Batas Potongan Ojol 8%, GOTO Evaluasi Strategi Margin GoRide

Kamis, 20 Agustus 2026 | 00:22:31 WIB
Pengemudi ojek online (ojol) [FOTO: NET].

JAKARTA — PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) dihadapkan pada tantangan dalam memelihara margin lini bisnis transportasi roda dua GoRide seusai diberlakukannya batasan pemotongan sebesar 8%. Kebijakan ini membuat unit economics GoRide saat ini masih tertahan di zona minus.

Kendati begitu, GOTO menilai pelaksanaan aturan ini sejauh ini berjalan mulus dengan jumlah konsumen, mitra pengemudi, serta angka transaksi yang tetap terjaga stabil.

Direktur Utama GOTO Hans Patuwo menuturkan perseroan bakal mengkaji sejumlah skema strategi demi membenahi unit economics GoRide setelah penerapan aturan potongan 8% tersebut.

“Unit economics kami saat ini masih negatif dan kami masih menunggu situasi menjadi lebih stabil. Ke depannya, kami akan melakukan berbagai penyesuaian untuk meningkatkan unit economics,” ujar Hans.

Berdasarkan penjelasan Hans, GOTO masih menyimpan beberapa opsi tuas untuk memperbaiki unit economics pada bisnis transportasi roda dua. Langkah-langkah tersebut mencakup aspek penyesuaian harga, biaya platform, hingga waktu pemberlakuan tarif. GOTO pun bakal mengevaluasi peluang efisiensi biaya di seluruh segmen On Demand Service (ODS) demi menjaga kinerja usahanya.

Tak Otomatis Tekan Margin Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus berpandangan bahwa besaran penyusutan margin GOTO tidak bisa serta-merta dihitung sekadar dari perubahan skema komisi. 

Sebab, perubahan potongan komisi dari yang sebelumnya di kisaran 20% menjadi 8% bukan satu-satunya faktor penentu pendapatan mitra pengemudi maupun struktur ekonomi layanan transportasi daring.

“Karena GOTO sebelumnya dapat menentukan tarif berdasarkan supply and demand. Hal ini mungkin akan menyulitkan GOTO untuk mendapatkan kesempatan margin yang lebih besar ke depannya,” ucap Nico, Rabu (19/8/2026).

Menurut Nico, efek regulasi tersebut terhadap tingkat profitabilitas GOTO masih perlu mencermati formula tarif beserta mekanisme pembatasan komisi yang kelak ditetapkan pemerintah. I

a menilai pemangkasan komisi dari semula sekitar 20% menjadi 8% belum tentu mengindikasikan seberapa dalam tekanan yang akan dirasakan GOTO. Pasalnya, berlandaskan masukan dari mitra pengemudi, pergeseran komisi itu bukan satu-satunya elemen penentu penghasilan mereka lantaran masih ada bermacam komponen biaya lain yang mesti ditanggung.

Dengan demikian, beban tekanan terhadap margin GOTO bakal sangat bergantung pada kelihaian perseroan mempertahankan pendapatan di tengah pergeseran skema tersebut. Nico menambahkan, jikalau GOTO sanggup mempertahankan pendapatan secara penuh meski skema komisi berubah, tekanan terhadap profitabilitas dapat lebih terkontrol.

Pilihan GOTO Di sisi lain, GOTO mengantongi sejumlah opsi untuk merespons perubahan struktur komisi ini. Hans sebelumnya menyampaikan bahwa perseroan dapat mengoperasikan beragam tuas, mulai dari penyesuaian harga, biaya platform, hingga waktu penerapan tarif.

Namun, setiap opsi membawa konsekuensi tersendiri bagi ekosistem GOTO. Penyesuaian tarif misalnya, berpotensi menaikkan pendapatan per transaksi, tetapi di lain sisi berisiko memengaruhi tingkat permintaan konsumen. Sementara itu, langkah efisiensi biaya dapat membantu memelihara margin tanpa harus langsung membebankan kenaikan biaya kepada pengguna.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi mengungkapkan GOTO pada akhirnya dihadapkan pada pilihan untuk menyerap tekanan margin atau mengalihkan sebagian beban biaya tersebut kepada merchant maupun konsumen.

“Kalau komisi food dan delivery dibatasi, GOTO menghadapi pilihan untuk menyerap tekanan margin atau menaikkan biaya kepada merchant maupun konsumen yang berpotensi menekan volume,” ujarnya.

Walaupun pernyataan tersebut merujuk pada potensi pembatasan komisi di layanan food delivery dan pengantaran logistik, skenario serupa menggambarkan dilema yang dihadapi GOTO sewaktu ruang gerak untuk mengatur tarif dan komisi kian terbatas.

Risiko Meluas ke GoFood dan GoSend Potensi risiko terhadap margin GOTO juga tak cuma bersumber dari bisnis transportasi roda dua. Wafi membeberkan bahwa regulasi tarif layanan pengiriman barang dan makanan berada di bawah naungan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), berbeda dari tarif angkutan penumpang yang dikelola Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Maka dari itu, skema pembagian 92:8 yang berlaku di layanan transportasi roda dua belum tentu diterapkan sama pada GoFood maupun GoSend.

“Tarif barang dan makanan diatur Komdigi, berbeda dengan Kemenhub yang mengatur tarif penumpang. Jadi, skema 92:8 belum tentu diterapkan sama ke GoFood dan GoSend,” kata Wafi, Rabu (19/8/2026).

Menurut pandangannya, andaikan pemerintah kelak memberlakukan pembatasan potongan 8% secara rata (flat) untuk layanan makanan dan pengiriman barang, dampaknya bagi GOTO akan jauh lebih material. Wafi menilai pembatasan komisi pada layanan food delivery dan pengiriman barang juga berisiko mendatangkan tekanan pada profitabilitas GOTO dalam dua kuartal secara beruntun.

Atas kondisi tersebut, para investor masih harus menanti bentuk akhir dari regulasi guna mengkalkulasi seberapa jauh perubahan struktur komisi bakal memengaruhi margin GOTO.

GoPay Jadi Penopang Kendati lini bisnis ODS mendapat tekanan dari pergeseran regulasi, prospek GOTO tidak sepenuhnya bergantung pada sektor mobilitas dan pesan-antar makanan. Nico menilai perseroan memiliki ekosistem yang luas serta diversifikasi bisnis yang sanggup menjadi benteng penopang kinerja saat salah satu lini bisnis menghadapi tekanan aturan.

Laju pertumbuhan lini keuangan GOTO lewat GoPay terus menunjukkan tren positif, terlihat dari peningkatan total volume transaksi. Menurut Nico, dinamika ini membuktikan bahwa bisnis GOTO di luar sektor ODS masih bertumbuh dan memberikan kontribusi nyata bagi kinerja perseroan.

“GOTO tidak hanya mengandalkan dua lini bisnis saja saat ini. Mereka mengandalkan ekosistem GOTO yang mereka miliki. Selain itu, mereka juga memiliki diversifikasi bisnis yang kuat yang dapat membantu menjaga kinerja GOTO,” tuturnya.

Dengan demikian, besarnya tekanan pada margin GOTO akibat batasan potongan 8% akan sangat ditentukan oleh kecakapan perseroan dalam merestrukturisasi biaya, menjaga nilai pendapatan per transaksi, serta mempertahankan volume transaksi. 

Di tengah proses finalisasi regulasi ojol, ruang bagi GOTO untuk mengoptimalkan unit economics menjadi faktor krusial yang menentukan besarnya dampak kebijakan tersebut terhadap profitabilitas perseroan.

Terkini