Menakar Efektivitas Hujan Buatan Pemerintah dalam Mengatasi Ancaman Kekeringan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:11:32 WIB
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani. (Foto: NET)

JAKARTA — Pemerintah menyiapkan hujan buatan lewat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna mengisi waduk serta danau sebagai upaya antisipasi menghadapi ancaman kekeringan akibat fenomena El Niño. 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi El Niño bakal bertahan setidaknya hingga awal kuartal pertama 2027 bersama puncak intensitas melampaui kategori kuat. 

Potensi kekeringan pun dapat kian parah oleh peluang aktifnya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) Positif pada September—Desember 2026. 

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menerangkan BMKG memperkuat langkah mitigasi melalui OMC di berbagai kawasan prioritas Indonesia, sekaligus menggalang respons cepat dan terintegrasi dari segenap pihak guna mengantisipasi lonjakan kebakaran hutan serta lahan (karhutla) beserta kekeringan. 

“BMKG mengambil langkah proaktif dengan memperkuat dan memperluas OMC sebagai bentuk komitmen mitigasi bencana hidrometeorologi secara terpadu di Indonesia,” kata Faisal dalam keterangan tertulis, Kamis (30/7/2026).

Sejalan dengan ancaman tersebut, BMKG mengeklaim telah menuntaskan tiga kali operasi pengisian waduk di Sumatra Utara, Kepulauan Riau, serta Sulawesi Tengah. 

Ke depan, OMC untuk pengisian sumber daya air bakal kembali menyasar empat titik strategis, yakni Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba, Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, DAS Brantas, serta DAS Mamasa. 

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto mengutarakan BMKG kini mengintensifkan penyemaian awan lewat OMC. Saat ini, BMKG tengah mengoperasikan OMC di Provinsi Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah dengan dukungan pendanaan dari Kementerian Kehutanan serta BNPB. 

“Penyemaian awan melalui OMC merupakan upaya komplementer untuk mengoptimalkan potensi hujan alami sebelum kekeringan parah terjadi. Namun, ketika kondisi cuaca tidak memungkinkan pelaksanaan OMC, pemadaman titik api secara langsung di darat menjadi tumpuan utama. Kami menyelaraskan upaya ini melalui koordinasi erat bersama BNPB, TNI, Polri, Kementerian Kehutanan, serta Kementerian Lingkungan Hidup,” ujar Seto.

Namun, rencana tersebut memunculkan pertanyaan mengenai seberapa efektif hujan buatan dalam menambah volume air waduk, terutama ketika Indonesia menghadapi El Niño yang diprediksi berlangsung sampai 2027. 

Harus Hitung Biaya Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menyatakan OMC dapat membantu menambah volume air di waduk serta danau dalam kondisi tertentu. 

Kendati demikian, efektivitasnya amat bergantung pada kondisi atmosfer dan ketersediaan awan yang dapat disemai. OMC, menurut dia, bukan menciptakan hujan dari udara kosong, melainkan mempercepat atau meningkatkan proses presipitasi dari awan yang telah tersedia. 

Oleh karena itu, tatkala El Niño berlangsung cukup kuat dan berkepanjangan, ketersediaan awan potensial bisa menjadi lebih terbatas. 

Kondisi tersebut pada akhirnya mempersempit ruang efektivitas OMC. Secara umum, Yusuf menuturkan berbagai kajian menunjukkan tambahan curah hujan dari cloud seeding dapat berada di kisaran 5%—20% dalam kondisi yang mendukung. 

Akan tetapi, untuk wilayah tropis seperti Indonesia, hasilnya cenderung fluktuatif karena karakter awan konvektif yang sangat dinamis. 

“Persoalannya, dari sisi ekonomi, kami tetap perlu melihat seberapa besar tambahan air tersebut benar benar berdampak pada elevasi waduk dan pasokan air. Mengukur dampak ini tidak mudah karena curah hujan alami sangat bervariasi sehingga kontribusi OMC sulit dipisahkan secara presisi,” kata Yusuf, Sabtu (8/8/2026).

Yusuf menyampaikan tambahan air dari OMC tetap mempunyai nilai ekonomi karena mampu membantu menjaga pasokan irigasi, air baku, hingga produksi listrik tenaga air dalam jangka pendek. Walakin, operasi tersebut memerlukan biaya yang berulang, mulai dari penggunaan pesawat, bahan semai, personel, hingga koordinasi antarinstansi. 

“Manfaatnya perlu dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan, terutama jika kekeringan berlangsung lama dan awan yang dapat disemai semakin jarang,” imbuhnya. 

Selain itu, terdapat pula risiko hujan yang berhasil dipicu di satu wilayah tidak otomatis memberikan manfaat yang serupa bagi wilayah lain dalam satu sistem sumber daya air. 

Hal ini berarti efektivitas OMC tidak cuma ditentukan oleh keberhasilan menghasilkan hujan, melainkan juga oleh seberapa besar air yang dihasilkan dapat ditangkap serta disimpan dalam waduk. 

Meskipun demikian, dia menyebut penggunaan teknologi modifikasi cuaca untuk meningkatkan curah hujan bukan hanya dilakukan Indonesia. 

Sejumlah negara seperti Amerika Serikat (AS), China, Uni Emirat Arab, serta Australia telah memanfaatkan teknologi ini guna mendukung pengisian waduk, peningkatan snowpack, maupun ketahanan air. 

“Dalam konteks Indonesia, tantangannya lebih kompleks karena kami berhadapan dengan awan tropis yang sangat dinamis dan penggunaan OMC juga sering diarahkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk penanganan karhutla,” lanjutnya.

Efektivitas OMC Harus Diukur Senada, Peneliti Pusat Pangan, Energi, dan Pembangunan Berkelanjutan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Afaqa Hudaya menilai OMC dapat menjadi instrumen yang bermanfaat guna menambah pasokan air dalam jangka pendek, tetapi efektivitasnya sangat bergantung pada kondisi atmosfer. 

Menurut Afaqa, OMC pada dasarnya tidak menciptakan air dari kondisi yang benar-benar kering, melainkan mengoptimalkan awan yang sudah tersedia supaya menghasilkan hujan. Oleh sebab itu, tatkala El Niño membuat keadaan semakin kering, ketersediaan awan potensial untuk disemai pun bisa semakin terbatas. 

Dia menilai keberhasilan OMC tidak cukup diukur dari peningkatan curah hujan. Menurutnya, pemerintah perlu menghitung berapa banyak tambahan air yang benar-benar masuk dan tersimpan di waduk atau danau, biaya yang dikeluarkan, serta kerugian ekonomi yang dapat dihindari. 

Pasalnya, sambung dia, tambahan curah hujan tidak otomatis menaikkan volume waduk. Sebagian air dapat menguap, meresap ke tanah, atau menjadi limpasan sebelum mencapai reservoir.

Dengan ancaman El Niño yang diprediksi berlangsung hingga awal 2027, Afaqa menyarankan OMC ditempatkan sebagai instrumen kontingensi atau langkah antisipatif, terutama untuk daerah aliran sungai (DAS) dan waduk yang berisiko mengalami defisit air tinggi. 

“Pemerintah perlu memastikan operasi dilakukan pada saat kondisi atmosfer mendukung dan memberikan tambahan air yang secara ekonomi layak dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan,” kata Afaqa. 

Dia menambahkan, Indonesia bukan satu-satunya negara yang menggunakan teknologi modifikasi cuaca. AS, China, Thailand, Uni Emirat Arab, serta sejumlah negara lain telah memanfaatkan cloud seeding untuk meningkatkan presipitasi, mendukung pasokan air, atau mengurangi risiko kekeringan. 

Namun, pengalaman internasional menunjukkan efektivitas teknologi tersebut tidak bersifat universal. Hasilnya sangat dipengaruhi jenis awan, kelembapan, kondisi angin, topografi, serta karakteristik atmosfer masing-masing wilayah.

Menurutnya, pemerintah tidak dapat menilai keberhasilan OMC semata-mata berdasarkan jumlah penerbangan atau misi cloud seeding. Perbandingan yang lebih penting ialah cost-effectiveness, yakni biaya yang dikeluarkan dibandingkan dengan tambahan air serta manfaat ekonomi yang dihasilkan. 

“Perbandingan yang lebih penting justru adalah cost-effectiveness. Berapa biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan tambahan air? Berapa besar tambahan inflow ke waduk? Dan apakah manfaat ekonomi yang diperoleh lebih besar daripada biaya OMC itu sendiri?” katanya. 

Lebih lanjut, Afaqa juga berpendapat OMC tidak cukup menjadi satu-satunya strategi pemerintah dalam menghadapi ancaman kekeringan. Ketahanan air pun memerlukan pengelolaan permintaan, penyimpanan, dan distribusi air secara efisien. 

Demi tujuan itu, dia mendorong agar pemerintah memperkuat konservasi daerah tangkapan air supaya air hujan dapat ditahan dan masuk ke sistem hidrologis. Di samping itu, efisiensi penggunaan air perlu pula ditingkatkan, khususnya pada sektor pertanian, industri, dan air baku. 

Di sisi lain, kapasitas penyimpanan juga perlu diperkuat lewat optimalisasi waduk yang ada, pembangunan embung, pemanenan air hujan, serta infrastruktur penyimpanan lainnya.

Bukan cuma itu, pemerintah perlu memperhitungkan opportunity cost anggaran OMC dengan berbagai alternatif kebijakan, seperti rehabilitasi DAS, modernisasi irigasi, pengurangan kebocoran jaringan air, pembangunan storage, sampai teknologi daur ulang air. 

“OMC sebaiknya dipandang sebagai instrumen untuk membeli waktu ketika risiko kekeringan meningkat, bukan sebagai pengganti pembangunan ketahanan air. Ketahanan air jangka panjang tetap membutuhkan kombinasi antara konservasi DAS, efisiensi penggunaan air, optimalisasi waduk, dan diversifikasi infrastruktur penyimpanan serta sumber air,” pungkasnya.

Terkini