BMKG Terjunkan Tim Survei dan Makroseismik Pascagempa NTT

Selasa, 18 Agustus 2026 | 18:38:32 WIB
bangunan toko yang rusak akibat gempa bumi bermagnitudo 7,7 di kawasan Reo, Kabupaten Manggarai, NTT [FOTO: NET].

JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi telah mengerahkan tim gabungan khusus untuk melaksanakan kegiatan survei makroseismik, pengujian karakteristik respons kondisi tanah, serta proses verifikasi dampak tsunami pascaterjadinya bencana gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 di kawasan Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, di Jakarta pada hari Selasa, menyampaikan bahwa pengujian karakteristik tanah tersebut dilakukan secara mendalam melalui metode pengukuran mikrotremor serta Multichannel Analysis of Surface Waves (MASW) di berbagai wilayah yang terdampak guncangan gempa.

"Tim dari pusat dan UPT BMKG itu melakukan survei gempa bumi merusak, meliputi survei makroseismik, pengukuran mikrotremor dan MASW, untuk mengetahui karakteristik serta respons tanah terhadap guncangan, monitoring gempa susulan, dan verifikasi dampak tsunami di lapangan," kata dia.

Ia menjelaskan lebih lanjut bahwa hasil dari pemetaan teknis lapangan tersebut nantinya diproyeksikan untuk digunakan sebagai basis utama pemetaan mikro-zonasi bencana, sekaligus menjadi landasan krusial bagi pemerintah daerah serta masyarakat setempat dalam menyusun rekomendasi rekonstruksi tata ruang dan pembangunan gedung yang aman dari ancaman gempa.

Pelaksanaan survei teknis ini diprioritaskan terlebih dahulu pada kawasan-kawasan yang mengalami tingkat kerusakan bangunan dari kategori sedang hingga berat, yang meliputi wilayah Kabupaten Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, hingga Kabupaten Sikka, untuk kemudian hasil datanya dibandingkan secara komprehensif dengan area yang terpantau relatif tidak terdampak.

Di samping melakukan kajian geologi secara intensif, pihak BMKG mencatat bahwa hingga hari Senin (17/8) siang pukul 11.00 WIB, telah terjadi total sebanyak 1.624 kali aktivitas gempa bumi susulan pascagempa utama, di mana sebanyak 23 kejadian di antaranya merupakan gempa dengan kekuatan magnitudo di atas 5,0 serta 59 kejadian tercatat dirasakan secara langsung oleh warga.

Meskipun demikian, Wijayanto tetap mengimbau sekaligus mengharapkan agar publik, khususnya warga masyarakat yang tinggal di Pulau Flores dan wilayah sekitarnya, untuk senantiasa bersikap tenang, menghindari bangunan-bangunan yang mengalami keretakan struktur, serta selalu memantau dan mengakses pembaruan informasi resmi terkait kebencanaan melalui kanal komunikasi sah milik BMKG sebagai fondasi utama kesiapsiagaan.

Terkini