Kemdiktisaintek Rancang Sistem Cetak Ilmuwan Peraih Nobel

Kamis, 27 Agustus 2026 | 21:36:31 WIB
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) tengah merancang dan memperkuat sistem pembinaan ekosistem penelitian. (Foto: NET)

JAKARTA - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) tengah merancang dan memperkuat sistem pembinaan ekosistem penelitian guna mencetak talenta-talenta periset unggul yang diakui dunia internasional, hingga kelak mampu meraih penghargaan Nobel.

Direktur Bina Talenta Penelitian dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Heri Kuswanto, mengungkapkan bahwa saat ini Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah yang sangat besar terkait jumlah ilmuwan yang diakui secara global.

"Jadi data tahun 2024 hanya ada sekitar 57 dari 283,5 juta penduduk di Indonesia yang masuk di top 2 persen peneliti, top scientist di Indonesia. Ini kalau kami lihat sangat jauh dari beberapa negara tetangga," papar Heri dalam acara Peluncuran Young Researcher Award (YRA) 2026 di Jakarta, Kamis.

Menyikapi ketertinggalan tersebut, Heri menegaskan bahwa talenta-talenta peneliti muda tidak bisa hanya dibiarkan tumbuh sendirinya tanpa intervensi. Oleh karena itu, Kemdiktisaintek membangun sistem pembinaan yang sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 108 Tahun 2024 tentang Desain Besar Manajemen Talenta Nasional (MTN).

"Di situ ada pra-pembibitan, kemudian ada pembibitan, kemudian pengembangan talenta potensial dan penguatan talenta unggul. Jadi semua milestone kami coba kerjakan di situ," ujarnya.

Dalam upaya membentuk ekosistem yang kondusif, Kemdiktisaintek memfokuskan program pada fasilitasi publikasi ilmiah, mengingat publikasi memiliki bobot terbesar dalam pemeringkatan internasional, serta penyediaan insentif riset. 

Heri menilai penyelenggaraan YRA 2026 oleh Perhimpunan Periset Indonesia (PPI) merupakan salah satu wujud nyata pemberian insentif yang diperlukan untuk memotivasi para peneliti muda.

Selain itu, Kemdiktisaintek juga memfasilitasi Science Techno Park (STP) agar hasil penelitian tidak hanya berakhir sebagai tumpukan kertas, melainkan dapat dihilirisasi dan dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat luas.

"Jadi apapun yang kami lakukan, baik terkait dengan riset, kemudian aktivitas di pendidikan tinggi, itu semua harus memberikan dampak," ucap Heri Kuswanto.

Terkini