Kemitraan Danantara dan JBS Group Tarik Investasi US$5 Miliar

Kamis, 27 Agustus 2026 | 00:03:33 WIB
Danantara Indonesia [FOTO: NET].

JAKARTA — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) memproyeksikan bahwa kolaborasi strategis bersama JBS Group bakal mengalirkan investasi raksasa pangan global tersebut ke Indonesia dalam format proyek greenfield maupun brownfield.

Chief Investment Officer Danantara sekaligus CEO Danantara Investment Management (DIM) Pandu Sjahrir mengungkapkan bahwa kemitraan tersebut menyimpan potensi investasi mencapai US$5 miliar atau setara kisaran Rp89,5 triliun yang dapat dialirkan ke dalam negeri.

“Matching dengan JBS itu kurang lebih US$5 miliar yang akan nanti masuk ke Indonesia dalam bentuk investasi baik greenfield ataupun brownfield,” kata Pandu,Rabu (26/8/2026).

Sebelumnya, Danantara lewat DIM telah meneken aliansi strategis berjangka panjang bersama JBS Group senilai US$2,5 miliar atau sekitar Rp44,75 triliun. Penanaman modal itu memberikan porsi kepemilikan 25% bagi Danantara di dalam entitas perusahaan patungan (joint venture / JV) anyar yang akan mengelola bisnis operasional JBS di kawasan Australia serta Selandia Baru.

Selain kucuran ekuitas sebesar US$2,5 miliar tersebut, perusahaan patungan ini memegang kapasitas tambahan investasi hingga US$5 miliar secara bertahap. Dengan demikian, total akumulasi modal yang terserap dalam kemitraan ini berpotensi menyentuh angka US$5 miliar.

Pandu menuturkan bahwa desain struktur investasi ini tidak semata-mata berorientasi pada perolehan imbal hasil finansial, melainkan turut membuka lebar akses Danantara terhadap transfer pengetahuan, teknologi canggih, jaringan luas, serta standar tata kelola milik JBS.

“Kalau sudah bisa masuk ke perusahaan inti, kami membeli bukan aja cash flow, itu sangat penting. Membeli dapat akses, dapat know-how, dapat teknologi, dapat jaringan,” ujarnya.

Menurutnya, kepemilikan saham langsung di JBS memberikan posisi tawar strategis bagi Danantara untuk ikut menyumbangkan arahan kebijakan investasi perusahaan. Pola ini dinilai jauh berbeda ketimbang sekadar mendorong korporasi asing membangun fasilitas secara mandiri di Indonesia.

Pandu menyebutkan bahwa Danantara mengantongi sejumlah hak istimewa di JBS Australia, di antaranya hak menempatkan perwakilan di jajaran komisaris dan direksi serta memberikan pertimbangan strategis terhadap arah investasi ke depan.

“Ini penting karena bisa memiliki seat on the table di mana bisa dibilang hatinya suatu perusahaan atau di otaknya suatu perusahaan itu penting karena di situlah semua knowledge, semua DNA dari perusahaan,” katanya.

Di samping itu, kerangka transaksi ini turut menawarkan skema dividen preferen (preferred dividend) serta pendanaan pendamping (matching funding). Pandu menilai keunggulan aspek tersebut menjadi nilai tambah yang membedakannya dari skema investasi konvensional lewat perusahaan publik.

Pada fase dua tahun pertama, fokus alokasi penanaman modal dari aliansi strategis ini bakal diarahkan langsung ke Indonesia. Pandu memandang arsitektur kemitraan tersebut membuka peluang bagi Danantara untuk mengarahkan investasi JBS ke sektor-sektor prioritas yang bernilai strategis bagi perekonomian nasional.

Bisnis JBS Australia yang turut tercakup dalam transaksi ini tercatat mengantongi omzet sekitar US$10 miliar. Pandu menyatakan lini usaha tersebut mempunyai tingkat profitabilitas yang kokoh, sehingga menjadi salah satu dasar pertimbangan utama bagi langkah investasi Danantara.

Agenda penjajakan investasi bersama JBS ini sendiri telah bergulir selama kurang lebih satu tahun sebelum akhirnya diumumkan secara resmi ke hadapan publik. Pandu menyampaikan proses negosiasi tersebut dijalankan secara tertutup hingga berhasil merumuskan kesepakatan akhir.

“Ini kami masuk ke private company. Company Australia ini omzet kurang lebih US$10 miliar. Jadi cukup besar dan mereka memiliki profitabilitas terbaik sebenarnya di situ,” ujarnya.

Terkini