JAKARTA - Duta Besar Indonesia untuk Kazakhstan Fadjroel Rachman mengutarakan apresiasi atas pelaksanaan pemilihan Kurultai (parlemen unikameral) Kazakhstan sekaligus memberikan ucapan selamat atas terpilihnya Aibek Dadebay sebagai Ketua Kurultai perdana.
“Selamat atas suksesnya Kurultai kepada Presiden Kazakhstan Kassym-jomart Tokayev, dan selamat atas terpilihnya Aibek Dadebay sebagai Ketua Kurultai. Kazakhstan telah sukses menjalankan demokrasi konstitusional untuk membenutk New Kazakhstan,” kata Fadjroel menurut siaran pers KBRI Astana yang diterima di Jakarta, Sabtu (29/8/2026).
Fadjroel memandang bahwa perhelatan pemilihan parlemen tersebut mengawali fase anyar bagi Kazakhstan.
Pembentukan Kurultai sebagai institusi legislatif unikameral merupakan elemen dari penerapan konstitusi baru yang disahkan lewat referendum pada 15 Maret 2026.
“Kazakhstan memberikan pesan kepada dunia, bahwa demokrasi berjalan sesuai dengan prinsip Konstitusi 2026,” ujar Fadjroel.
Pihak KBRI Astana memaparkan bahwa Aibek Dadebay sah mengemban posisi Ketua Kurultai usai memenangi pemungutan suara tertutup, dengan perolehan dukungan sebanyak 144 dari 145 anggota parlemen.
Sebelumnya, Presiden Tokayev mengajukan nama Dadebay sebagai kandidat ketua parlemen, menimbang rekam jejaknya sebagai abdi negara yang cakap.
Agenda pemilihan Kurultai yang diselenggarakan pada 23 Agustus 2026 mencatatkan tingkat keikutsertaan pemilih menyentuh 74,08 persen, atau melibatkan lebih dari 9,35 juta warga yang menyalurkan hak suaranya. Partai Adilet keluar sebagai pemenang mayoritas dengan mengamankan 71,17 persen suara serta menduduki 110 kursi dari keseluruhan 145 kursi parlemen.
Kepala Negara Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev dalam pidato pembukaan sidang perdana Kurultai menyampaikan bahwa perolehan suara pemilu mencerminkan sokongan total rakyat terhadap agenda reformasi skala besar yang tengah berjalan di Kazakhstan.
Ia pun menegaskan bahwa pemilu terlaksana secara transparan, adil, serta berstandar penyelenggaraan tinggi, dengan keterlibatan sekitar 800 pemantau internasional yang mengawasi jalannya proses pemungutan suara, yang tercatat sebagai jumlah tertinggi dalam sejarah parlemen Kazakhstan.