Pemerintah Siapkan Strategi Baru Perkuat Ekosistem Cadangan Emas Nasional

Kamis, 13 Agustus 2026 | 23:16:32 WIB
Ilustrasi - Emas. (Foto: NET)

JAKARTA - Pemerintah terus berupaya meningkatkan struktur ekosistem emas dalam negeri dari sektor hulu hingga hilir guna mendukung stabilitas ekonomi domestik. 

Langkah taktis ini ditujukan untuk mendongkrak kapasitas cadangan devisa emas Bank Indonesia (BI), sekaligus merapikan tata kelola komoditas tambang bernilai tersebut supaya lebih optimal di dalam negeri. 

Perlu diketahui, mengacu pada data World Gold Council, Indonesia berada pada peringkat ke-44 dengan kepemilikan cadangan emas di Bank Indonesia sebesar 87,1 ton atau sekitar 7,7% dari total cadangan.

Jumlah tersebut terpaut jauh di bawah Amerika Serikat yang memiliki simpanan emas di bank sentralnya sebesar 8.133,5 ton, Jerman 3.349,5 ton, Italia 2.451,8 ton, Prancis 2.437 ton, serta China 2.346,4 ton. 

Di sisi lain, estimasi cadangan emas Indonesia mencapai 3.600 ton dengan rata-rata produksi di bawah 100 ton setiap tahunnya. 

Deputi Bidang ESDM Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Elen Setiadi menilai, cadangan emas Indonesia saat ini memang masih tertinggal jika dibandingkan dengan sejumlah negara tetangga maupun negara maju. 

Oleh karena itu, pembenahan standar hulu hingga kesiapan penyerapan oleh bank sentral menjadi kunci utama dalam membangun fondasi ekosistem yang tangguh. 

"Negara ini juga harus punya kapasitas cadangan emasnya semakin meningkat. Dibandingkan China, Amerika, bahkan mungkin Vietnam, Singapura mungkin masih jauh kami (cadangan devisa emas). Tetapi potensi ini, dari sisi hulu kami benerin, sesuai standar internasional LBMA khususnya, traceabillity dan lain sebagainya, kemudian dari sisi hulunya Bank Indonesia bisa menerima ini, tentu dengan penyesuaian dan keadaan yang ada, maka saya rasa ekosistem emas ini akan menjadi lebih kuat," ujarnya dalam acara MINDialogue di Jakarta, Rabu (12/8/2026).

Elen memaparkan, potensi nilai kapitalisasi emas nasional saat ini tergolong sangat fantastis di pasar. Keberadaan cadangan devisa berbasis emas di Bank Indonesia diprediksi bakal menjadi alat penyeimbang (stabilizer) yang manjur bagi ekonomi nasional saat terjadi ketidakpastian pasar atau guncangan ekonomi global. 

"Catatan kami, ini kapital emas kami mungkin sekitar 1.800 triliun. Kalau nanti ditambah lagi dengan pengutan cadangan devisa emasnya BI, semakin baik, semakin besar, maka kami ketika ada guncangan dinamika global, guncangan ekonomi, kami punya stabilizer namanya emas selain cadangan devisa," ungkapnya.

Melalui penataan rantai pasok secara menyeluruh, pemerintah juga menargetkan perbaikan tata kelola kegiatan penambangan emas yang selama ini belum terstruktur. 

Pembangunan ekosistem dari tingkat penambang hingga pasar keuangan diharapkan mampu menciptakan kepastian hukum, transparansi pasar, serta nilai tambah bagi masyarakat luas maupun otoritas moneter. 

"Nah ini yang kami harapkan ke depan, ekosistemnya terbentuk, hulu, tengah, hilirnya itu bisa berjalan beriringan dengan pengembangan-pengembangan, saya yakin sumber daya ada yang formal, ada yang tidak formal, ada yang ilegal, ini tertata dengan baik, maka kami yakin ke hulunya juga nanti ke market kemudian masyarakat dan BI ini akan tercipta lebih baik," pungkasnya.

Terkini