Review Film The Last Sunrise di Prime Video: Visual Menawan, Sayang Kisah Cintanya Terburu-buru

Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:21:00 WIB

BISNISINSIGHT.COM — Tom's Guide memberikan rating 2,5 dari 5 bintang untuk "The Last Sunrise", film yang kini bisa disaksikan di Prime Video. Meski dibalut sinematografi pantai Mallorca yang indah, eksekusi kisah cinta antara Oriah "Ry" Pera (Maia Reficco) dan Julián (Fernando Lindez) dinilai gagal menghadirkan elemen "yearning" atau kerinduan mendalam yang menjadi daya tarik utama genre romantis saat ini.

Kisah yang Berpotensi Mengharukan, tetapi Datar di Eksekusi

Film ini mengikuti perjalanan Ry, seorang mahasiswi dengan penyakit kronis yang menghabiskan musim panas di Mallorca. Di sana, ia bertemu Julián, pria lokal yang membuatnya mempertanyakan kembali keinginannya untuk menjalani hidup. Premis ini sebenarnya punya peluang besar untuk menjadi drama emosional yang kuat, terutama karena Ry menyembunyikan kondisi kesehatannya dari Julián.

Alih-alih mendalami konflik batin tersebut, alur film justru terasa terburu-buru. Hubungan Ry dan Julián berkembang terlalu cepat tanpa ada ruang bagi penonton untuk merasakan ketegangan atau keraguan di antara mereka. Salah satu momen terbaik justru terjadi di awal film, saat adegan di klub malam memperlihatkan Julián menatap Ry berdansa dengan pria lain—sebuah momen yang menjanjikan tetapi tidak pernah dieksplorasi lebih jauh.

Dinamika Ibu-Anak Lebih Menarik daripada Romansa Utama

Menariknya, konflik paling hidup dalam film ini justru datang dari hubungan Ry dengan ibunya, Izzy yang diperankan Eva Longoria. Ketegangan antara keinginan Ry untuk merasakan hidup dan kekhawatiran Izzy terhadap kondisi anaknya terasa autentik. Keduanya sama-sama punya alasan yang bisa dibenarkan, membuat penonton bisa memahami posisi masing-masing karakter.

Sayangnya, konsekuensi dari keputusan Ry berhenti minum obat hampir dilupakan sepanjang film. Peringatan dokter di awal cerita tentang bahaya menghentikan pengobatan baru muncul kembali di akhir film, tepat saat drama mulai memuncak. Akibatnya, urgensi yang seharusnya mewarnai setiap adegan romantis menjadi hilang.

Akting Fernando Lindez dan Eksekusi yang Kurang Meyakinkan

Penampilan Fernando Lindez sebagai pemeran utama pria juga menjadi catatan tersendiri. Interaksinya dengan Maia Reficco kerap terasa kurang memiliki intensitas emosional yang dibutuhkan untuk membangun koneksi dengan penonton. Hal ini semakin memperlemah kredibilitas hubungan cinta yang menjadi inti cerita.

Sinematografi dan Nuansa Musim Panas yang Memanjakan Mata

Di sisi lain, "The Last Sunrise" berhasil menangkap esensi film musim panas dengan sangat baik. Pencahayaan keemasan, lokasi pantai yang memukau, serta musik dan budaya Spanyol yang kental memberikan nilai tambah tersendiri. Secara visual, film ini cukup memanjakan mata dan memberikan nuansa liburan yang hangat.

Kesimpulan: Cocok untuk Penggemar Romantis Klise

"The Last Sunrise" bukanlah film yang buruk, tetapi jelas merupakan peluang yang terlewatkan. Bagi penonton yang mencari tontonan ringan dengan alur bisa ditebak dan sesekali mengharu biru, film ini tetap bisa dinikmati. Namun, bagi mereka yang mencari drama romantis dengan kedalaman emosi dan chemistry kuat, film ini mungkin akan terasa kurang memuaskan.

Terkini