Yield SRBI Turun, Investor Tetap Antusias Serbu Lelang BI

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 23:10:02 WIB
Yield Makin Landai, Investor Tetap Serbu SRBI dan Topang Rupiah. (Foto: NET)

JAKARTA - Gairah penanam modal di dalam lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia kemarin (14/8/2026) meroket. Di sisi lain, tingkat pengembalian malah tercatat merosot di seluruh jangka waktu, menggambarkan pelaku pasar bersedia menaruh dana mereka pada instrumen moneter Bank Indonesia, walau diganjar dengan pengembalian lebih kecil. 

Mengutip data lelang, total tawaran yang masuk melompat menjadi Rp80,69 triliun. Tawaran ini naik 78,82%, setara dengan Rp35,57 triliun, dibandingkan lelang pekan sebelumnya (7/8/2026) yang sebesar Rp45,12 triliun.

Lonjakan ini bersumber dari jangka waktu 12 bulan, yang tawarannya melesat dari Rp39,78 triliun menjadi Rp71,7 triliun, atau naik 80,25%. Meningkatnya permintaan penanam modal kali ini juga diikuti bersama perubahan pada strategi penyerapan Bank Indonesia. 

Total Sekuritas Rupiah Bank Indonesia yang dimenangkan meningkat empat kali lipat, dari Rp5 triliun jadi Rp20 triliun. Tambahan serapan ini hampir seluruhnya terkonsentrasi pada jangka waktu 12 bulan. 

Nilai yang dimenangkan pada jangka waktu 12 bulan melonjak menjadi Rp18,25 triliun dari sebelumnya hanya Rp4 triliun. Sebaliknya, alokasi jangka waktu 6 bulan malah merosot 50% menjadi Rp250 miliar, sedangkan jangka waktu 9 bulan tetap Rp500 miliar.

Tingkat Pengembalian Turun Tingkat pengembalian atau pengembalian rata-rata tertimbang yang dimenangkan dalam lelang kali ini pun menyusut. 

Pengembalian jangka waktu 6 bulan turun 12,8 basis poin jadi 7,05%, jangka waktu 9 bulan turun 19,3 basis poin jadi 7,2%. Sedangkan jangka waktu 12 bulan turun paling dalam 22,4 basis poin jadi 7,36%. 

Perubahan pengembalian ini membuat kurva pengembalian Sekuritas Rupiah Bank Indonesia makin landai, seusai mencapai puncaknya pada Juni. Selisih pengembalian jangka waktu 12 bulan menyempit, dari 40,69 basis poin jadi 31,1 basis poin. 

Pengembalian Sekuritas Rupiah Bank Indonesia makin terpangkas, seiring meredanya ekspektasi hawkish The Fed. Penurunan ini pun memperlihatkan bahwa Bank Indonesia mampu mengurangi premi pengembalian seiring meredanya fluktuasi nilai tukar rupiah, selaras dengan ekspektasi hawkish The Fed yang mereda. 

Walau turun, pengembalian ini tetap memikat di mata penanam modal. Membaiknya selera penanam modal pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia akhirnya menghadirkan ruang bagi Bank Indonesia untuk menyerap lebih banyak tawaran tanpa harus memberikan pengembalian yang lebih mahal. 

Sebelumnya, Bank Indonesia memang memakai daya tarik pengembalian sebagai bagian dari strategi di dalam menarik kembali arus modal guna menopang rupiah. 

Meskipun pengembalian Sekuritas Rupiah Bank Indonesia terpangkas, sejatinya pengembalian ini masih lebih mahal daripada pengembalian yang disuguhkan Surat Berharga Negara atau obligasi pemerintah. 

Untuk diketahui, pengembalian obligasi jangka waktu yang sama yakni 1 tahun terpangkas 2,9 basis poin ke posisi 6,86%. 

Praktis, secara tingkat pengembalian, instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia masih menawarkan pengembalian yang lebih memikat daripada Surat Berharga Negara. Pergerakan pengembalian Surat Berharga Negara jangka waktu 1 tahun, secara tahun berjalan, hingga Jumat (14/8/2026).

Penopang Rupiah Pantas jika minat penanam modal yang meroket, lalu diikuti serapan yang tinggi oleh Bank Indonesia, cukup menopang laju penguatan rupiah pada perdagangan Jumat (14/8/2028). 

Mulanya, rupiah membuka sesi perdagangan dengan melemah 0,11% di posisi Rp17.890 per dolar Amerika Serikat. Akan tetapi, tak lama berselang, rupiah berbalik arah, hingga pada saat Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato kenegaraan rupiah melanjutkan tren penguatan 0,21% ke posisi Rp17.833 per dolar Amerika Serikat. 

Hingga akhir sesi perdagangan, rupiah berhasil ditutup menguat 0,25% ke Rp17.825 per dolar Amerika Serikat. Di samping operasi moneter, penguatan rupiah pun tertopang oleh sentimen pencalonan Destry Damayanti sebagai penerus Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia. 

Pergantian pucuk pimpinan bank sentral ini memberi sinyal keberlanjutan strategi moneter, serta meredakan kekhawatiran pasar mengenai arah kebijakan moneter. 

Kendati demikian, rupiah masih rentan terhadap gejolak fiskal dan isu peringkat kredit, serta ketidakpastian geopolitik yang memicu kenaikan harga minyak mentah. 

Karenanya pula, Bank Indonesia kemungkinan masih akan tetap berhati-hati dengan memanfaatkan suku bunga, intervensi lewat Sekuritas Rupiah Bank Indonesia dan Domestic Non-Deliverable Forward guna meredam fluktuasi rupiah.

Terkini