CNAF Incar Pendanaan Optimal, Penerbitan Obligasi Tak Hanya Andalkan BI Rate

Kamis, 27 Agustus 2026 | 08:59:00 WIB

BISNISINSIGHT.COM — Keputusan Bank Indonesia menahan BI Rate di 5,75% memang memberi angin segar bagi stabilitas perencanaan pendanaan perusahaan pembiayaan. Namun, bagi CNAF, kondisi tersebut bukanlah satu-satunya pemicu untuk segera meluncur ke pasar obligasi.

Presiden Direktur CNAF, Ristiawan Suherman, mengungkapkan bahwa ada sejumlah variabel lain yang lebih menentukan momen penerbitan surat utang. Pergerakan yield Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), tingkat bunga yang harus dibayar (spread), hingga selera investor menjadi pertimbangan utama.

"Keputusan penerbitan obligasi tidak hanya dengan mempertimbangkan BI Rate, tetapi juga memperhatikan kondisi yield di pasar, khususnya pergerakan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), minat investor, dan spread yang dikenakan," ujarnya kepada Kontan, Rabu (26/8/2026).

Biaya Pendanaan Masih Tinggi

Ristiawan menjelaskan, meskipun suku bunga acuan sudah stabil, imbal hasil SRBI yang masih relatif tinggi membuat biaya dana (cost of fund) di pasar obligasi belum sepenuhnya turun. Kondisi ini membuat CNAF memilih untuk bersikap selektif dalam menentukan waktu yang tepat untuk menerbitkan obligasi.

"Selain itu, akan memanfaatkan momentum apabila kondisi pricing dan permintaan investor sudah memberikan tingkat biaya pendanaan yang optimal," tuturnya.

Dengan kata lain, CNAF menunggu saat yang tepat untuk mendapatkan harga yang paling efisien. Perusahaan tidak ingin terburu-buru menerbitkan obligasi jika imbal hasil yang harus dibayarkan kepada investor masih terlalu mahal.

Total Penerbitan Surat Utang Capai Rp 1,1 Triliun

Sepanjang tahun ini, CNAF tercatat telah menerbitkan dua instrumen utang. Pertama, Obligasi Berkelanjutan I CIMB Niaga Auto Finance Tahap I Tahun 2026 senilai Rp 200 miliar. Penerbitan ini merupakan bagian dari target penghimpunan dana jangka panjang perusahaan yang mencapai Rp 5 triliun.

Kedua, pada Maret 2026 lalu, CNAF juga menerbitkan sukuk senilai Rp 900 miliar. Sukuk tersebut merupakan bagian dari Sukuk Wakalah Bi Al-Istitsmar Berkelanjutan I CIMB Niaga Auto Finance Tahap IV Tahun 2026. Total dana yang sudah dikantongi CNAF dari pasar modal tahun ini mencapai Rp 1,1 triliun.

Pasar Obligasi Multifinance Lesu

Kondisi yang dihadapi CNAF ini mencerminkan situasi yang lebih luas di industri multifinance. Data dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menunjukkan, penerbitan surat utang multifinance baru mencapai Rp 14,57 triliun per Juli 2026. Angka ini merosot cukup dalam, yakni 41,8% jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 25,03 triliun.

Ristiawan menambahkan, secara umum pricing obligasi multifinance masih relatif tinggi dan cukup sensitif terhadap kondisi pasar uang. Persepsi investor terhadap arah suku bunga ke depan juga menjadi faktor yang menentukan.

Dengan kondisi tersebut, strategi menunggu momen yang tepat menjadi kunci bagi perusahaan pembiayaan untuk menjaga margin keuntungan di tengah tekanan biaya dana yang masih tinggi.

Terkini