Perkuat Ekosistem Fesyen, IFC Hadirkan LSP Fashion Indonesia Pertama

Rabu, 19 Agustus 2026 | 02:56:02 WIB
Ilustrasi - Sejumlah model memperagakan pakaian ramah lingkungan berbahan baku wastra saat peragaan busana bertajuk Parade Kreasi Wastra Mataraman di Kota Kediri, Jawa Timur, Jumat (20/6/2025) [FOTO: NET].

JAKARTA - Indonesian Fashion Chamber (IFC) sedang menggarap deretan proyek yang berkaitan dengan penguatan ekosistem fesyen nasional, salah satunya Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Fashion Indonesia.

“Proyek ini bukan hanya mengenai sertifikasi, tetapi bagaimana kami membangun standar kompetensi SDM Fashion Indonesia agar memiliki kompetensi yang lebih terukur dan juga profesional,” kata salah satu founder IFC Lisa Fitria, Rabu (19/8/2026).

Lisa menjelaskan bahwa LSP Fashion Indonesia dikembangkan mengusung lima skema kompetensi, mencakup Assistant Fashion Designer, Junior Fashion Designer, Fashion Designer, Fashion Stylist, hingga Creative Director.

Menurut penjelasannya, LSP Fashion Indonesia ini tercatat sebagai LSP bidang fesyen perdana yang mengantongi lima skema di ranah kreatif fesyen.

Di samping pemantapan LSP, Lisa turut merancang gagasan fesyen yang mengombinasikan fesyen berkelanjutan, luxury, modest fashion, serta gaya hidup. Salah satu fokus inovasi tersebut diarahkan pada perancangan merek yang menyasar pemenuhan busana dan gaya hidup untuk perjalanan ibadah umrah maupun haji.

“Konsepnya adalah bagaimana kebutuhan ibadah dapat diterjemahkan menjadi produk fesyen yang modern, berkualitas, berkelanjutan dan juga memiliki positioning yang global,” ujarnya.

Lisa mengutarakan harapannya untuk mengepakkan sayap merek tersebut hingga mendirikan toko atau outlet yang tersebar di berbagai mancanegara.

“Itu salah satu mimpi yang sekarang mulai kami bangun,” kata dia.

Pada kesempatan tersebut, Lisa membeberkan rencananya ke depan untuk merilis peragaan busana koleksi terbarunya pada Oktober mendatang melalui kolaborasi bersama para artisan batik.

Ia menuturkan koleksi tersebut bakal menyajikan corak batik bermotif polkadot yang dirancang secara kontemporer, lalu diselaraskan dengan motif-motif batik lain yang turut dikembangkan secara kontemporer.

Ajang peragaan busana tersebut bakal dihelat dalam rangkaian Into Motion Fest, yang menjadi bagian dari Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) besutan Bank Indonesia yang bekerja sama dengan Indonesian Fashion Chamber.

Lisa menyebutkan berbagai proyek yang tengah digarap IFC memegang benang merah seragam, yakni memacu industri fesyen Indonesia agar tidak sekadar melahirkan karya yang indah, tetapi juga menanamkan nilai identitas, kompetensi, dan keberlanjutan.

Dirinya menaruh harapan agar karya beserta proyek yang dikembangkan tidak mandek pada pembuatan busana semata, melainkan turut menyumbang kontribusi nyata bagi kemajuan industri fesyen Indonesia secara lebih luas.

Ia juga memasang rencana untuk menempuh studi jenjang S2 program studi industri kreatif pada tahun ini. Dalam kajian ilmiahnya nanti, Lisa berkeinginan membedah peta jalan busana muslim di Indonesia demi mewujudkan posisi Indonesia sebagai pusat modest sustainable dunia.

Terkini