Meski Ekonomi Sedang Sulit, Mengapa Kopi dan Matcha Tetap Banyak Dicari?

Rabu, 19 Agustus 2026 | 06:51:32 WIB
Walau harus selektif saat ekonomi sulit, konsumen tetap mencari kesenangan kecil seperti kopi dan matcha demi kenyamanan diri dan pengalaman yang bermakna.

JAKARTA - Saat diwajibkan memangkas anggaran, pembeli mungkin berpikir berulang kali sebelum membeli komoditas bernilai tinggi. Walau begitu, bukan berarti seluruh hasrat untuk mendapatkan sesuatu yang menyenangkan ikut sirna. 

Kopi, cokelat, teh hijau, sampai pakan premium untuk hewan kesayangan bisa terus menjadi opsi ketika masyarakat mulai lebih cermat mengatur anggaran. 

Komoditas tersebut menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar kegunaan, dimulai dari rasa tenang, pengalaman, sampai peluang untuk memberi apresiasi kepada diri sendiri. 

Pengajar Fakultas Bisnis Universitas Multimedia Nusantara, Trihadi Pudiawan Erhan, S.E., M.S.E., Ph.D, menyatakan, situasi keuangan yang terbatas tidak langsung menghilangkan hasrat pelanggan untuk menikmati komoditas yang dianggap spesial. 

"Kemewahan tidak harus hadir dalam keseluruhan gaya hidup, tetapi dapat dinikmati melalui kategori tertentu yang dianggap bermakna bagi dirinya," kata Trihadi, Selasa (28/7/2026). 

Menurutnya, pembeli dapat terus menikmati komoditas tertentu yang dianggap berharga, meskipun pada waktu yang sama harus lebih jeli dalam mengeluarkan uang.

Tetap mencari "kemewahan kecil" Trihadi menerangkan, pelanggan kelas menengah dan kelas menengah yang sedang berkembang memiliki ruang anggaran yang cukup terbatas sehingga harus waspada dalam menetapkan prioritas belanja. 

Walau begitu, batasan pendapatan tidak melenyapkan hasrat untuk menikmati pengalaman eksklusif, mengikuti tren, atau memberikan apresiasi kepada diri sendiri. Situasi tersebut membuat pembeli cenderung memilih kategori tertentu yang dianggap paling berarti bagi mereka. 

"Dia mungkin tidak akan membeli tas seharga jutaan atau puluhan juta rupiah, tetapi bersedia membayar lebih untuk parfum, jam tangan, atau kolektibel yang terasa istimewa dan relevan dengan identitasnya," ujar Trihadi. 

Hal serupa bisa terjadi pada komoditas konsumsi sehari-hari. Pembeli mungkin mengurangi anggaran di sejumlah pos, tetapi terus mempertahankan transaksi yang memberikan rasa bahagia atau pengalaman tertentu. Dalam konteks inilah, konsumsi tidak senantiasa hanya soal memenuhi kebutuhan pokok.

Kopi jadi kawan saat letih dan penat Fenomena tersebut juga tampak dari pengalaman Aji, pemilik usaha sangrai kopi di Kota Klaten. Menurut Aji, kopi kini tidak hanya dilihat sebagai minuman, melainkan sudah menjadi bagian dari tren dan gaya hidup yang bagi sebagian pembeli terasa seperti keperluan harian. 

Ia mengatakan, sejumlah pelanggannya bahkan memandang kopi sebagai kawan ketika sedang letih atau penat.

"Kalau menurut saya, kopi saat ini adalah tren dan gaya hidup yang sudah menjadi sebuah kebutuhan harian yang perlu didapat." 

"Bahkan beberapa customer saya pernah bercerita bahwa kopi sudah menjadi sebuah kebutuhan karena bisa menjadi teman lelah atau teman penat dibandingkan makanan yang hanya sekadar yang penting kenyang," kata Aji, Selasa (28/7/2026). 

Pengalaman tersebut membuktikan bahwa alasan seseorang membeli kopi tidak senantiasa berhenti pada keperluan untuk minum. Ada pengalaman dan nilai emosional yang ikut melekat dalam konsumsi tersebut. Bagi sebagian pelanggan, meneguk kopi bisa menjadi bagian dari aktivitas rutin sekaligus cara untuk menikmati waktu.

Pembeli terus mencari pengalaman eksklusif Aji juga melihat adanya pembeli yang mencari sajian dengan pengalaman berbeda, meskipun harganya terus harus berada dalam batasan yang mereka anggap masuk akal. 

Di usaha sangrai miliknya, ia mengatakan, pelanggan sering meminta sejumlah sajian yang sebenarnya belum masuk dalam daftar menu. Beberapa di antaranya adalah dirty latte, Mont Blanc, dan ceremonial matcha. 

"Di sini bisa pesan menu yang tidak ada, tapi tentunya dengan harga yang membuat pengalaman minum berbeda juga. Contohnya ada dirty latte, Mont Blanc, ceremonial matcha," ujar Aji. 

Menurutnya, pengalaman yang ditawarkan menjadi bagian krusial untuk membuat pelanggan terus datang. Pemilik bisnis kopi, tutur Aji, tidak hanya dituntut memahami komoditas yang dijual, tetapi juga cakap menjelaskan kepada pelanggan mengenai rasa dan pengalaman yang akan mereka terima. 

Pelayanan pun menjadi bagian dari pengalaman tersebut. Aji mengatakan, tempat nongkrong diharapkan bisa menjadi layaknya "rumah kedua" bagi pelanggan, tempat mereka bisa kembali, bercerita, dan menikmati waktu.

Lebih cermat, bukan berarti berhenti membeli Di sisi lain, situasi industri kopi yang kian kompetitif membuat pengelola usaha menghadapi tantangan tersendiri. Aji mengatakan, perkembangan industri kopi turut diikuti dengan munculnya sejumlah pelaku usaha sangrai baru. 

Situasi tersebut membuatnya harus menjaga konsistensi komoditas sekaligus mempertahankan harga yang terus bersahabat. Ia juga melihat adanya perubahan dari sisi pelaku bisnis kopi yang berupaya menekan biaya operasional di tengah persaingan untuk mendapatkan pelanggan.

Menurut pengamatannya, situasi tersebut turut memengaruhi pilihan bahan baku. 

"Semakin ke sini pelanggan justru memilih bahan roasted beans yang lebih terjangkau tanpa melihat kualitas," kata Aji. 

Walau begitu, ia mengatakan volume pelanggan di beberapa lokasi atau wilayah yang dilayaninya masih mengalami sedikit peningkatan. Hal ini membuktikan bahwa di tengah persaingan yang kian ketat, pembeli tetap memiliki ruang untuk membeli komoditas kopi, meskipun opsi dan pertimbangannya bisa berganti.

"Kemewahan" tidak senantiasa berarti mahal Trihadi mengatakan, perubahan cara pembeli memandang kemewahan menjadi salah satu hal yang membuat kategori tertentu terus menarik. 

Menurutnya, kemewahan sekarang tidak senantiasa harus dihubungkan dengan komoditas dengan harga sangat tinggi atau hanya bisa dimiliki kelompok tertentu. Pembeli juga bisa memaknainya lewat kualitas, desain, pengalaman, cerita, dan kemampuan sebuah komoditas dalam mengekspresikan jati diri mereka. 

"Affordable luxury bukan sekadar membuat kemewahan menjadi lebih murah, melainkan menunjukkan bahwa konsumen kini mendefinisikan kemewahan secara lebih personal, selektif, dan berbasis pada nilai yang ingin mereka rasakan," ujar Trihadi. 

Pada akhirnya, ketika harus lebih waspada mengatur anggaran, pembeli tidak senantiasa melenyapkan seluruh bentuk kesenangan dari daftar belanja. Mereka bisa memilih untuk terus menikmati hal-hal tertentu yang dianggap memberikan pengalaman, kenyamanan, atau apresiasi bagi diri sendiri. 

Bentuknya bisa berbeda-beda. Bagi sebagian orang, mungkin secangkir kopi. Bagi yang lain, bisa berupa cokelat, teh hijau, atau komoditas lain yang memberikan pengalaman spesial tanpa harus mengeluarkan biaya sebesar untuk membeli barang mewah.

Terkini