Perluas Akses Keuangan, 529 Siswa Cirebon Buka Rekening SimPel

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 18:04:31 WIB
Presiden Prabowo Subianto meninjau Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) Margaguna di Jakarta Selatan [FOTO: NET].

JAKARTA - Sebanyak 529 dari total 540 murid Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Cirebon, Kabupaten Cirebon, memperoleh rekening Simpanan Pelajar (SimPel).

Penyediaan rekening tersebut menjadi bukti riil ekspansi akses layanan keuangan resmi bagi para siswa sekaligus memperkenalkan tata kelola keuangan semenjak dini.

Kepala OJK Cirebon Agus Muntholib menyampaikan, penyediaan rekening bagi para siswa sepatutnya tidak mandek sebatas seremoni tahunan.

Di samping membuka jalan menuju instrumen keuangan formal, skema tersebut diproyeksikan untuk menumbuhkan budaya mengolah uang sejak di bangku sekolah.

"Kami ingin Hari Indonesia Menabung tidak berhenti sebagai sebuah momentum tahunan. Lebih dari itu, kami ingin menumbuhkan kebiasaan. Karena ketika menabung sudah menjadi kebiasaan sejak dini, anak-anak akan belajar mengelola keuangan, memahami kebutuhan dan keinginan, serta mulai merencanakan masa depan,” ujar Agus, Jumat (28/8/2026).

Agus menerangkan, lewat pembukaan rekening itu, anak-anak memegang akses untuk memahami dan memakai instrumen keuangan resmi.

Kendati begitu, kepemilikan rekening tidak lantas mencerminkan budaya menabung telah terbangun dengan sendirinya.

Pekerjaan rumah selanjutnya, tutur Agus, yakni menjamin keberadaan rekening itu dimanfaatkan secara konsisten.

"Sekolah, orang tua, dan industri jasa keuangan perlu memberikan pendampingan agar siswa tidak hanya memiliki rekening, tetapi juga memahami cara mengelola uang, menentukan prioritas, dan membangun kebiasaan menyisihkan uang," kata Agus.

Agus menambahkan, literasi keuangan wajib dieksekusi secara berkesinambungan serta relevan dengan aktivitas harian anak.

OJK Cirebon turut memacu akselerasi Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN), agenda perluasan inklusi keuangan bagi para pelajar, hingga kepemilikan rekening semenjak usia sekolah.

Di level nasional, urgensi penguatan literasi bergulir di tengah melesatnya keterjangkauan masyarakat terhadap instrumen keuangan.

Merujuk data SNLIK 2026 OJK dan BPS, persentase inklusi keuangan menyentuh angka 93,61 persen, menguat dari capaian 92,74 persen pada 2025.

Adapun persentase literasi keuangan berada di angka 69,57 persen, merangkak naik dari posisi 66,64 persen.

Agus memaparkan, terdapat selisih hingga 24,04 poin persentase di antara inklusi dan literasi keuangan.

"Dalam konteks Cirebon, 529 rekening SimPel menjadi titik awal. Ukuran keberhasilan program selanjutnya bukan hanya berapa banyak rekening yang dibuka, melainkan sejauh mana rekening tersebut digunakan dan membantu siswa membangun perilaku keuangan yang sehat sejak dini," kata Agus.

Terkini