Investor Asing Lepas Saham Rp1 T, IHSG Tetap Menguat 1,59%

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 19:51:32 WIB
layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) [FOTO: NET].

JAKARTA - Investor asing tercatat mengalir keluar dari pasar saham di dalam negeri selepas Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato kenegaraan mengenai Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tahun 2027.

Berdasarkan data yang dirilis oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari Jumat (14/8/2026), nilai jual bersih (net sell) yang dicatatkan oleh investor asing mencapai angka Rp1 triliun.

Aksi jual tersebut merupakan kelanjutan dari net sell asing pada hari sebelumnya yang bernilai Rp1,41 triliun, sehingga jika diakumulasikan sejak awal tahun, total dana asing yang keluar dari pasar saham domestik telah menyentuh angka Rp71,83 triliun.

Sejumlah saham yang terpantau paling banyak ditinggalkan oleh investor asing pada perdagangan kemarin di antaranya adalah PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) dengan nilai mencapai Rp265,45 miliar, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) senilai Rp127,89 miliar, serta PT Indosat Tbk. (ISAT) dengan nilai sebesar Rp84,88 miliar.

Meskipun gelombang modal asing keluar, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mampu ditutup di zona hijau dengan penguatan sebesar 1,59% ke level 6.401,89 pada perdagangan Jumat (14/8/2026).

Sepanjang hari tersebut, pergerakan indeks terpantau berada di kisaran level 6.267,41 hingga 6.401,89. Dari total ratusan konstituen saham yang tercatat, sebanyak 354 saham berhasil menguat, 277 saham mengalami pelemahan, dan 332 saham lainnya berada dalam kondisi stagnan.

Senior Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengemukakan bahwa target pertumbuhan ekonomi di angka 6% yang dipaparkan oleh Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya mampu berfungsi sebagai sentimen positif jangka pendek bagi pasar saham.

Sementara itu, untuk proyeksi jangka panjang, target 6% tersebut dibaca sebagai suatu sinyal kuat bahwa pemerintah berkeinginan mengalihkan sumber pertumbuhan ekonomi dari yang sebelumnya sekadar berbasis konsumsi menuju sektor investasi, produktivitas, industrialisasi, hilirisasi, serta peningkatan nilai tambah.

Di samping itu, asumsi inflasi yang dipatok pada level 2,5% serta tingkat yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun di kisaran 6,9% turut dinilai memberikan pesan bahwa pemerintah menghendaki adanya kombinasi seimbang antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas makroekonomi.

”Namun, pasar tetap akan bersikap selektif. Target pertumbuhan 6% harus dibuktikan dengan realisasi pertumbuhan ekonomi, konsumsi, investasi, kredit, serta pendapatan perusahaan,” tegasnya, Jumat (14/8/2026).

Terkini