Aida Bidik Pertumbuhan Ekonomi 7% Menuju Indonesia Maju

Rabu, 26 Agustus 2026 | 23:41:32 WIB
Calon tunggal Deputi Gubernur Senior (DGS) Bank Indonesia (BI) Aida S. Budiman. (Foto: NET)

JAKARTA - Calon tunggal Deputi Gubernur Senior (DGS) Bank Indonesia (BI) Aida S. Budiman berpandangan bahwa Indonesia mesti menjaga laju pertumbuhan ekonomi melampaui 7% demi menggapai target status negara berpendapatan tinggi pada tahun 2045 mendatang.

Pandangan tersebut diungkapkan oleh Aida tatkala memaparkan visi serta misinya dalam agenda uji kelayakan atau fit and proper test calon DGS BI di hadapan Komisi XI DPR RI pada hari Rabu, 26 Agustus 2026. 

Di dalam paparannya, ia menyatakan bahwa Indonesia harus mendongkrak produktivitas, pembiayaan, sekaligus kualitas tenaga kerja agar sukses bertransformasi menjadi sebuah negara industri.

Berdasarkan simulasi yang telah ia jalankan, perekonomian Indonesia wajib menorehkan pertumbuhan di atas 7% lewat skenario yang dinamakannya sebagai skenario super optimis. Hal tersebut krusial agar tingkat pendapatan per kapita nasional mampu mencapai target yang dipatok pada tahun 2045.

"Kalau dalam simulasi yang kami lakukan itu kami sebut dengan skenario super optimis, di mana kita harus bisa tumbuh di atas 7% untuk bisa menuju kepada pendapatan per kapita di atas Rp21.000 nanti pada saat 2045," ujar Aida.

Guna mewujudkan target tersebut, ia menilai bahwa strategi hilirisasi dan industrialisasi wajib terus diperkuat secara berkesinambungan. Meskipun demikian, arah hilirisasi tidak boleh hanya berfokus pada sektor industri yang padat modal saja, melainkan juga harus menyasar industri yang memiliki daya serap tenaga kerja yang tinggi. 

Lebih lanjut, ia menganggap bahwa pengembangan sektor industri pun perlu terintegrasi secara erat dengan sektor jasa supaya seluruh lini ekonomi sanggup bertumbuh secara serentak.

Menghadapi dinamika global yang kian rumit, ia menyebutkan bahwa Indonesia juga berkepentingan untuk memperkokoh fondasi pertumbuhan ekonomi domestik. Penguatan struktur ekonomi tersebut mencakup penjagaan stabilitas makro, penciptaan nilai tambah lewat industrialisasi, hingga pelaksanaan pemerataan yang berkeadilan.

"Dari kondisi itu semua, kita harus memastikan bagaimana domestik itu mempunyai penguatan struktur pertumbuhan ekonomi yang baik. Di situ kita harus memastikan stabilitas, nilai tambah atau tadi yang saya sebut dengan industrialisasi dan juga pemerataan," jelasnya.

Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap agenda besar tersebut, Aida mengusung visi agar Bank Indonesia bertransformasi menjadi bank sentral terdepan di kawasan negara-negara berkembang sekaligus menyumbangkan dampak positif bagi perekonomian nasional. 

Ia pun menawarkan format kebijakan bank sentral yang bersifat adaptif, inovatif, serta akseleratif.

Menurutnya, pihak BI dituntut agar senantiasa gesit menyesuaikan bauran kebijakan dengan situasi ekonomi yang bergerak cepat serta penuh ketidakpastian. Di samping itu, inovasi kebijakan juga diperlukan agar otoritas moneter mampu mengantisipasi berbagai tantangan bahkan sebelum risiko dampaknya membesar.

Demi mengeksekusi visi strategis itu, ia telah merumuskan delapan pokok respons kebijakan yang menempatkan penguatan sinergi antara kebijakan nasional dan kebijakan BI berbasis komunikasi efektif sebagai prioritas utamanya. 

Lingkup sinergi ini meliputi koordinasi kebijakan fiskal serta moneter, penjagaan stabilitas harga, perluasan pembiayaan, penguatan struktur ekonomi, hingga upaya membangun persepsi publik yang positif terhadap arah kebijakan ekonomi tanah air.

Ia menekankan bahwa persepsi yang positif memiliki urgensi tersendiri, sebab pemahaman mendalam dari para pelaku pasar mengenai kebijakan pemerintah maupun bank sentral diyakini mampu mendongkrak tingkat kepercayaan. Pada gilirannya, kepercayaan tersebut akan memicu masuknya arus modal asing ke dalam negeri.

"Bila pasar pelaku ekonomi memahami apa yang dilakukan oleh Indonesia seperti yang kita laksanakan sekarang, maka mereka akan meminjamkan kepercayaan tersebut dengan mengalirkan modal dan kemudian ini menjadi modal kita untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi," pungkasnya.

Terkini