BI Sebut Investasi Jadi Motor Penggerak Ekonomi Nasional Terbaru

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:00:02 WIB
Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman. (Foto: NET)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memandang investasi mulai bertransformasi sebagai salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional, seiring mulai berjalannya berbagai proyek strategis pemerintah. 

Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman menyatakan, peningkatan investasi menjadi salah satu aspek yang membedakan pencapaian ekonomi pada triwulan II 2026. Kondisi tersebut tampak nyata baik pada sektor investasi bangunan maupun sektor non-bangunan. 

Sebagai catatan, laju ekonomi kuartal II 2026 mencatatkan angka 5,29%, dengan kinerja pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi menyentuh level 6,87%.

“Yang berbeda dalam PDB di kuartal kedua ini adalah membaiknya investasi, khususnya dari kedua sisi baik bangunan maupun non-bangunan,” ujar Aida dalam konferensi pers, Rabu (19/8/2026).

Berdasarkan pandangannya, penguatan investasi utamanya dipicu oleh mulai beroperasinya beragam proyek strategis dari pemerintah. Sejumlah inisiatif di kawasan industri (KI), kawasan ekonomi khusus (KEK), serta proyek penting lainnya telah memasuki fase groundbreaking

Aida menilai realisasi proyek-proyek tersebut mulai memberikan stimulus tambahan bagi ekspansi ekonomi di dalam negeri. 

Di samping sektor penanaman modal, pengeluaran fiskal pemerintah turut menyumbang dorongan positif terhadap aktivitas ekonomi selama triwulan II 2026. Ia mengemukakan bahwa alokasi anggaran pemerintah, mulai dari belanja pegawai, pengadaan barang dan jasa, hingga pencairan gaji ke-13, ikut menopang roda perekonomian.

“Ini semua membawa momentum yang positif untuk kuartal kedua 2026,” ujar Aida.

Berbekal dinamika tersebut, pihak BI tetap mempertahankan kisaran proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada rentang 4,9% sampai 5,7% sepanjang tahun 2026. Aida menuturkan bahwa posisi ekspansi saat ini bahkan mulai merayap menuju titik tengah hingga batas atas dari proyeksi yang ditetapkan.

“Jadi mudah-mudahan ini akan terjadi,” katanya.

Lebih lanjut, Aida menerangkan bahwa lonjakan impor tidak serta-merta mencerminkan kelesuan ekonomi. Hal itu dikarenakan, di samping kenaikan impor migas akibat lonjakan harga komoditas global, terdapat pula pembelian impor nonmigas yang dialokasikan khusus untuk keperluan investasi.

“Jadi ini semua mudah-mudahan akan terus membawa momentum positif kepada perekonomian domestik kami,” ujarnya.

Pada sisi yang berbeda, pihak bank sentral menilai stabilitas makroekonomi tetap berada dalam kondisi aman. Posisi cadangan devisa nasional terpantau berada di angka US$ 145,3 miliar dan dipandang sangat memadai guna mempertahankan ketahanan eksternal. 

Kendati demikian, Aida mengingatkan pentingnya upaya memperkuat surplus neraca perdagangan agar tren pemulihan ekonomi terus berlanjut. Mengacu pada situasi tersebut, bank sentral bertekad konsisten menyeimbangkan bauran kebijakan demi merawat stabilitas sekaligus memacu ekspansi ekonomi.

Kebijakan moneter dipastikan bakal difokuskan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta mengendalikan laju inflasi, sementara dorongan terhadap sektor riil ditempuh lewat instrumen pendukung lainnya. 

Aida menyampaikan bahwa ekspansi uang primer (M0) akan senantiasa dipertahankan pada kisaran level dua digit. Sepanjang bulan Juli 2026, indikator M0 tercatat mengalami pertumbuhan sebesar 18,3%.

“Dari sisi makroprudensial, sistem pembayaran maupun kebijakan pendukung lainnya ini semuanya akan tetap mendorong pertumbuhan ekonomi,” katanya.

Menurut pandangan Aida, manakala stabilitas kurs mata uang dan tingkat inflasi terkendali secara konsisten, maka ruang gerak bagi bank sentral guna memberikan stimulus tambahan bagi perekonomian bakal terbuka semakin luas.

“Kalau ini terjaga maka Bank Indonesia akan punya ruang yang lebih baik lagi untuk mendorong atau mendukung pertumbuhan ekonomi,” pungkasnya.

Terkini