Benarkah Paparan Layar Laptop Bisa Memperparah Pigmentasi Kulit Ini Penjelasannya

Kamis, 13 Agustus 2026 | 04:30:31 WIB
Ilustrasi - Paparan Layar Laptop. (Foto: NET)

JAKARTA - Tak hanya dikaitkan dengan kesehatan mata serta pola tidur, paparan layar mulai menjadi perhatian dalam kaitannya terhadap kesehatan kulit. Salah satu kekhawatiran yang muncul yakni cahaya biru atau blue light dari laptop, ponsel, serta lampu LED yang disebut mampu memengaruhi produksi pigmen kulit.

Lalu, apakah terlalu lama menatap layar laptop benar-benar bisa memperparah hiperpigmentasi? Dokter Spesialis Dermatologi serta Kosmetologi, Dr. Ruben Bhasin Passi menjelaskan, kaitan tersebut tidak sepenuhnya dapat diabaikan.

Namun, paparan cahaya biru dari layar sehari-hari bukanlah penyebab utama munculnya noda hitam pada kulit.

Menurut Dr Passi, sejumlah penelitian laboratorium menunjukkan bahwa cahaya tampak berenergi tinggi, termasuk cahaya biru, dapat memengaruhi melanosit atau sel yang bertanggung jawab terhadap produksi melanin.

“Jawabannya berada di antara ‘bukan sepenuhnya tidak masuk akal’ dan ‘bukan pula penjahat seperti yang digambarkan oleh influencer’,” ujar Dr Passi, seperti dikutip dari Only My Health, Kamis (13/8/2026).

Ia menjelaskan, penelitian laboratorium menemukan bahwa paparan cahaya biru dalam intensitas tinggi mampu membuat melanosit memproduksi lebih banyak pigmen, terutama pada kulit dengan warna sedang hingga gelap yang lebih rentan mengalami melasma.

Meski demikian, kondisi di laboratorium berbeda dengan penggunaan laptop sehari-hari.

Intensitas cahaya dari layar laptop dalam aktivitas normal jauh lebih rendah dibandingkan paparan yang digunakan dalam penelitian laboratorium.

Dr. Passi mengatakan, penelitian klinis yang menggunakan paparan cahaya biru dengan tingkat yang menyerupai penggunaan laptop dalam kehidupan sehari-hari tidak menemukan perburukan pigmentasi yang terukur.

Artinya, paparan layar laptop kemungkinan lebih tepat dipandang sebagai faktor kecil yang mampu berkontribusi terhadap pigmentasi, terutama pada orang yang memang sudah memiliki kecenderungan mengalami melasma atau hiperpigmentasi.

“Gambaran sebenarnya cukup kompleks: layar merupakan faktor kecil dan kumulatif bagi mereka yang memang rentan mengalami pigmentasi, bukan penyebab tunggal munculnya noda hitam baru,” kata Dr Passi.

Sementara itu, paparan sinar ultraviolet (UV) dari matahari tetap menjadi salah satu faktor lingkungan yang jauh lebih dominan dalam memicu kerusakan kulit serta hiperpigmentasi.

Cahaya biru juga dikaitkan dengan pembentukan molekul yang mampu memicu stres oksidatif pada sel kulit.

Jika terjadi terus-menerus, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kesehatan serta proses penuaan kulit.

Meski penggunaan laptop tidak perlu dihentikan karena alasan pigmentasi, perlindungan kulit tetap penting, terutama bagi orang yang rentan mengalami melasma.

Dr. Passi menyarankan penggunaan tabir surya berspektrum luas atau broad-spectrum sunscreen secara rutin.

Menurut dia, perlindungan terhadap sinar UV tetap menjadi prioritas utama, sedangkan perlindungan terhadap cahaya biru dapat menjadi pelengkap.

“Sinar UV tetap menjadi penyebab utama dengan perbedaan yang cukup jauh, sementara perlindungan terhadap cahaya biru merupakan tambahan yang masuk akal bagi kulit yang rentan melasma,” tambah Dr. Passi.

Dengan demikian, bekerja atau beraktivitas menggunakan laptop sepanjang hari tidak serta-merta akan membuat kulit mengalami hiperpigmentasi.

Namun, menjaga perlindungan kulit secara konsisten tetap penting, terutama dengan menggunakan sunscreen serta memperhatikan paparan sinar matahari.

Terkini