Harga Batubara Melonjak 6,29%, Begini Prospeknya Sampai Akhir Tahun

Jumat, 28 Agustus 2026 | 01:00:02 WIB
Harga batubara kembali membukukan penguatan tajam pada sesi perdagangan. (Foto: NET)

JAKARTA - Harga batubara kembali membukukan penguatan tajam pada sesi perdagangan Jumat (28/8/2026). Di tengah tren kenaikan tersebut, arah pergerakan harga komoditas energi ini hingga akhir tahun masih dihantui oleh ketidakpastian akibat ancaman gangguan pasokan serta dinamika geopolitik global.

Berdasarkan catatan Trading Economics pada Jumat (28/8/2026) pukul 17.15 WIB, posisi harga batubara tercatat bertengger di level US$ 139,50 per ton, yang menunjukkan lonjakan harian sebesar 6,29%. Dalam rentang waktu sepekan, komoditas ini telah menorehkan penguatan 6,90%, sementara dalam basis bulanan mengalami kenaikan 7,10%.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan bahwa harga batubara masih memiliki ruang untuk melanjutkan tren positifnya hingga penghujung tahun. Salah satu elemen penting yang wajib diwaspadai adalah potensi hambatan produksi akibat faktor cuaca ekstrem di beberapa negara penghasil utama.

"Kalau saya lihat bahwa harga minyak mentah sama batu bara, ini kemungkinan besar sampai akhir tahun ini masih akan terus mengalami kenaikan. Bukan saja masalah geopolitik, tapi masalah kondisi teknis di lapangan, terutama di Tiongkok yang memasuki musim hujan," ujar Ibrahim, Jumat (28/8/2026).

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa curah hujan tinggi serta banjir berisiko besar melumpuhkan kegiatan operasional penambangan di kawasan China dan India. Situasi ini dikhawatirkan dapat memangkas ketersediaan pasokan domestik, yang pada gilirannya akan mendongkrak permintaan pasokan batubara dari pasar luar negeri.

"Kalau di India, kemudian di Eropa, Amerika, di Tiongkok, batu bara itu ke bawah, ke tanah, hampir 20 meter itu dibikin terowongan. Nah sehingga risiko pada saat musim hujan itu lebih besar dan ditutup total karena pasti penuh dengan air," ujarnya.

Menghadapi potensi pergerakan pasar yang cenderung bergejolak, Ibrahim menyarankan agar para pelaku bisnis yang berkecimpung dalam transaksi fisik batubara dapat mengendalikan risiko fluktuasi harga dengan mengaplikasikan strategi lindung nilai (hedging strategy).

"Kalau bagi investor sendiri kan, pasti mereka melakukan hedging. Pada saat mereka melakukan pembelian secara fisik, ya pasti para investor melakukan hedging juga," kata Ibrahim.

Menurut pandangannya, langkah hedging tersebut dapat dieksekusi dengan cara mengambil posisi di pasar komoditas batubara secara bersamaan saat pelaku usaha menjalankan transaksi fisik. Langkah taktis ini dimaksudkan guna mengantisipasi pergerakan harga yang sulit ditebak.

"Pada saat mereka melakukan transaksi di batu bara, mereka juga akan hedging di batu bara," ujarnya.

Ibrahim menambahkan bahwa penerapan strategi tersebut sangat krusial mengingat fluktuasi nilai komoditas mampu memberikan pengaruh signifikan terhadap besaran transaksi ekspor maupun impor yang dijalankan.

"Karena hedging ini biasanya untuk menutupi kekurangan dana yang ada di pasar fisik pada saat mereka melakukan jual-beli. Karena fluktuatif harga ini tidak bisa ditentukan," jelasnya.

Di samping komoditas batubara, pendekatan hedging serupa juga dinilai layak dijalankan oleh para pelaku usaha yang memiliki aktivitas transaksi fisik pada sektor minyak mentah guna membentengi diri dari risiko perubahan harga pasar.

Secara keseluruhan, Ibrahim memperkirakan harga batubara masih berpotensi mendekati kisaran US$ 170 per ton tatkala memasuki penghujung tahun 2026. Kendati demikian, dinamika pergerakannya tetap harus dicermati secara seksama dengan memantau perkembangan faktor cuaca, ketersediaan pasokan, serta situasi geopolitik dunia.

Terkini