BNPB Tutup Sejumlah Objek Wisata Unggulan di NTT Pascagempa Bumi M7,7

Selasa, 18 Agustus 2026 | 23:00:32 WIB
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan sejumlah destinasi wisata andalan Pulau Flores di Nusa Tenggara Timur (NTT) ditutup untuk sementara. (Foto: NET)

JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan sejumlah destinasi wisata andalan Pulau Flores di Nusa Tenggara Timur (NTT) ditutup untuk sementara guna menjamin keselamatan pelancong pascagempa bumi bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah tersebut.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, menyebutkan penutupan sementara diterapkan pada objek wisata yang memerlukan evaluasi serta pemulihan kelayakan fasilitas pendukung.

"Beberapa tempat wisata saat ini masih ditutup untuk sementara, seperti Goa Rangko di Kabupaten Manggarai Barat, Kampung Adat Wae Rebo di Manggarai, dan Taman Nasional Kelimutu di Kabupaten Ende," kata Berton.

Berton menerangkan pihak berwenang pariwisata daerah bakal senantiasa memperbarui warta resmi mengenai pembukaan ulang kawasan-kawasan tersebut seusai penanganan serta verifikasi keamanan tuntas dilaksanakan oleh aparat di lokasi kejadian.

Walau demikian, kegiatan pariwisata di area Taman Nasional (TN) Komodo beserta sekitarnya dipastikan tetap berjalan secara wajar dan dapat dikunjungi oleh pelancong nusantara maupun asing tanpa adanya hambatan.

Berdasarkan temuan inventarisasi BNPB, sebanyak delapan objek daya tarik wisata dikabarkan menderita rusak ringan.

Di sisi lain, pada bidang penginapan pelancongan tercatat dua hotel dan tiga pondok tinggal (homestay) mengalami rusak berat beserta 10 hotel dan lima homestay mengalami rusak ringan yang tersebar di sejumlah kabupaten terdampak, mencakup Nagekeo.

"Memastikan keselamatan dan keamanan seluruh wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, serta kelayakan infrastruktur pariwisata adalah prioritas," kata Berton.

BNPB sebelumnya mengabarkan informasi awal bahwa terdapat lebih dari 5.000 jiwa mengungsi baik secara mandiri maupun menempati tempat pengungsian rata-rata disebabkan tempat tinggal mereka menderita rusak ringan hingga berat akibat gempa M7,7.

Hasil pencatatan kelompok petugas gabungan di lapangan mencatat setidaknya terdapat 914 hunian mengalami rusak berat, 126 rusak sedang, serta 317 rusak ringan, lantaran getaran gempa itu.

Sementara itu, kerusakan parah pun menimpa puluhan sarana umum, antara lain 93 sarana pendidikan, 36 sarana kesehatan, serta 38 gedung pemerintah.

Hingga Senin (17/8) tercatat ada sebanyak 68 korban jiwa. Mereka berasal dari Kabupaten Manggarai sebanyak 26 orang, Kabupaten Manggarai Timur 24 orang, Kabupaten Nagekeo sebanyak delapan orang, Kabupaten Sikka empat orang, Kabupaten Ende 2 orang, Kabupaten Manggarai Barat dua orang, serta Kabupaten Ngada dua orang.

Terkini