Prospek Saham Batu Bara Semester II/2026: AADI & BUMI Jadi Pilihan

Jumat, 28 Agustus 2026 | 05:43:32 WIB
Prospek emiten saham sektor batu bara pada paruh kedua tahun 2026 dipandang cukup konstruktif. (Foto: NET)

JAKARTA — Prospek emiten saham sektor batu bara pada paruh kedua tahun 2026 dipandang cukup konstruktif, kendati para pelaku pasar tetap harus mewaspadai ketidakpastian produksi yang dipicu oleh aturan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), lonjakan biaya penambangan, serta penerapan kebijakan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

Cliff Nathaniel selaku Equity Research Analyst Panin Sekuritas menyampaikan bahwa kinerja emiten batu bara di periode tersebut masih dibayangi tantangan RKAB, khususnya bagi perusahaan yang tidak mengantongi status Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) maupun bukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Menurutnya, pemulihan operasional emiten sebenarnya mulai tampak pada kuartal II/2026. Kendati peningkatan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) berpotensi mendongkrak pendapatan, dampaknya pada marjin tertahan oleh kenaikan harga minyak global. 

“Komponen BBM dapat menyumbang sekitar 40% dari total Harga Pokok Penjualan sehingga kenaikan harga batu bara belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi ekspansi marjin,” ujarnya, Kamis (27/8/2026).

Ia menambahkan, pemulihan volume produksi kemungkinan berjalan terbatas karena pemerintah memberlakukan relaksasi RKAB secara terukur guna menjaga stabilitas pasokan dan permintaan. 

Karenanya, kepastian visibilitas produksi jauh lebih krusial ketimbang sekadar tambahan kuota. Emiten berstatus IUPK dan BUMN dinilai lebih menarik karena memiliki stabilitas operasional yang lebih terjamin.

Cliff memproyeksikan harga batu bara acuan Newcastle pada semester II/2026 tetap bertahan di atas level US$120 per ton, yang dinilai memadai untuk menjaga profitabilitas perusahaan berstruktur biaya efisien. 

“Potensi penurunan harga minyak akan menjadi faktor positif karena dapat meredakan tekanan mining cost dan memberikan ruang bagi ekspansi marjin,” katanya.

Di tengah berbagai tantangan itu, Panin Sekuritas menjagokan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) sebagai pilihan utama. Perusahaan ini dinilai memiliki keunggulan berupa cash margin tinggi, profil batu bara kalori menengah (mid-CV), nisbah kupas (stripping ratio) rendah, serta cadangan melimpah. 

Sementara itu, risiko utama yang patut dicermati investor meliputi volatilitas harga komoditas, potensi kenaikan biaya akibat lonjakan harga BBM buntut eskalasi geopolitik Timur Tengah, serta ketidakpastian regulasi DSI yang berisiko mendongkrak biaya administrasi.

Pandangan optimis serupa disampaikan oleh Yoga Ahmad Gifari selaku Equity Research Sucor Sekuritas, terutama untuk emiten dengan skala produksi besar serta kontribusi royalti tinggi. Saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) menjadi dua nama yang direkomendasikan.

Yoga menuturkan bahwa harga batu bara berpeluang bertahan di level tinggi seiring langkah pemangkasan pasokan dari Indonesia serta potensi lonjakan permintaan di kawasan Asia akibat defisit pasokan gas dipicu konflik Timur Tengah. 

Kendati demikian, pasar diminta tetap waspada terhadap potensi beban bayang-bayang (overhang) dari implementasi DSI pada September 2026, mengingat skema teknisnya belum sepenuhnya transparan. 

Khusus untuk AADI, Sucor Sekuritas sebelumnya menyematkan rekomendasi Buy dengan target harga Rp12.600 per saham, ditopang rendahnya biaya produksi, stabilnya volume, serta kemampuan menghasilkan arus kas yang solid.

Sementara itu, Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas turut memandang adanya peluang pemulihan kinerja emiten batu bara pada paruh kedua 2026. 

Normalisasi izin RKAB yang sebelumnya sempat menghambat produksi di awal tahun diyakini mampu mendongkrak pemulihan volume. Persetujuan tambahan kuota oleh pemerintah juga membuka kesempatan bagi produsen untuk mengejar target tahunan mereka.

Kiwoom Sekuritas memasukkan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI), PT Bukit Asam Tbk. (PTBA), PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG), PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), serta PT Golden Energy Mines Tbk. (GEMS) ke dalam radar pantauan. 

Harga batu bara Newcastle diprediksi bergerak di kisaran US$120 hingga US$145 per ton sampai akhir 2026, level yang dinilai aman untuk mempertahankan marjin operasional mayoritas emiten nasional.

Terkini