Bappenas Rilis Angka Indeks Modal Manusia 2025 dan Buku Pedoman

Selasa, 01 September 2026 | 19:05:31 WIB
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) meluncurkan Angka Indeks Modal Manusia (IMM) Tahun 2025 dan Buku Pedoman Penghitungan IMM di Jakarta, Senin (31/8/2026) [FOTO: NET].

JAKARTA - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) merilis Angka Indeks Modal Manusia (IMM) Tahun 2025 serta Buku Pedoman Penghitungan IMM sebagai piandik strategis demi memperkokoh perencanaan, pemantauan, hingga perumusan kebijakan pembangunan manusia di Indonesia.

Buku Pedoman Penghitungan IMM ditujukan sebagai acuan metodologi untuk menjamin kalkulasi maupun interpretasi IMM tereksekusi secara terstandar, konsisten, serta akuntabel di beragam jejaring pemerintahan.

“Pedoman ini diharapkan dapat memperkuat kesamaan pemahaman antar pemangku kepentingan dalam pemanfaatan IMM untuk mendukung perencanaan, pemantauan, dan evaluasi pembangunan,” ucap Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy sebagaimana dalam keterangan resmi, Jakarta, Selasa (1/9/2026).

Pembangunan manusia ditegaskan sebagai fondasi utama menuju terwujudnya visi Indonesia Emas 2045. Kualitas manusia yang dirancang sejak masa awal kehidupan bakal menetapkan tingkat produktivitas maupun daya saing sumber daya manusia (SDM) Indonesia di masa mendatang.

Dalam skema tersebut, lanjut dia, IMM hadir guna melengkapi evaluasi pembangunan manusia yang selama ini diukur via Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Melalui pendekatan siklus hidup, IMM menilai pembangunan manusia sebagai investasi jangka panjang yang berpijak pada kondisi kelangsungan hidup, pendidikan, serta kesehatan yang diraih sepanjang tahapan tumbuh kembang dalam membentuk potensi produktivitas dan daya saing manusia Indonesia di masa depan.

Lebih jauh, dia menjelaskan bahwa IMM merupakan penyesuaian dari Human Capital Index (HCI) World Bank yang diselaraskan dengan karakteristik data, konteks, serta kebutuhan pembangunan domestik.

”Human Capital Index adalah perbaikan dari pada Human Development Index. Di mana perbedaannya tadi sudah disampaikan, tapi inti dari perbedaan itu adalah yang dulu dianggap sebagai objek pembangunan, sekarang menjadi subjek pembangunan. Yang terpenting dari pada suatu negara itu adalah orangnya, dan orangnya dicerminkan dari modal manusianya,” kata Menteri PPN.

“Modal manusia dicerminkan dari kesehatannya, dan kesehatan itu ada sejak dalam kandungan. Jadi sejak dalam kandungan, manusia Indonesia harus sehat. Kami di Bappenas merencanakan supaya manusia Indonesia 2045, bukan hanya sebagai objek tetapi subjek untuk mencapai Indonesia Emas. Karena itu, hari ini kami meluncurkan Indeks Modal Manusia (IMM),” ujar Kepala Bappenas.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045, IMM dimanfaatkan sebagai indikator guna mengukur ketercapaian target peningkatan daya saing sumber daya manusia. Sasaran itu lantas diturunkan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, sekaligus menjadi bagian dari koridor pembangunan pada Rencana Strategis Kementerian/Lembaga (Renstra), Rencana Kerja Pemerintah (RKP), hingga dokumen perencanaan pembangunan daerah.

Integrasi ini menjamin bahwasanya proses perencanaan, eksekusi, pemantauan, serta evaluasi pembangunan sumber daya manusia tergelar secara lebih terarah, terukur, dan berbasis bukti, baik pada aras nasional maupun daerah.

Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas Pungkas Bahjuri Ali mengutarakan angka IMM Tahun 2025 merupakan baseline mula pengukuran modal manusia di Indonesia. Pemetaan ini telah membuahkan nilai IMM di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota, sehingga mampu memberikan potret awal mengenai kondisi modal manusia beserta distribusinya antarwilayah.

Pada tahun 2025, capaian IMM Indonesia tercatat berada di angka 0,562. Artinya, seorang anak yang lahir hari ini diproyeksikan sanggup menggapai 56,2 persen dari potensi produktivitas optimalnya tatkala menginjak usia kerja. Capaian ini menunjukkan eskalasi dibanding angka IMM 2020 sebesar 0,540 yang sempat dipublikasikan World Bank, ujar Pungkas, namun tetap membutuhkan kerja keras demi memancangkan target IMM pada penghujung RPJMN 2025-2029 sebesar 0,590.

Di tingkat daerah, perolehan IMM juga masih bervariasi antara angka tertinggi 0,705 di DI Yogyakarta dan angka terendah 0,366 di Provinsi Papua Pegunungan.

Pengembangan IMM turut disebut sebagai bagian dari ikhtiar memperkokoh pembangunan manusia yang terpadu dan berbasis bukti. Pada konteks ini, peningkatan kualitas modal manusia memerlukan sinergi dari pelbagai intervensi, mulai dari kesehatan ibu dan anak, pemenuhan gizi, penanganan stunting, imunisasi, pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar dan menengah, pendidikan tinggi, sampai penguatan keterampilan serta produktivitas pada usia kerja.

“Ke depan, tata kelola, metodologi, dan kualitas data IMM akan terus disempurnakan agar pengukuran semakin akurat, konsisten, dan relevan dengan dinamika pembangunan Indonesia. Penguatan koordinasi antar kementerian/lembaga serta pengembangan kualitas dan ketersediaan data menjadi bagian penting dalam memastikan IMM dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai instrumen pembangunan berbasis bukti,” ungkap dia.

Terkini