JAKARTA — Pasar gawai Asia Tenggara mengalami penurunan sebesar 15% secara tahunan pada kuartal kedua 2026, tetapi transaksi telepon seluler kelas atas di atas US$500 atau sekitar Rp8,87 juta justru melonjak pesat.
Menurut laporan Counterpoint Research pada Kamis (27/8/2026), kontraksi pasar yang terjadi dari April hingga Juni 2026 ini tercatat sebagai yang paling dalam sejak awal 2023. Lonjakan biaya komponen, khususnya memori, menjadi pemicu utama produsen menaikkan harga jual serta memangkas produksi ponsel tingkat pemula.
"Faktor-faktor ini menciptakan lingkungan operasi yang lebih menantang bagi vendor," ucap Analis Senior Counterpoint Research, Shilpi Jain.
Beliau menjelaskan bahwa kelesuan ini disebabkan oleh kombinasi tekanan biaya serta pergeseran waktu belanja musiman, di mana sebagian pembelian masa liburan maju lebih cepat ke kuartal pertama. Keberhasilan ekspansi para vendor pun kini semakin bertumpu pada ketepatan jalur distribusi serta kegiatan promosi.
Data memperlihatkan adanya polarisasi yang sangat mencolok di antara berbagai kategori harga. Gawai berbanderol di bawah US$150 atau Rp2,6 jutaan merosot hingga 38%, sementara kelompok US$250–US$499 atau setara Rp4,4 juta sampai Rp8,86 jutaan melemah 11%.
Sebaliknya, kategori US$500–699 atau senilai Rp8,87 juta hingga Rp12 juta melesat tajam sebesar 74%, dan kategori di atas US$700 atau setara Rp12 jutaan bertambah 18%.
Samsung mempertahankan posisi teratas penguasa pasar dengan perolehan pangsa 24%, meningkat dari 19% pada tahun lalu, sekaligus menjadi satu-satunya jenama utama yang membukukan kenaikan pengiriman sebesar 6%.
Faktor ketersediaan produk serta tingginya minat terhadap lini andalan menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ini. Di sisi lain, jenama asal Tiongkok seperti Xiaomi, Oppo, dan Transsion justru terhimpit akibat lonjakan harga memori yang menggerus lini produk terjangkau.
Sejumlah produsen kini mengalihkan fokus portofolio mereka ke kelas menengah-keatas guna mempertahankan margin keuntungan alih-alih sekadar mengejar volume penjualan.
Di luar dugaan, HONOR muncul sebagai merek dengan tingkat pertumbuhan paling pesat, melesat 61% didorong oleh perluasan jaringan ritel serta strategi produk yang lebih terarah di berbagai pasar strategis Asia Tenggara.
Apple tetap kokoh di jajaran lima besar dengan menguasai 9% pangsa pasar, meskipun volume pengirimannya terkoreksi sekitar 2% berkat sokongan ekosistem yang solid serta ekspansi titik penjualan luring di kawasan ini.
Counterpoint memproyeksikan bahwa tekanan terhadap pasar Asia Tenggara masih akan berlanjut hingga paruh kedua tahun 2026. Kenaikan harga komponen memori serta kehati-hatian sikap konsumen diyakini terus membatasi ruang gerak harga dan tingkat penggantian perangkat anyar.
Jain menambahkan, para produsen ke depan akan bersikap jauh lebih selektif dengan memprioritaskan pengendalian inventaris serta lini kelas menengah-atas, meninggalkan strategi mengejar volume besar seperti yang kerap kami lakukan pada masa sebelum tekanan harga memori melanda wilayah ini.