Menag Ajak Masyarakat Doakan Korban Gempa NTT, Sumut, dan Sulteng

Senin, 17 Agustus 2026 | 19:19:01 WIB
Menteri Agama (Menag) RI Nasaruddin Umar [FOTO: NET].

JAKARTA - Menteri Agama (Menag) Republik Indonesia Nasaruddin Umar menyerukan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama memanjatkan doa bagi para korban musibah gempa bumi yang tengah melanda wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Sumatera Utara (Sumut), serta Sulawesi Tengah (Sulteng) bertepatan dengan momentum perayaan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, Senin (17/8/2026).

Nasaruddin menyampaikan imbauan tersebut sebagai wujud nyata kepedulian sosial yang mendalam terhadap masyarakat luas yang sedang tertimpa musibah bencana alam.

“Saat saudara-saudara kami di Nusa Tenggara Timur, Sumatera Utara, dan Sulawesi Tengah berduka karena gempa bumi, mari tengadahkan tangan kami untuk berdoa kepada Zat Yang Maha Berkehendak,” kata Nasaruddin dalam keterangan pada Senin (17/8/2026).

Lebih lanjut, Menteri Agama turut mendoakan agar warga yang menjadi korban meninggal dunia mendapatkan tempat termulia di sisi Tuhan Yang Maha Esa, sementara bagi mereka yang menderita luka-luka agar segera diberikan kesembuhan secara paripurna.

Adapun bagi seluruh masyarakat yang terdampak bencana, diharapkan senantiasa dikaruniai ketabahan hati serta proses pemulihan kondisi yang berjalan cepat, baik secara lahiriah maupun batiniah.

Sebagai informasi, ketiga peristiwa gempa bumi tersebut tercatat terjadi serentak pada hari Sabtu (15/8/2026). Gempa di wilayah NTT berkekuatan magnitudo (M) 7,7, disusul gempa yang mengguncang kawasan Simalungun di Sumatera Utara dengan kekuatan M6,4, serta gempa di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, yang tercatat sebesar M6,2.

Dalam kesempatan yang sama, Nasaruddin mengungkapkan bahwa perayaan hari kemerdekaan tidak sekadar dimaknai sebagai ajang seremonial untuk mengenang jasa perjuangan para pahlawan pendahulu, melainkan pula berfungsi sebagai pengingat akan esensi tanggung jawab seluruh elemen bangsa dalam mengisi kemerdekaan.

Menurut pandangannya, para tokoh agama serta umat dari beragam latar belakang keyakinan memegang peranan historis yang sangat penting dalam lintasan sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Semangat luhur tersebut, imbuhnya, perlu terus dilestarikan dan diwujudkan melalui ragam bentuk pengabdian nyata di masa kini.

“Ulama, pendeta, pastor, pandita, bhikkhu, dan tokoh agama lainnya telah menanamkan keberanian, persatuan, dan cinta tanah air. Hari ini, tugas kami adalah mengisi kemerdekaan dengan ilmu, kerja keras, integritas, inovasi, dan pengabdian,” katanya.

Nasaruddin juga memberikan penekanan khusus mengenai pentingnya menjadikan nilai-nilai luhur keagamaan sebagai sumber kekuatan sosial yang mampu mendatangkan kemaslahatan serta manfaat nyata secara langsung bagi masyarakat.

Sebagai contoh konkrit, ia memaparkan potensi besar yang bersumber dari pengelolaan penghimpunan dana zakat serta beragam kegiatan filantropi keagamaan lainnya. Tercatat pada tahun 2025 lalu, total perolehan penghimpunan zakat nasional telah sukses menembus angka Rp44,6 triliun dan memberikan dampak positif bagi lebih dari 149 juta jiwa penerima manfaat.

Berbagai bentuk gerakan filantropi keagamaan lainnya, seperti kolekte, dana punia, paramita, hingga Shan-si, juga terus menunjukkan tren pertumbuhan positif sebagai pilar kekuatan ekonomi umat yang memberdayakan masyarakat.

“Inilah agama yang hadir, yang tidak hanya bicara tentang langit, tetapi juga bekerja untuk bumi,” katanya.

Di samping itu, Nasaruddin memandang bahwa realitas keberagaman suku dan agama merupakan salah satu aset kekuatan terbesar yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, sehingga menjaga kerukunan antarumat beragama menjadi sebuah keharusan yang tidak boleh ditawar.

Ia menyebutkan bahwa peningkatan sejumlah indikator kerukunan serta kesalehan umat beragama merupakan capaian strategis yang wajib untuk terus dijaga dan dipertahankan.

Nasaruddin menilai bahwa Indonesia mampu tumbuh menjadi bangsa yang besar justru karena faktor keberagamannya, di mana kerukunan antarwarga merupakan fondasi dasar pembangunan nasional.

Ia memaparkan data statistik di mana Indeks Kerukunan Umat Beragama mengalami peningkatan dari angka 76,47 pada tahun 2024 menjadi 77,89 pada tahun 2025, yang diklaim sebagai capaian tertinggi. Sementara itu, capaian Indeks Kesalehan Umat Beragama pada tahun 2025 tercatat bertengger di angka 84,61.

Menutup keterangannya, Nasaruddin mengingatkan agar segala bentuk perbedaan yang ada tidak boleh dijadikan sebagai pembenaran untuk saling memusuhi. Ia mendorong agar nilai-nilai universal agama senantiasa difungsikan sebagai sarana pemersatu untuk mempererat tali silaturahmi antarmasyarakat.

“Kondisi ini harus kami syukuri. Jangan biarkan perbedaan jadi alasan bermusuhan. Jangan biarkan agama jadi alasan saling menjauh. Jadikan agama dan nilai-nilainya sebagai jalan untuk saling menguatkan dan memberikan makna kehidupan. Rumah ibadah harus menjadi tempat yang menenteramkan. Madrasah, pesantren, majelis taklim, sekolah minggu, pasraman, widyalaya, dan ruang kajian keagamaan harus menjadi tempat tumbuhnya ilmu dan akhlak. Agama harus menjadi sumber pencerahan, kedamaian, serta kemaslahatan,” katanya.

Terkini