Pemerintah Segera Bangun Huntara Warga Terdampak Gempa NTT Rusak Berat

Minggu, 23 Agustus 2026 | 14:22:01 WIB
Otoritas negara bersiap mendirikan hunian sementara (Huntara) untuk masyarakat di kawasan Nusa Tenggara Timur (NTT). (Foto: NET)

JAKARTA  - Otoritas negara bersiap mendirikan hunian sementara (Huntara) untuk masyarakat di kawasan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang kediamannya menderita kehancuran parah imbas guncangan gempa bermagnitudo 7,7.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, serta Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyebutkan bahwa sekarang aparat di area bencana tengah mengeksekusi pencatatan tempat tinggal hancur menurut golongannya, berawal dari tingkat ringan, sedang, hingga parah.

"Khusus untuk rumah dengan kategori rusak berat, data tersebut akan menjadi salah satu dasar dalam menentukan kebutuhan dukungan hunian sementara [huntara] maupun dana tunggu hunian [DTH] bagi masyarakat terdampak," paparnya lewat pernyataan resmi, Minggu (23/8/2026).

Berdasarkan laporan yang disampaikan sampai hari Sabtu (22/8/2026), terdata sejumlah 53.971 unit kediaman menderita kehancuran. Dari total angka itu, sebanyak 19.006 unit tergolong rusak parah, 11.777 unit rusak menengah, serta 23.188 unit rusak kecil.

Kehancuran tersebut terdistribusi di wilayah Kabupaten Nagekeo sejumlah 4.829 unit, yang mencakup 1.702 rusak parah, 560 rusak menengah, serta 2.567 rusak kecil. Di Kabupaten Ende terdata 3.953 unit, melalui rincian 763 rusak parah, 870 rusak menengah, dan 2.320 rusak ringan.

Berikutnya, di Kabupaten Manggarai tercatat sejumlah 7.045 unit, merangkum 3.582 rusak parah, 2.113 rusak menengah, serta 1.350 rusak kecil. Untuk Kabupaten Manggarai Timur ada sebanyak 17.039 unit, yang meliputi 6.713 rusak parah, 4.496 rusak menengah, dan 5.830 rusak ringan.

ARTIKEL TERKAIT BNPB Mencatat 53.971 Kediaman Hancur Imbas Guncangan 7,7 Magnitudo di NTT Guncangan Magnitudo 5,2 Kembali Melanda Manggarai, Total Insiden Lanjutan di NTT Tembus 5.012 Kementerian PU Mempercepat Restorasi Sistem Penyaluran Air Jernih di NTT

Pada Kabupaten Manggarai Barat terdata 9.402 unit bangunan hancur, dengan rincian 3.334 rusak parah, 1.438 rusak menengah, serta 4.630 rusak ringan. Untuk Kabupaten Ngada ada sebanyak 8.129 unit, terdiri dari 1.973 rusak parah, 1.678 rusak sedang, dan 4.478 rusak ringan.

Di sisi lain, Kabupaten Sikka mencatatkan angka sejumlah 3.574 unit, melalui uraian 939 rusak parah, 622 rusak sedang, serta 2.013 rusak ringan.

"Saat ini, data sementara by name by address (BNBA) hingga tingkat desa telah diperoleh untuk Kabupaten Manggarai Barat, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka. Sementara untuk Kabupaten Manggarai, proses penginputan masih berlangsung dan ditargetkan dapat diperoleh dalam satu hingga dua hari ke depan," jelasnya.

Terkait khusus pencatatan pada Kabupaten Nagekeo, prosedur validasi sudah berlangsung selama dua hari melalui elemen aparatur wilayah dengan memakai instrumen pencatatan milik BNPB.

Berton mengemukakan apabila verifikasi telah dikonfirmasi sah, maka pimpinan daerah wajib mengesahkan informasi itu. Demikian juga sebaliknya, data yang belum dinyatakan valid bakal diverifikasi ulang.

Ia memandang pencatatan tempat tinggal hancur amatlah krusial sebab berdampak pada ketetapan terkait butuh atau tidaknya penambahan personel yang diturunkan ke lapangan guna melaksanakan verifikasi serta validasi.

"Untuk memperkuat kapasitas pemerintah daerah dalam proses tersebut, BNPB merencanakan kegiatan bimbingan teknis [bimtek] pada Selasa, 25 Agustus 2026. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan proses verifikasi dan validasi kerusakan rumah di masing-masing kabupaten terdampak," pungkas Berton.

Terkini