia melesat 33,78 persen, disusul TRUK (Guna Timur Raya) yang naik 25 persen. FORU (Fortune Indonesia) dan NICK (Charnic Capital) juga sama-sama menguat di kisaran 24,8 persen.
Menariknya, saham perusahaan media FORU yang ditutup di level 3.220 ikut mencuri perhatian karena masuk jajaran top gainers. Sayangnya, di tengah euforia ini, saham BELI milik Global Digital Niaga malah menjadi yang paling tertekan dengan koreksi 11,82 persen.
Transaksi Raksasa di Sektor Perbankan dan Tambang
Nilai transaksi terbesar sore ini masih didominasi saham-saham big cap. BMRI (Bank Mandiri) mencatat transaksi tembus Rp1,02 triliun, disusul BUMI (Bumi Resources) sebesar Rp937,75 miliar.
Menariknya, volume saham BUMI paling laris diburu investor dengan 44,52 juta lembar saham berpindah tangan. CUAN (Petrindo Jaya Kreasi) dan BBCA (Bank Central Asia) juga masuk jajaran saham dengan nilai transaksi tertinggi, menandakan minat investor institusi maupun ritel masih tinggi pada emiten energi dan perbankan.
Dengan kondisi ini, pasar seolah memberi sinyal bahwa fundamental ekonomi dalam negeri masih cukup kokoh. Namun para pelaku pasar tetap perlu waspada karena dinamika global masih bisa berubah cepat.