Kredit Rp 2.548 Triliun di Bank Menganggur, BI: Bukan Soal Likuiditas

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 10:06:00 WIB

BISNISINSIGHT.COM — Jumlah kredit yang "menganggur" di perbankan Indonesia masih sangat besar. Dari total plafon kredit yang disetujui bank, hampir seperempatnya belum ditarik oleh debitur. Kondisi ini menunjukkan bahwa perbankan sebenarnya memiliki banyak uang untuk dipinjamkan, tetapi korporasi dan pelaku usaha masih menahan diri untuk menarik fasilitas tersebut.

Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, Alexander Lubis, mengakui bahwa keputusan dunia usaha untuk memanfaatkan kredit sangat dipengaruhi oleh kondisi global yang penuh ketidakpastian. "Memang kita tidak bisa lepas dari kondisi global. Ketidakpastian global dan dampak ekonominya masih tinggi," ujarnya dalam diskusi dengan media di Jakarta, Jumat (28/8/2026).

Bukan Karena Bank Kehabisan Uang

BI menegaskan bahwa dari sisi penawaran atau supply, tidak ada masalah likuiditas di sektor perbankan. Bank sentral terus memastikan bank memiliki dana yang cukup untuk menyalurkan pembiayaan. "Yang mau kita pastikan adalah tidak ada permasalahan supply atau permasalahan likuiditas. Jangan sampai bank itu tidak bisa menyalurkan kredit gara-gara secara sistem banknya sudah kering duluan," jelas Alexander.

Hanya saja, likuiditas yang melimpah tidak otomatis membuat debitur menarik seluruh fasilitas kreditnya. Banyak perusahaan yang memilih menunda ekspansi dan menunggu prospek ekonomi membaik sebelum menggunakan pinjaman. Karena itu, BI menilai pertumbuhan kredit saat ini merupakan kombinasi antara sisi penawaran dan permintaan.

Bank Tak Sekadar Menolak, tapi Menakar Kemampuan Bayar

Di sisi lain, keputusan bank untuk mencairkan kredit juga bergantung pada penilaian risiko calon debitur. Alexander menegaskan bahwa bank pada dasarnya tidak menolak permintaan kredit, tetapi harus memastikan peminjam mampu membayar kembali. "Bank itu bukan menolak kreditnya. Pasti memberikan kredit, tapi Anda mampu bayarnya," katanya.

Ketika profil risiko calon debitur dinilai belum meyakinkan, bank akan menahan pencairan atau tidak menaikkan plafon. Selain faktor risiko, penetapan suku bunga kredit juga mempertimbangkan biaya operasional bank dan target margin keuntungan. Menurut Alexander, digitalisasi perbankan menjadi kunci untuk menekan biaya operasional (overhead cost), sehingga bank punya ruang menawarkan bunga yang lebih kompetitif.

Insentif Bukan Satu-satunya Jurus

Besarnya angka kredit menganggur membuat BI tidak lagi mengandalkan tambahan insentif likuiditas sebagai solusi tunggal. Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) tetap dipertahankan untuk memastikan likuiditas bank aman, tetapi efektivitasnya sulit diukur secara langsung. "Kalau kita memastikan bahwa KLM dikasih Rp1 triliun sama BI, kreditnya Rp1 triliun, tidak bisa begitu juga. Sulit juga karena Rp1 triliun itu blended," jelas Alexander.

Untuk mengatasi kebuntuan ini, BI kini aktif mempertemukan bank dengan calon debitur, baik dari kalangan korporasi maupun pelaku UMKM. Langkah business matching ini diharapkan bisa menjembatani bank yang punya likuiditas dan fasilitas kredit dengan debitur yang selama ini masih menahan diri. BI juga terus memantau indikator seperti pertumbuhan kredit di sektor prioritas dan perkembangan transaksi pasar uang untuk menilai efektivitas kebijakan.

Dengan kombinasi antara likuiditas yang cukup, harga kredit yang kompetitif, dan meningkatnya keyakinan dunia usaha untuk ekspansi, BI optimistis penyaluran kredit bisa berakselerasi. Namun, semua itu tetap bergantung pada seberapa cepat ketidakpastian global mereda dan permintaan domestik kembali menguat.

Terkini