KAI Bangun Trem Listrik Bali 12 Km, Groundbreaking Maret 2027

Selasa, 01 September 2026 | 21:34:00 WIB

BISNISINSIGHT.COM — Pemerintah Provinsi Bali bersama KAI resmi menandatangani kerja sama pengembangan perkeretaapian di Gedung Kertasabha, Denpasar, Selasa (1/9/2026). Langkah ini menjadi fondasi awal bagi hadirnya moda transportasi baru yang menjangkau kawasan wisata utama di selatan Bali.

Trem listrik yang mengusung teknologi baterai ini akan melintasi jarak 12 kilometer, menghubungkan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dengan kawasan Canggu. Dimensinya dirancang ringkas—lebar trase sekitar 3 meter dan badan trem lebih kecil dari bus—sehingga tidak mendominasi lanskap jalan yang ada.

Detail Proyek dan Skema Pembangunan

Proses konstruksi dijadwalkan bertahap. Groundbreaking yang menjadi penanda dimulainya fisik proyek ditargetkan pada Maret 2027. Pada 2028, trem ditargetkan beroperasi untuk trase pertama, disusul seluruh jalur hingga Canggu rampung pada 2029.

Jalur ganda atau dua lintasan disiapkan untuk menunjang kelancaran operasional, lengkap dengan area persilangan. Karena memakai baterai, moda ini tidak memerlukan kabel listrik yang menggantung di sepanjang rute—sebuah nilai tambah untuk menjaga estetika visual Bali.

Mengapa Memilih Trem, Bukan MRT atau LRT

KAI menegaskan konsep trem dipilih setelah mempertimbangkan karakteristik dan kondisi geografis Bali. Dibandingkan moda rel berat lain, trem dinilai lebih ramah lingkungan, memiliki tingkat kebisingan rendah, serta mudah berintegrasi dengan sistem transportasi yang sudah ada.

“Infrastruktur transportasi harus dikembangkan secara hati-hati. Kemajuan teknologi tidak boleh menghilangkan identitas dan harmoni Bali,” ujar Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, dalam keterangan resmi yang dikutip Selasa (1/9/2026).

Gubernur Bali Wayan Koster menambahkan, proyek ini merupakan tindak lanjut usulan Kementerian Bappenas dan Pemprov Bali untuk memperbaiki sistem transportasi, khususnya di Kabupaten Badung yang menghadapi kepadatan lalu lintas.

Jaminan untuk Ekosistem Pariwisata

Pembangunan trem ini tidak lepas dari kekhawatiran akan dampaknya terhadap pariwisata. Wayan Koster menekankan bahwa jalur trem harus memperhatikan keberadaan hotel, objek wisata, permukiman warga, dan kehidupan masyarakat di sepanjang trase.

“Pengembangan transportasi harus tetap memperhatikan keunikan Bali, menjaga keindahan, mendukung pariwisata, dan tidak mengganggu kehidupan masyarakat. Kenyamanan wisatawan harus tetap dijaga. Keberadaan trem justru diharapkan dapat menjadi daya tarik baru bagi pariwisata Bali,” tegasnya.

Target Operasional dan Harapan ke Depan

Dengan target operasional trase pertama pada 2028 dan jalur penuh setahun kemudian, proyek ini diharapkan menjadi solusi mobilitas bagi warga lokal sekaligus wisatawan. Konsep trem yang kecil, senyap, dan bebas emisi diharapkan bisa menjadi ikon transportasi baru yang selaras dengan kearifan lokal Pulau Dewata.

Kehadiran trem ini juga menjadi ujian bagi kolaborasi BUMN dengan pemerintah daerah dalam membangun infrastruktur yang tidak hanya fungsional, tetapi juga menjaga identitas budaya dan lingkungan setempat.

Terkini