Pergerakan Rupiah Ditutup Melemah Sentuh Rp17.864 per Dolar AS Hari Ini

Rabu, 12 Agustus 2026 | 04:53:02 WIB
Kurs rupiah terhadap dolar Amerika. (Foto: NET)

JAKARTA – Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berakhir melemah pada sesi perdagangan hari ini, Rabu (12/8/2026). Performa loyo rupiah tersebut berbanding terbalik dengan kinerja sejumlah mata uang lain di kawasan Asia yang justru mencatatkan penguatan.

Catatan data RTI pada pukul 15.05 WIB memperlihatkan bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat merosot 0,10% ke level Rp17.864. Sejalan dengan kondisi tersebut, beberapa mata uang lain di Asia justru menorehkan kenaikan, di mana baht Thailand bertambah 0,16%, ringgit Malaysia menguat 0,08%, serta rupee India naik 0,03%. 

Di sisi lain, koreksi nilai tukar turut dialami oleh yuan China yang berkurang 0,02%, won Korea melemah 0,41%, dolar Singapura turun 0,06%, hingga dolar Hong Kong merosot 0,01%.

Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa keperkasaan indeks dolar Amerika Serikat pada sesi perdagangan hari ini dipicu oleh berbagai macam sentimen. 

Dari kancah global, konflik yang terus berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran menyebabkan lalu lintas pelayaran lewat Selat Hormuz tetap sepi. 

Situasi ini menimbulkan kecemasan terkait potensi hambatan pasokan. Di samping itu, para investor saat ini juga tengah menunggu perilisan data Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat serta data harga produsen. 

Menurutnya, angka yang berada di bawah estimasi bisa meredakan tekanan bagi The Fed untuk memperketat kebijakan moneter. Sebaliknya, angka yang lebih tinggi dipandang berpotensi memicu kembali ekspektasi kenaikan suku bunga.

”Pelaku pasar cenderung menahan diri untuk mengambil posisi agresif menjelang rilis data CPI, dengan pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin pada bulan September berada di kisaran 50-50,” katanya dalam keterangan resminya, Rabu (12/8/2026).

Sementara itu dari dalam negeri, sektor penjualan ritel yang menghadapi tekanan daya beli dinilai membuat para konsumen lebih memilih mengerem pembelian produk non-sekunder. 

Sebab, angka penjualan ritel Indonesia merosot 3,0% secara tahunan pada periode Juni 2026. Pemerintah pun telah mengumumkan data utang per semester I/2026 dengan total tanggungan utang pemerintah pusat menyentuh angka Rp10.293,69 triliun. 

Jumlah tersebut dikabarkan menjadikan proporsi rasio utang pemerintah terhadap PDB berada di posisi 41,6%.

”Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif, tetapi ditutup melemah di rentang Rp17.870—Rp17.940,” katanya.

Terkini