JAKARTA - Langkah korporasi PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) mencaplok Cycle & Carriage lewat entitas anaknya, CCHPL Holdings, diproyeksikan menyumbang tambahan perolehan laba secara konsolidasi sejumlah US$150 sampai dengan US$200 juta tiap tahunnya.
Merujuk Stockbit Investment Research, pihak pengelola TPIA menyampaikan bahwa agenda pembelian saham Cycle & Carriage ini diarahkan untuk melakukan diversifikasi agar mampu meredam fluktuasi keuntungan yang selama ini bergantung pada dinamika sektor petrokimia.
"TPIA memproyeksikan segmen bisnis mobilitas —yang mencakup jaringan SPBU Esso serta Cycle & Carriage—berpotensi memberikan tambahan laba sekitar US$150 juta—200 juta per tahun," tulis analis Stockbit dalam risetnya, dikutip pada Minggu (23/8/2026).
Sementara itu, TPIA via CCHPL Holdings telah meneken kesepakatan bersyarat guna mengambil alih lini usaha Cycle & Carriage di kawasan Singapura dan Malaysia milik Jardine Cycle & Carriage dengan taksiran harga transaksi mencapai US$207 juta, ditambah kompensasi bersyarat setinggi-tingginya US$23 juta.
Perusahaan juga bakal menanggung utang Jardine senilai US$260 juta kepada anak usaha Cycle & Carriage. Perlu diketahui, Jardine Cycle & Carriage sekaligus memegang kendali atas PT Astra International Tbk. (ASII) dengan porsi kepemilikan sebesar 50,1%.
Lewat pernyataan resmi, TPIA menerangkan bahwa penuntasan transaksi ini masih menantikan lampu hijau dari pihak OEM serta pemenuhan klausul umum lainnya. Proses pengambilalihan tersebut dipatok rampung selambat-lambatnya pada 28 Februari 2027 dengan sokongan pendanaan dari Mizuno Bank.
Lebih lanjut, Cycle & Carriage mengantongi total aset bersih berwujud sekitar US$292 juta, melampaui rancangan nilai pembelian TPIA, sehingga selisih angka tersebut bakal dicatat sebagai surplus pada laporan laba rugi perusahaan.
Sebagai catatan, sekitar 90% dari nilai buku Cycle & Carriage merupakan tagihan dari anak usaha Cycle & Carriage kepada Jardine yang dialihkan kepada TPIA saat transaksi rampung, sehingga besaran keuntungan tersebut masih bergantung pada penyesuaian akuntansi final kepada laporan keuangan TPIA.
"Manajemen TPIA menyebut akan mempertahankan manajemen Cycle & Carriage saat ini sekaligus melakukan efisiensi operasional melalui pemusatan layanan pendukung.
Ke depan, TPIA juga berencana memanfaatkan ekosistem energi perseroan di Singapura, seperti jaringan SPBU Esso, untuk menjangkau pelanggan dan melakukan cross–selling," tulis analis.
Cycle & Carriage beroperasi sebagai penyedia diler mobil multi-merek beserta fasilitas purnajual di wilayah Singapura dan Malaysia yang menaungi lebih dari 13 merk, meliputi Mercedes-Benz, Mitsubishi, sampai bus listrik berbendera Zhongtong.
Sepanjang tahun 2025, Cycle & Carriage membukukan angka penjualan kendaraan penumpang anyar di Singapura di kisaran 6.500 unit, dengan penguasaan pangsa pasar mencapai 12%.
Entitas tersebut memberikan sokongan laba bersih sebesar US$48 juta kepada pihak Jardine sepanjang 2025, kendati sumbangannya mengalami koreksi 25% secara tahunan menjadi US$12 juta selama semester I/2026, jika dikomparasikan dengan periode semester I/2025 yang berada di angka US$16 juta.
Penyusutan ini sejalan dengan melemahnya angka penjualan mobil baru sebesar 20% serta mobil bekas sebesar 16% dalam basis tahunan.
Stockbit mencatat, aksi korporasi ini selaras dengan agenda ekspansi yang diutarakan manajemen TPIA pada sesi paparan kinerja semester I/2026, manakala perusahaan memetakan penanaman modal strategis melampaui US$1 miliar demi durasi lima tahun mendatang, yang ditopang oleh posisi kas senilai US$3,9 miliar per akhir Juni 2026.
Para pengamat menilai bahwa transaksi ini tergolong bernilai tambah serta mendatangkan pengaruh positif bagi perusahaan lantaran langsung mendongkrak perolehan laba bersih dari sektor usaha yang telah berjalan dengan tingkat valuasi yang terbilang terjangkau.
"Mengasumsikan laba bersih Cycle & Carriage di level US$24 juta [2026 annualized] hingga US$48 juta [realisasi 2025], nilai transaksi US$207 juta tersebut mengimplikasikan valuasi sekitar 8,6 kali P/E 2026 annualized atau sekitar 4,3 kali P/E 2025," tandas analis.
Apabila meninjau performa TPIA sepanjang paruh pertama tahun 2026, perseroan tengah menghadapi tekanan akibat lonjakan nominal bahan baku.
Perusahaan sejatinya mencatatkan kenaikan omzet sebesar 83,59% secara tahunan menjadi US$5,25 miliar. Akan tetapi, beriringan dengan pembengkakan beban bahan baku sebesar 60,50% secara tahunan menyentuh US$4,03 miliar, perolehan laba bersih perseroan merosot tajam 77,53% dari posisi US$1,26 miliar menjadi US$283,24 juta.
Porsi pemasukan perusahaan pada semester I/2026 masih bertumpu pada niaga energi dengan sumbangsihan sebesar 62,21%, diikuti sektor niaga bahan kimia sejumlah 36,59%, serta perolehan infrastruktur di angka 1,21%.
Masing-masing lini usaha tersebut mengalami pertumbuhan berturut-turut sebesar 184,44%, 16,01%, dan 13,95% secara tahunan.