Prospek Saham Grup Bakrie Semester II 2026: BUMI, DEWA Hingga VKTR

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:57:02 WIB
Grup Bakrie, ENRG dan BUMI. (Foto: NET)

JAKARTA - Sejumlah perseroan Grup Bakrie menghadapi katalis yang berlainan pada paro kedua 2026. BUMI serta ENRG masih menjadi penopang fundamental, DEWA diuntungkan aktivitas pertambangan, sementara VKTR dinilai memiliki peluang menjadi mesin pertumbuhan baru. 

Perbedaan prospek tersebut tidak terlepas dari watak usaha masing-masing emiten serta perkembangan bidang yang digeluti. Capaian paro pertama 2026 menjadi salah satu pijakan untuk melihat arah bisnis Grup Bakrie pada paruh kedua tahun ini.

Direktur Purwanto Asset Management Edwin Sebayang mengemukakan melihat kinerja Grup Bakrie, ENRG dan BUMI masih menjadi tulang punggung fundamental, DEWA menjadi beneficiary dari aktivitas pertambangan, sementara VKTR adalah kandidat mesin pertumbuhan baru yang paling menarik untuk jangka menengah.

“BRMS memiliki potensi upside terbesar apabila pemulihan produksinya berjalan sesuai target,” kata Edwin, Selasa (18/8/2026).

Dia menuturkan fundamental masing-masing emiten Grup Bakrie saat ini semakin berlainan, sehingga investor sebaiknya menilai berdasarkan cash flow, volume produksi, margin, leverage dan katalis operasional masing-masing perusahaan, bukan hanya berdasarkan sentimen Bakrie Group secara keseluruhan. 

“Untuk kami pribadi, ENRG–BUMI merupakan kombinasi paling kuat untuk fundamental saat ini, sedangkan VKTR merupakan cerita pertumbuhan yang paling menarik untuk horizon lebih panjang,” ucapnya.

BUMI dan ENRG menjadi dua emiten Grup Bakrie yang mencatat kemajuan pendapatan serta laba bersih pada paruh pertama 2026. 

Berdasarkan laporan keuangan semester I/2026, pendapatan BUMI mencapai US$866,75 juta, naik 27,85% dibandingkan dengan US$677,93 juta pada kurun yang sama tahun lalu. Pertumbuhan pendapatan tersebut turut mendorong laba bersih BUMI hingga US$58,85 juta. Capaian tersebut melonjak 188,4% dari US$20,41 juta pada semester I/2025.

Sementara itu, ENRG juga mencatat pertumbuhan kinerja pada paruh pertama 2026. Pendapatan perseroan naik 18,51% menjadi US$283,37 juta dari US$239,11 juta pada kurun yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih ENRG turut tumbuh 26,62% menjadi US$45,23 juta dari US$35,73 juta.

Edwin menilai posisi BUMI dan ENRG masih kuat karena keduanya mempunyai eksposur terhadap sektor sumber daya alam yang menjadi salah satu basis utama bisnis Grup Bakrie. Dia melanjutkan Grup Bakrie tidak lagi hanya bisa dilihat sebagai commodity play. 

Portofolio Grup Bakrie mulai bergerak menuju kombinasi mining, oil & gas, infrastructure, EV dan industrial technology. Namun, lanjutnya, pasar tetap perlu melihat konsistensi eksekusi beberapa kuartal ke depan sebelum transformasi tersebut dapat dikatakan benar-benar berhasil.

Selain BUMI dan ENRG, PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) juga menjadi salah satu emiten yang dinilai memiliki katalis dari aktivitas pertambangan. Pada paro pertama 2026, pendapatan DEWA naik 3,13% menjadi Rp3,21 triliun. Sementara itu, laba bersih perseroan melonjak 89,01% menjadi Rp354,28 miliar dari Rp187,44 miliar pada semester I/2025.

Kinerja tersebut menunjukkan kemajuan laba DEWA jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pendapatannya. Edwin menempatkan DEWA sebagai beneficiary dari aktivitas pertambangan. 

Dengan demikian, perkembangan aktivitas dan volume produksi tambang menjadi salah satu faktor yang akan menentukan kinerja perseroan pada paro kedua 2026. Prospek DEWA juga akan berkaitan dengan keberlanjutan aktivitas pertambangan serta kemampuan perseroan mempertahankan pertumbuhan laba.

Sementara itu, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk. (VKTR) menawarkan kisah yang berbeda dibandingkan emiten berbasis komoditas di Grup Bakrie. Edwin menilai VKTR merupakan kandidat mesin pertumbuhan baru yang paling menarik untuk jangka menengah.

Penilaian tersebut muncul di tengah pertumbuhan pendapatan perseroan yang cukup tinggi pada paruh pertama 2026. Pendapatan VKTR tumbuh 56,18% menjadi Rp646,62 miliar dari Rp414,04 miliar pada kurun yang sama tahun sebelumnya. 

Namun, pertumbuhan pendapatan tersebut belum diikuti dengan peningkatan laba. Laba bersih VKTR justru merosot 76,23% menjadi Rp1,13 miliar dari Rp4,73 miliar.

Kondisi tersebut membuat kinerja VKTR masih menghadapi tantangan dari sisi profitabilitas. Meski demikian, perseroan dinilai memiliki cerita pertumbuhan yang berbeda karena bergerak di sektor kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).

Edwin sebelumnya mengemukakan Grup Bakrie mulai bergerak menuju kombinasi bisnis mining, oil & gas, infrastructure, EV dan industrial technology. Namun, dia mengingatkan konsistensi eksekusi tetap menjadi faktor penting sebelum transformasi bisnis tersebut dapat dinilai berhasil.

PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) menjadi emiten lain yang memiliki katalis berbeda pada paro kedua 2026. Pada semester I/2026, pendapatan BRMS turun 20,73% menjadi US$95,79 juta dari US$120,85 juta. Penurunan pendapatan tersebut diikuti dengan penurunan laba bersih sebesar 43,74% menjadi US$12,92 juta dari US$22,97 juta.

Meski mencatatkan tekanan kinerja, Edwin melihat BRMS memiliki potensi upside terbesar apabila pemulihan produksi berjalan sesuai target. 

Sementara itu, Elandry menuturkan untuk paro kedua 2026, emiten seperti BUMI dan BRMS menarik dicermati dari sisi eksposur komoditas, sementara sektor infrastruktur dan properti juga berpotensi mendapat katalis dari belanja pemerintah dan perbaikan aktivitas ekonomi.

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menjelaskan sepanjang paruh pertama 2026, kinerja emiten Grup Bakrie cukup beragam, sehingga semester II akan sangat bergantung pada perkembangan masing-masing sektor. 

“Saya melihat bisnis energi dan sumber daya alam masih berpotensi menjadi salah satu growth engine, terutama jika harga komoditas dan permintaan tetap mendukung,” tutur Elandry, Selasa (18/8/2026).

Menurutnya, harga komoditas menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan dalam melihat kinerja emiten Grup Bakrie pada paro kedua 2026. 

Pergerakan harga komoditas akan berpengaruh terhadap pendapatan dan profitabilitas perusahaan berbasis sumber daya alam. Selain itu, perkembangan volume produksi dan permintaan juga menjadi faktor yang perlu dicermati.

Namun, kata dia, kinerja tersebut tetap akan sangat dipengaruhi harga komoditas, capital flow, serta kondisi likuiditas pasar. 

“Secara umum, saya melihat prospek Grup Bakrie masih positif dengan catatan perbaikan kinerja operasional dan neraca dapat terus berlanjut,” kata Elandry.

Elandry mengemukakan investor sebaiknya tetap selektif karena karakter bisnis dan risk profile masing-masing emiten cukup berlainan. Dengan karakter bisnis yang semakin beragam, arah saham Grup Bakrie pada paro kedua 2026 tidak lagi seragam. 

BUMI dan ENRG mengandalkan kinerja bisnis energi dan sumber daya alam, DEWA mendapat manfaat dari aktivitas pertambangan, BRMS menanti pemulihan produksi, sementara VKTR membawa cerita pertumbuhan dari sektor kendaraan listrik.

Terkini