Kemendag Targetkan Neraca Perdagangan Surplus hingga Akhir 2026

Rabu, 02 September 2026 | 19:50:32 WIB
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso [FOTO: NET].

JAKARTA — Kementerian Perdagangan (Kemendag) menargetkan neraca perdagangan Indonesia kembali membukukan surplus secara berlanjut hingga akhir 2026, usai kembali surplus pada Juli setelah dua bulan berturut-turut mengalami defisit.

Badan Pusat Statistik (BPS) merekam neraca perdagangan barang Indonesia pada Juli 2026 surplus US$0,12 miliar. Catatan surplus tersebut diperoleh usai neraca perdagangan sempat mencatatkan defisit pada Mei dan Juni 2026.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso berharap capaian surplus neraca perdagangan sanggup terus bertahan, bahkan tidak terbatas hingga akhir 2026 belaka. Dalam hal ini, pihak pemerintah mencanangkan neraca perdagangan kembali berada pada lintasan surplus secara konsisten.

“Jadi kan memang sebelumnya kan 72 bulan berturut-turut kami surplus. Kemudian pada bulan Mei—Juni kami defisit. Juli ini kami kan surplus lagi, surplus US$0,12 miliar. Sehingga Januari-Juli kami ekspor kami kan [tumbuh] 4,43%,” kata Budi saat ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, Rabu (2/9/2026).

Budi memaparkan salah satu pemicu yang sebelumnya memberikan tekanan terhadap neraca perdagangan yakni melambungnya harga minyak. Pada rentang Maret—April 2026, banderol harga minyak sempat bertengger di atas US$100 per barel sehingga merembet pada tekanan terhadap neraca perdagangan Indonesia.

“Harapan kami ya sampai seterusnya menjadi surplus lagi. Karena kemarin memang salah satu faktor utamanya adalah karena bulan Maret-April itu kan harga minyak sangat tinggi itu, di atas US$100 [per barel], ya mudah-mudahan harga minyak ini terkontrol karena kebutuhan kami kan juga cukup besar,” ujarnya.

Di sisi lain, Budi menggarisbawahi bahwa raihan surplus perdagangan nonmigas tetap berjalan konsisten. Dengan demikian, tekanan terhadap kondisi neraca perdagangan secara menyeluruh utamanya bersumber dari defisit sektor migas.

Budi pun menegaskan sasaran pemerintah tak sekadar menjaga surplus hingga pengujung tahun, melainkan mempertahankannya secara berlanjut.

“Target kami begitu [surplus]. Kami maunya nggak sampai akhir tahun, sampai seterusnya, ya surplus terus,” tuturnya.

Guna merawat tren positif tersebut, pemerintah bakal memacu peningkatan kinerja ekspor, khususnya komoditas nonmigas. Merujuk pandangan Budi, semakin tinggi angka surplus nonmigas, kian kokoh pula daya tahan neraca perdagangan Indonesia dalam meredam tekanan dari sektor migas.

“Salah satu faktor kan tadi saya sampaikan karena harga minyak. Tetapi kan kami tidak hanya karena itu, ya. Jadi kami harus tetap meningkatkan ekspor kami. Bagaimana kami meningkatkan ekspor kami sehingga surplus nonmigas harus terus naik lebih besar,” terangnya.

Sebelumnya, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyampaikan Indonesia membukukan capaian ekspor Juli 2026 menembus US$26,22 miliar atau naik 6,05% apabila dibandingkan dengan Juli 2025 (year-on-year/yoy).

Nilai ekspor migas terdata sebesar US$0,79 miliar atau terkoreksi 14,58%, sedangkan nilai ekspor nonmigas melonjak 6,84% dengan angka pada Juli 2026 mencapai US$25,45 miliar.

Ateng menuturkan lonjakan nilai ekspor Juli 2026 utamanya didorong oleh ekspor nonmigas dari pelbagai komoditas, yakni bahan bakar mineral (HS 27) naik 34,86%, besi dan baja (HS 72) naik 20,31%, serta mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85) naik 22,52%.

Adapun, besaran nilai impor Juli 2026 menyentuh US$26,09 miliar atau naik 27,02% dibandingkan Juli 2025. Nilai impor migas Juli 2026 berada pada US$3,77 miliar atau melonjak 49,91% yoy, sementara nilai impor nonmigas Juli 2026 menyentuh US$22,3 miliar atau naik 23,83% yoy.

Ateng memaparkan peningkatkan impor Juli 2026 ini dipicu oleh aktivitas impor nonmigas dengan kontribusi sebesar 20,91%.

“Pada Juli 2026, neraca perdagangan barang mengalami surplus sebesar US$0,12 miliar [US$120 juta],” kata Ateng dalam Rilis Berita Statistik BPS pada Selasa, (1/9/2026).

Capaian surplus pada bulan Juli 2026 dipicu utamanya oleh surplus komoditas nonmigas senilai US$3,10 miliar, dengan komoditas penopang utama surplus bersumber dari lemak dan minyak nabati, serta besi dan baja.

Terkini