Dampak Geopolitik AS-Iran, IHSG Rabu Sore Melesat Turun ke 6.394

Rabu, 19 Agustus 2026 | 00:30:32 WIB
Pengunjung memotret layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) [FOTO: NET].

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengakhiri perdagangan Rabu sore dengan terkoreksi, seirama dengan penurunan bursa di wilayah Asia akibat eskalasi gesekan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

IHSG tercatat merosot 55,70 poin atau 0,86 persen menuju level 6.394,13. Di sisi lain, indeks LQ45 yang menampung 45 saham unggulan tergerus 3,56 poin atau 0,56 persen ke angka 627,47.

“Mayoritas indeks di bursa kawasan Asia ditutup melemah di tengah kekhawatiran akan meningkatnya ketegangan geopolitik,” ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Kabar dari luar negeri menyebutkan, pihak Iran tengah menimbang opsi serangan terhadap aset milik AS di Siprus serta Bulgaria jika konfrontasi militer kembali pecah di antara kedua negara.

Pada saat yang sama, Uni Emirat Arab (UEA) mengambil langkah menghentikan seluruh aktivitas transaksi keuangan dan perdagangan dengan Iran sampai batas waktu yang belum ditentukan. Tindakan ini menyusul klaim UEA yang memantau adanya pergerakan rudal dari Iran menuju area perairan mereka pada Selasa (18/8).

“Kekhawatiran akan memanasnya ketegangan geopolitik yang meluas dan dampaknya terhadap harga minyak menjadi faktor negatif,” ujar Ratna.

Ditinjau dari dinamika domestik, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) periode 18-19 Agustus 2026 menetapkan BI-Rate tetap bertahan pada angka 5,75 persen, sejalan dengan ekspektasi konsensus.

Selaras dengan hal tersebut, suku bunga deposit facility dipertahankan sebesar 4,75 persen, dan lending facility juga tetap berada di kisaran 6,5 persen.

Adapun tertekannya indeks dolar AS memberikan dorongan bagi penguatan nilai tukar Rupiah sebesar 0,12 persen ke posisi Rp17.862 per dolar AS.

Sejak pembukaan perdagangan, IHSG langsung berada di zona merah dan bertahan hingga akhir sesi pertama. Memasuki sesi kedua, tekanan terus berlanjut hingga waktu penutupan pasar.

Merujuk pada data Indeks Sektoral IDX-IC, terdapat dua sektor yang mencatatkan kenaikan, dipimpin oleh sektor infrastruktur yang menguat 0,73 persen dan sektor properti yang naik 0,63 persen.

Sebaliknya, sembilan sektor lain terkoreksi dengan penurunan paling dalam dicatatkan oleh sektor barang baku sebesar 1,14 persen, disusul sektor barang konsumen primer serta sektor industri yang masing-masing melemah 0,86 persen dan 0,75 persen.

Daftar saham yang membukukan kenaikan harga tertinggi mencakup FUJI, TIFA, FPNI, WEGE, dan TRUS. Di sisi lain, saham yang tertekan paling dalam di antaranya FAST, DWGL, TCPI, ASLI, serta KJEN.

Aktivitas transaksi pasar tercatat mencapai 2.178.000 kali dengan volume perdagangan 34,26 miliar lembar saham senilai Rp14,25 triliun. Secara keseluruhan, 257 saham bergerak menguat, 379 saham melemah, dan 317 saham stagnan.

Pergerakan bursa saham Asia sore ini memperlihatkan indeks Nikkei anjlok 3,12 persen ke 65.356,00, indeks Shanghai merosot 2,40 persen ke 3.894,42, indeks Hang Seng menguat 0,09 persen ke 25.495,07, indeks Kospi terperosok 5,80 persen ke 6.471,17, dan indeks Straits Times tergerus 0,13 persen ke 5.694,24.

Terkini