Perkuat Hubungan Bilateral, Indonesia-China Tambah Kerja Sama

Minggu, 23 Agustus 2026 | 16:53:01 WIB
ILUSTRASI. Menhan Sjafrie Sjamsoeddin terima kunjungan Menhan China [FOTO: NET].

JAKARTA — China dan Indonesia sepakat untuk memperkokoh hubungan bilateral di sektor pertahanan serta memperluas kolaborasi pada bidang mineral, energi, teknologi, dan transportasi. Kesepakatan ini dicapai dalam agenda kunjungan Menteri Luar Negeri China Wang Yi bersama Menteri Pertahanan China Dong Jun ke Jakarta pada Jumat (21/8/2026).

Langkah penguatan ini berlangsung di tengah upaya Indonesia menjaga keseimbangan sikap politik luar negeri terhadap China dan Amerika Serikat (AS) saat ketegangan ekonomi serta geopolitik regional—termasuk situasi di Laut China Selatan—meningkat.

Wang Yi menyampaikan bahwa kedua negara harus memanfaatkan momen ini untuk meningkatkan hubungan bilateral, mengingat kondisi internasional saat ini yang kian kompleks dan saling terikat.

"Situasi internasional saat ini saling terkait dan kompleks. Unilateralisme dan tindakan hegemonik memberikan dampak serius terhadap kerja sama dan stabilitas global," kata Wang dalam pembukaan kunjungannya ke Jakarta.

Ia menuturkan, pihak China secara aktif berupaya mendorong kemitraan dengan Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi.

Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak menegaskan komitmen untuk memperluas hubungan di berbagai lini, mulai dari kecerdasan buatan (AI), pertahanan, transportasi kereta api, energi hijau, satelit, hingga perikanan.

Presiden Indonesia Prabowo Subianto secara konsisten menekankan pentingnya garis politik luar negeri "bebas dan aktif". Pemerintah Indonesia terus berikhtiar menjaga hubungan harmonis dengan seluruh negara, termasuk China dan AS yang merupakan mitra dagang utama sekaligus rekan kerja sama pertahanan yang terus berkembang.

Wang menambahkan, kedua negara bersepakat untuk saling mendukung kepentingan inti serta memperkuat sinergi di bidang energi dan sumber daya mineral. Sebagai negara berkekuatan ekonomi sekitar US$1,4 triliun dan anggota G20, Indonesia kaya akan hasil bumi seperti nikel, timah, tembaga, emas, dan bauksit, serta menjadi eksportir terbesar minyak sawit dan batu bara termal di mana China merupakan salah satu pembeli terutamanya.

Meskipun China mendominasi investasi pengolahan nikel di Tanah Air, beberapa penyesuaian kebijakan Indonesia—seperti aturan ekspor dan pengetatan kuota tambang—membuat sejumlah perusahaan mulai mencari alternatif pasokan di negara lain.

Penguatan Kerja Sama Pertahanan

Menteri Pertahanan China Dong Jun disambut melalui upacara kehormatan militer sebelum menggelar dialog bersama Menteri Pertahanan Indonesia Sjafrie Sjamsoeddin.

Dong menilai prospek kerja sama militer kedua belah pihak sangat luas serta semakin berkualitas dan efektif.

"Prospek kerja sama antara kedua militer sangat luas, dan kerja sama tersebut menjadi semakin berkualitas dan efektif," ujar Dong.

Sjafrie mengutarakan bahwa kedua negara bakal meningkatkan agenda pertahanan bersama melalui latihan militer hingga pertukaran perwira. Selain itu, dipaparkan pula rencana pembangunan pabrik amunisi bersama di Indonesia yang berpotensi memproduksi amunisi, rudal, dan roket, dilengkapi peluang transfer teknologi dari China. Fasilitas ini ditargetkan beroperasi pada 2027 sebagai langkah progresif memperkuat kapasitas pertahanan nasional.

Langkah ini mendapat perhatian khusus setelah pekan sebelumnya kedua negara mengelar latihan gabungan angkatan laut di wilayah timur Taiwan—sebuah kegiatan yang memicu reaksi dari Taiwan. Namun, TNI Angkatan Laut menegaskan bahwa latihan tersebut adalah agenda rutin yang juga kerap dilakukan bersama negara lain seperti Jepang dan AS.

Analis pertahanan Curie Maharani menilai Indonesia memandang latihan itu sebagai rutinitas biasa, meskipun lokasi tersebut memberi ruang bagi China untuk menyampaikan pesan politik. Menurutnya, Indonesia memetik pelajaran berharga mengenai bagaimana negara-negara besar memanfaatkan diplomasi pertahanan untuk memperluas pengaruh.

Terkait Laut China Selatan, Jakarta tetap mengambil sikap terukur dan tidak menempatkan diri sebagai pihak dalam sengketa wilayah perairan yang melibatkan China dengan Filipina, Malaysia, dan Vietnam.

China Tetap Investor Utama

Di luar ranah militer, sektor ekonomi tetap menjadi pijakan penting. Data menunjukkan investasi asing langsung (FDI) China di Indonesia menyentuh angka US$ 3,9 miliar pada semester I 2026.

Meski demikian, dinamika investasi ini tidak lepas dari tantangan. Pada Mei 2026, Kamar Dagang China di Indonesia sempat menyampaikan aspirasi agar pemerintah menerapkan regulasi yang lebih fleksibel terkait kenaikan pajak, formula harga nikel, hingga penegakan aturan.

Sejumlah investor besar asal China di Indonesia antara lain Contemporary Amperex Technology (CATL) dan Tsingshan Group. Pada akhirnya, penguatan kerja sama bilateral ini mencakup cakupan strategis yang luas mulai dari pertahanan, mineral, energi, hingga teknologi.

Terkini