BEI Menargetkan Perolehan Dana Obligasi Berkelanjutan Capai Rp200 Triliun

Kamis, 13 Agustus 2026 | 01:55:05 WIB
Wakil Direktur Pengembangan Perusahaan Tercatat BEI Listyorini Dian Pratiwi. (Foto: NET)

JAKARTA — PT Bursa Efek Indonesia (BEI) membidik perolehan dana dari penerbitan instrumen utang berkelanjutan menembus lebih dari Rp200 triliun pada 2030.

Wakil Direktur Pengembangan Perusahaan Tercatat BEI Listyorini Dian Pratiwi mengatakan optimisme terhadap target tersebut didukung oleh tren peningkatan nilai perolehan dana dari instrumen utang berkelanjutan dalam beberapa tahun terakhir.

"Momentum saat ini memberikan keyakinan kepada kami bahwa target perolehan dana dari penerbitan instrumen utang berkelanjutan sebesar lebih dari Rp200 triliun pada 2030, sebagaimana ditetapkan dalam Sustainable Finance Roadmap, dapat tercapai," kata Listyorini dalam ketrangan resminya, Kamis (13/8/2026).

Dia mengatakan nilai perolehan dana dari instrumen utang berkelanjutan sejak 2023 telah berkontribusi lebih dari 10% terhadap total nilai perolehan dana instrumen utang BEI.

"Nilai perolehan dana dari instrumen utang berkelanjutan terus menunjukkan tren peningkatan dan sejak 2023 telah berkontribusi lebih dari 10% terhadap total nilai perolehan dana instrumen utang kami," ujarnya.

Optimisme BEI tersebut sejalan dengan perkembangan obligasi tematik di Indonesia. Salah satu instrumen yang menjadi sorotan adalah Orange Bond dan Orange Sukuk yang telah diterbitkan di Indonesia.

Listyorini mengatakan penerbitan Orange Bond dan Orange Sukuk oleh PT Permodalan Nasional Madani (PNM) pada tahun lalu menjadi salah satu terobosan dalam pengembangan instrumen utang berkelanjutan di pasar domestik.

"Penerbitan Orange Bond dan Orange Sukuk oleh PNM tahun lalu yang menjadi terobosan baru juga menunjukkan adanya permintaan yang jelas dari pasar Indonesia terhadap peluang investasi yang berfokus pada gender," katanya.

Indonesia sendiri memiliki pasar obligasi mata uang lokal dengan nilai outstanding sekitar Rp7.800 triliun atau setara dengan US$480 miliar. Surat utang negara mencakup lebih dari 90% pasar obligasi domestik, sehingga pengembangan instrumen tematik dinilai memiliki ruang pertumbuhan yang besar.

Di sisi lain, Indonesia juga tercatat sebagai negara dengan komitmen penerbitan Orange Bond terbesar di dunia dan menjadi negara pertama yang menerbitkan Orange Sukuk. Pemerintah dan pemangku kepentingan di Indonesia menargetkan penghimpunan Orange Capital sebesar US$10 miliar pada 2030. 

Pendanaan tersebut ditujukan untuk memberdayakan 100 juta perempuan, anak perempuan, dan kelompok minoritas gender, khususnya untuk mendukung aksi iklim dan pembangunan berkelanjutan yang berperspektif gender.

Untuk memperkuat pengembangan pasar tersebut, BEI bersama Impact Investment Exchange (IIX) dan PT BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menggelar Indonesia Thematic Bonds Roundtable bertajuk "Indonesia's Trillion-Rupiah Opportunity: Advancing an Inclusive and Resilient Economy through Thematic Bonds”.

Forum tersebut mempertemukan calon penerbit obligasi dan pelaku pasar modal untuk membahas perkembangan pasar obligasi tematik, termasuk kerangka kerja sebelum dan sesudah penerbitan.

BEI menilai semakin berkembangnya basis investor di pasar modal Indonesia dapat mendukung penyerapan lebih banyak instrumen utang berkelanjutan dengan skala yang lebih besar.

"Seiring dengan terus bertumbuhnya basis investor di pasar kami, kami meyakini pasar Indonesia mampu menyerap lebih banyak penawaran instrumen utang berkelanjutan yang inovatif dengan skala lebih besar di masa mendatang," ujar Listyorini.

Terkini