Strategi Toto Sugiri Dorong Indonesia Jadi Pusat Data Center

Kamis, 27 Agustus 2026 | 23:37:32 WIB
Direktur Utama PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) Toto Sugiri [FOTO: NET].

JAKARTA – Lonjakan kebutuhan industri terhadap kecerdasan buatan (AI) kian memacu derasnya permintaan pusat data (data center) di Indonesia. Sederet pekerjaan rumah kini berada di tangan pemerintah bersama pelaku industri untuk memastikan pengembangan pusat data dapat terealisasi di dalam negeri.

Pebisnis pusat data nasional sekaligus pimpinan PT DCI Indonesia Tbk. (DCII), Otto Toto Sugiri, menjelaskan bahwa kolaborasi pemerintah dan sektor industri mesti berfokus pada pemenuhan pasokan daya listrik dan air bagi pengembangan pusat data.

Mengenai ketersediaan pasokan listrik, Toto menilai sumber energi hijau bakal menjadi penopang utama industri secara jangka panjang ke depan. Hal ini mengingat cadangan batu bara sebagai sumber daya konvensional kian terbatas. 

Oleh sebab itu, inisiatif energi hijau dari pemerintah harus terkoordinasi secara baik dan merangkul pihak swasta. Sektor swasta pun dinilai perlu mengakselerasi inisiatif tersebut guna memperkuat kesiapan Indonesia mengadopsi pusat data.

”Dalam jangka panjang, kami harus percaya sumber energi berbasis fosil akan habis, sementara dunia butuh lebih banyak listrik. Jadi inisiatif energi hijau pemerintah harus dikoordinasikan dengan baik dan merangkul sektor swasta,” katanya dalam BATIC 2026 di Nusa Dua, Bali, Kamis (27/8/2026).

Tak hanya itu, Toto Sugiri memaparkan bahwa pada tingkatan yang lebih aplikatif, pemerintah seyogianya memberikan kemudahan akses pendanaan bagi perusahaan perintis. Menurutnya, pelaku start-up saat ini menghadapi hambatan dalam hal pembiayaan. Kemudahan ini menjadi krusial untuk menjamin iklim berusaha bagi sektor swasta.

Toto Sugiri turut menyoroti peningkatan kompetensi SDM agar sanggup memberikan kontribusi nyata bagi industri. Ia menilai terdapat tantangan di mana industri harus mencetak banyak lapangan kerja, sekaligus mendorong generasi muda menciptakan pekerjaan bernilai tinggi untuk mengoperasikan berbagai perangkat pemroses modern.

”Di tingkat infrastruktur, kami masih punya pekerjaan rumah. Tapi prioritas lainnya adalah pengembangan kompetensi di bidang pendidikan, mengarahkan generasi muda ke area yang lebih produktif, seperti menggunakan AI untuk industri manufaktur dan lainnya,” katanya.

Toto Sugiri menegaskan bahwa Indonesia sebenarnya mengantongi hampir seluruh modal utama untuk tumbuh menjadi pusat AI. Melimpahnya populasi penduduk, kekayaan sumber daya alam, hingga dinamika ketegangan geopolitik memberi Indonesia peluang yang sangat besar. Kondisi ini menciptakan permintaan tinggi terhadap pelatihan AI di kawasan Asia Tenggara.

Toto Sugiri bahkan mengkalkulasi kapasitas pusat data Indonesia berpotensi melonjak hingga 1,4 GW pada akhir 2026, dari kisaran 400 MW saat ini. Meski begitu, ia mengingatkan agar keberadaan fasilitas pusat data di Indonesia terdistribusi merata dan memperhatikan kondisi masyarakat sekitar.

”Tapi kami harus belajar dari masalah di negara lain, seperti AS dan Eropa, di mana penduduk mulai memprotes. Kami harus menghindarinya. Pusat data tidak boleh memakan air dan listrik jatah penduduk,” katanya.

Oleh karena itu, Toto menekankan bahwa pelaku industri dan pemerintah harus memindahkan berbagai pusat data berkapasitas besar ke area kawasan industri yang telah dilengkapi sistem pengolahan air mandiri. Menurutnya, Pulau Jawa tidak bisa terus menjadi satu-satunya tumpuan hub pusat data. 

Fasilitas pusat data berskala besar disarankan mulai digeser ke lokasi seperti Bintan atau Batam karena ketersediaan lahan yang luas serta ketersediaan air tanpa mengganggu kehidupan warga.

Terkini