Istana Beberkan Alasan Presiden Prabowo Ajak 8 Tamu Spesial di MPR RI

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 21:10:01 WIB
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi. (Foto: NET)

JAKARTA - Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menguraikan latar belakang Presiden Prabowo Subianto membawa delapan "tamu khusus" ke agenda Sidang Tahunan MPR/DPR/DPD di kawasan Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (15/8/2026). 

Menurut Prasetyo, kedelapan sosok tersebut menjadi bukti konkret bahwa program yang dilaksanakan pihak pemerintah mendatangkan manfaat. 

Tamu-tamu yang merupakan delapan penduduk Indonesia itu adalah penerima manfaat bermacam program, mencakup murid Sekolah Rakyat, bantuan sosial PKH, bantuan sosial atensi, program kredit hunian, dan sebagainya. 

"Kenapa dihadirkan? Itu untuk membuktikan bahwa apa yang kami kerjakan, program yang kami kerjakan, memang betul-betul memberikan dampak yang memang signifikan," kata Prasetyo, usai geladi resik upacara HUT ke-81 RI di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Sabtu (15/8/2026).

Prasetyo kemudian memberi contoh salah satu program prioritas yang mendatangkan faedah. Program kemandirian pangan contohnya, pemerintah berusaha menyalurkan manfaat melalui pembenahan alokasi pupuk serta perbaikan irigasi agar hasil tani meningkat. 

Ketua Kelompok Tani dari Desa Purwosari, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, bernama Joko Purnomo menjadi satu dari sekian penerima manfaat yang dibawa Prabowo ke Senayan. Lantaran berbagai pembenahan tersebut, dirinya sanggup memanen tiga kali dalam setahun. 

"Awalnya hanya bisa panen satu kali. Sekarang sudah bisa menjadi dua kali atau bahkan menjadi tiga kali," tutur dia. 

Prasetyo menjelaskan, kenaikan produktivitas itulah yang menjadikan Indonesia sukses menggapai swasembada beras.

Di sisi lain, Prabowo ingin menyampaikan apresiasi kepada penerima manfaat karena telah menggunakan program secara maksimal. 

"Itu bagian dari Bapak Presiden mengucapkan terima kasih kepada seluruh petani di seluruh Indonesia karena tanpa para petani memiliki iklim yang baik, benih yang baik, pupuk yang tersedia murah, air irigasi yang mengalir, itu tidak akan mungkin tercapai swasembada pangan kami. Jadi konteksnya lebih ke situ," ujar Prasetyo.

Terkini