Atasi Sampah Bekasi, Pemerintah Andalkan PSEL dan Pirolisis

Jumat, 28 Agustus 2026 | 21:01:31 WIB
Antrean truk pengangkut sampah di TPST Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat [FOTO: NET].

JAKARTA — Jajaran pemerintah pusat secara serius memfokuskan strategi pengelolaan timbunan sampah yang terintegrasi dari hulu hingga lini hilir guna menuntaskan persoalan darurat sampah di wilayah Kota Bekasi yang tercatat mencapai kisaran angka 1.800 ton per hari. 

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menegaskan bahwa penanganan permasalahan sampah di Bekasi ini harus dieksekusi secara masif dan berbasis teknologi modern melalui penggalangan koordinasi lintas sektoral yang kuat.

“Bekasi baru-baru ini menjadi perhatian dunia karena cemaran gas metan dari TPA-TPA di sekitar Bantargebang. Kami harus segera menyelesaikan persoalan ini. Kami koordinasikan agar semua bergerak cepat, tidak boleh lagi masyarakat hidup dalam lingkungan yang tercemar udara, tanah, dan air akibat sampah yang tidak terkelola,” ujar Zulkifli dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (27/8/2026).

Meninjau dari sektor hulu, pihak pemerintah secara aktif menggalakkan gerakan sadar pemilahan sampah mandiri yang dimulai langsung dari lingkup rumah tangga. Kampanye masif tersebut diperkuat lewat penyelenggaraan agenda Apel Gebrak Pilah Sampah Kota Bekasi yang melibatkan partisipasi lebih dari 2.000 orang peserta. 

Menurut pandangan Zulkifli, aksi pemilahan sampah dari titik sumbernya ini diyakini mampu mempermudah tahapan pemrosesan lanjutan sekaligus mereduksi volume muatan sampah yang dikirim menuju tempat pemrosesan akhir (TPA).

“Memilah sampah sejak dari sumbernya merupakan langkah sederhana namun sangat penting. Sampah yang sudah dipilah akan memudahkan proses selanjutnya. Kalau pemilahan dilakukan secara konsisten, volume sampah yang diangkut ke TPA akan jauh berkurang,” katanya.

Sementara itu, skema penanganan dari sektor hilir diwujudkan melalui proyek pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Kota Bekasi yang mengadopsi teknologi modern waste to energy. Instalasi pengolahan ini ditargetkan mampu menyerap dan mengolah muatan sampah hingga sekitar 1.500 ton per hari, atau mencakup persentase sekitar 70 persen dari total volume timbunan sampah harian di Kota Bekasi.

Fasilitas PSEL tersebut juga diproyeksikan sanggup menekan angka emisi gas rumah kaca dari kawasan TPA, mendatangkan suplai energi hijau, sekaligus membuka kesempatan penyerapan ribuan lapangan kerja baru.

“Pengolahan sampah ini akan menurunkan emisi dari TPA sebesar 80% dan menciptakan 1000 lapangan kerja, jadi PSEL Bekasi ini mendatangkan empat manfaat yaitu pengelolaan sampah, hasilkan energi hijau, mengurangi emisi dan menggerakkan ekonomi lokal,” ujar Zulkifli.

Kendati demikian, kapasitas daya tampung PSEL tersebut diprediksi belum sepenuhnya mencukupi untuk merampungkan keseluruhan volume timbunan sampah yang ada. Zulkifli membeberkan bahwa akumulasi 13 titik lokasi pembangunan PSEL yang diprogramkan pemerintah secara nasional baru sanggup menangani sekitar 22,5 persen dari total timbulan sampah secara keseluruhan.

Oleh karena itu, pemerintah tetap konsisten mendorong kesadaran masyarakat dalam melakukan pengurangan dan pemilahan sampah dari rumah, di samping mengombinasikannya dengan penerapan teknologi pengolahan alternatif lainnya.

Guna membereskan tumpukan warisan sampah lama yang menggunung di area TPA, pihak pemerintah turut mematangkan penyiapan teknologi pirolisis. Teknologi destruktif termal ini dikembangkan melalui skema proyek percontohan di lima wilayah berbeda dengan menggandeng dukungan penuh dari jajaran TNI AD.

Metode pirolisis difokuskan untuk mengonversi timbunan sampah lama menjadi sumber komoditas energi baru terbarukan berupa produk bahan bakar minyak (BBM) setara solar. Apabila model teknologi ini berhasil diimplementasikan secara masif berskala nasional, inovasi tersebut diklaim memiliki potensi untuk memangkas sekitar 20 persen dari total timbulan sampah.

Di sisi lain, pihak pemerintah memberikan jaminan kepastian bahwa agenda modernisasi tata kelola sampah ini tidak akan mematikan sumber mata pencaharian para pekerja sektor informal seperti pemulung.

“Pemulung tidak usah resah. Tetap bisa memulung sampah yang ada karena tidak semua sampah bisa diselesaikan dengan PSEL. Kemudian kalau PSEL sudah berjalan, pasti akan membutuhkan banyak tenaga kerja. Ini bisa menjadi lahan baru bagi para pemulung,” kata Zulkifli.

Pemerintah menaruh harapan besar agar penyelesaian kompleksitas sampah di Kota Bekasi ini dapat tuntas melalui kombinasi strategi komprehensif, mulai dari gerakan pemilahan mandiri dari sumber, pengoptimalan pengolahan di hilir, konversi sampah menjadi energi bersih, hingga penciptaan nilai tambah peluang ekonomi bagi kesejahteraan masyarakat.

Terkini