Molinas Diproyeksi Ciptakan 215 Ribu Kerja & Ekonomi Rp150 Triliun

Minggu, 23 Agustus 2026 | 17:12:31 WIB
Presiden Prabowo Subianto meninjau peluncuran motor listrik nasional [FOTO: NET].

JAKARTA — Pemerintah memproyeksikan Program Motor Listrik Nasional (Molinas) sanggup menghadirkan nilai ekonomi mencapai Rp150 triliun pada kurun 2026–2031. Estimasi tersebut melingkupi pembenahan ekosistem motor listrik secara terpadu, mulai dari lini industri sampai dengan penetrasi pasar.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengutarakan bahwa Molinas tidak cuma didesain demi mendongkrak tren pemakaian kendaraan listrik, melainkan turut menumbuhkan mata rantai industri dalam negeri yang meliputi manufaktur, rantai pasok komponen dan baterai, skema distribusi, pembiayaan, stasiun pengisian daya, hingga layanan purnajual.

Skema ini pun dipatok mampu memberikan multiplier effect bagi penyerapan tenaga kerja. Pemerintah menargetkan pengembangan ekosistem dan industri Molinas mampu membuka 215.000 lapangan kerja baru di ranah original equipment manufacturer (OEM), industri komponen, pabrik baterai, hingga penyediaan sarana pengisian daya.

"Jadi program motor listrik manfaatnya banyak sekali, selain penghematan subsidi bahan bakar, juga menciptakan lapangan kerja," ujar Susiwijono di Jakarta, dikutip Minggu (23/8/2026).

Mengenai daya tampung produksi, pemerintah mencatat kemampuan awal ekosistem Molinas ada pada kisaran 100.000 unit per tahun. Angka tersebut ditargetkan melonjak hingga 1 juta unit per tahun pada 2028 seiring upaya membesarkan skala industri kendaraan roda dua listrik nasional.

Di samping pembenahan kapasitas produksi, Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) turut dijadikan kriteria utama pengembangan Molinas. Dari data pemerintah, capaian TKDN saat ini berada di kisaran 40% dan diproyeksikan merangkak naik hingga 60%.

Pengembangan motor listrik nasional juga diproyeksikan memberi dampak positif terhadap ketahanan fiskal. Pemerintah menaksir transisi pemakaian motor listrik sanggup menekan pengeluaran subsidi BBM sekitar Rp82,2 triliun pada rentang 2027–2037, dengan tolok ukur sebanyak 11 juta unit motor listrik beroperasi di jalanan pada 2037.

Dari sudut pandang perdagangan, ekspansi Molinas diharapkan memperkokoh neraca perdagangan melalui pengurangan ketergantungan pada impor minyak mentah. Potensi dampak substitusi impor minyak bumi tersebut diperkirakan menyentuh angka Rp45 triliun.

Susiwijono menilai bahwa pembentukan ekosistem kendaraan listrik patut dipandang secara komprehensif, sebab nilai tambahnya tak sekadar berasal dari transaksi jual beli unit. Rangkaian aktivitas manufaktur, penggunaan komponen lokal, penyediaan sarana pendukung, saluran pembiayaan, hingga pergerakan mobilitas masyarakat dan barang menjadi deretan dampak ekonomi yang hendak didorong oleh pemerintah.

Melalui rincian sasaran tersebut, Molinas diposisikan bukan sekadar agenda adopsi kendaraan ramah lingkungan, melainkan sebagai ikhtiar membangun kekuatan industri nasional dari hulu sampai hilir. Kendati demikian, keberhasilan proyek besar ini sangat bergantung pada kapabilitas pemerintah dan pelaku usaha dalam memacu volume produksi, nilai TKDN, pemenuhan infrastruktur, serta daya serap pasar di dalam negeri.

Terkini