JAKARTA - Keuangan masyarakat tanah air pada Juli 2026 terpelihara stabil. Di tengah keyakinan pembeli yang masih bertahan pada zona optimis, sebagian besar pemasukan keluarga tetap dialokasikan guna kebutuhan belanja, sementara persentase pelunasan cicilan atau pinjaman mencatatkan sedikit kenaikan.
Gambaran tersebut tampak tergambar melalui Riset Konsumen Bank Indonesia (BI) Juli 2026.
Penelitian memperlihatkan rata-rata proporsi pendapatan pembeli yang dimanfaatkan guna belanja mencapai 72,7 persen, relatif stabil apabila disandingkan bersama bulan sebelumnya yang berada di angka 73,0 persen.
Pada kurun waktu serupa, persentase pendapatan yang dipakai untuk melunasi cicilan ataupun utang mendaki dari 10,0 persen pada Juni 2026 menjadi 10,5 persen pada Juli 2026. Sementara itu, porsi pemasukan yang disisihkan pembeli tercatat 16,8 persen, hanya mengalami sedikit pergeseran dari 17,0 persen ketika periode sebelumnya.
Komposisi pemasukan rumah tangga pada Juli 2026 memperlihatkan belanja senantiasa menjadi pemanfaatan pendapatan paling besar.
Pihak BI mencatat, dari setiap pemasukan pembeli, rata-rata 72,7 persen dipakai untuk belanja. Besaran tersebut memang sedikit lebih rendah jika dibandingkan 73,0 persen pada Juni 2026, tetapi tetap menjadi porsi mayoritas dari komposisi alokasi pendapatan keluarga.
Sebaliknya, persentase pendapatan yang dimanfaatkan bagi pelunasan cicilan atau utang bertambah menjadi 10,5 persen. Dengan demikian, terdapat penambahan sebesar 0,5 poin persentase apabila dibandingkan bulan sebelumnya.
Adapun persentase pendapatan yang ditabung menempati posisi 16,8 persen, turun tipis 0,2 poin persentase dari 17,0 persen pada Juni 2026.
Bank sentral mengutarakan rasio belanja serta tabungan terhadap pendapatan tergolong stabil, di tengah pembayaran cicilan yang mengalami sedikit kenaikan. Transformasi komposisi itu pun nampak apabila pembeli dikelompokkan berdasarkan tingkatan pengeluaran.
Pihak BI mencatat persentase belanja terhadap pendapatan mengalami penurunan pada golongan pengeluaran Rp 2,1 juta sampai Rp 3 juta, Rp 4,1 juta hingga Rp 5 juta, serta melampaui Rp 5 juta.
Masing-masing tercatat sejumlah 73,5 persen, 71,3 persen, serta 69,0 persen. Di sisi lain, pada golongan pengeluaran lainnya, persentase pendapatan yang diperuntukkan bagi belanja justru merangkak naik.
Kenaikan persentase pelunasan cicilan tidak sekadar tampak pada angka rerata nasional. Pihak BI mencatat, persentase pendapatan yang dialokasikan guna pembayaran cicilan mencatatkan penambahan pada sebagian besar golongan pengeluaran.
Hal tersebut memperlihatkan adanya pergeseran dalam komposisi pemanfaatan pemasukan keluarga sepanjang Juli 2026. Walau demikian, laporan BI tidak memberikan keterangan perihal ragam cicilan ataupun pinjaman yang mengalami peningkatan tersebut.
Lewat survei serupa, pihak BI turut mengamati situasi ekonomi pembeli lewat sudut pandang terhadap perolehan pendapatan saat ini, ketersediaan lapangan pekerjaan, serta pembelian barang tahan lama.
Hasilnya, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) pada Juli 2026 menempati level optimis, yakni 107,9, kendati merosot dari 109,2 pada Juni 2026. IKE tersebut ditopang oleh tiga elemen.
Indeks Pendapatan Saat Ini (IPSI) tercatat 118,5, Indeks Ketersediaan Lapangan Pekerjaan (IKLK) senilai 101,1, serta Indeks Pembelian Barang Tahan Lama/Durable Goods (IPDG) senilai 104,1.
Ketiga indeks tersebut memang lebih kecil jika dibandingkan bulan sebelumnya yang masing-masing menempati level 119,8, 101,8, serta 105,9.
Situasi finansial tersebut berlangsung manakala keyakinan pembeli secara umum masih terjaga.
Riset Konsumen BI memperlihatkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juli 2026 berada pada level 116,8. Angka itu masih berada di atas level 100 yang menyimbolkan optimisme, meskipun merosot apabila disandingkan IKK Juni 2026 sejumlah 117,8.
Optimisme pembeli turut terpancar dari ekspektasi terhadap situasi ekonomi enam bulan ke depan. Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) pada Juli 2026 tercatat 125,7, turun tipis dari 126,4 pada bulan sebelumnya. Meskipun demikian, indeks tersebut tetap bertahan pada level optimis.
Pihak BI mengutarakan kokohnya IEK bersumber dari optimisme terhadap perkiraan pendapatan, ketersediaan lapangan pekerjaan, serta aktivitas usaha. Ketiga indeks tersebut masing-masing tercatat 133,6, 123,1, serta 120,4.
Ekspektasi pendapatan enam bulan mendatang pun menempati level optimis di seluruh golongan pengeluaran.
Akan tetapi, terdapat perbedaan dinamika antar-kelompok. Indeks perkiraan pendapatan pada golongan pengeluaran Rp 2,1 juta hingga Rp 3 juta serta Rp 3,1 juta sampai Rp 4 juta mendapati penurunan dan masing-masing tercatat 126,9 serta 131,5. Sementara golongan pengeluaran lainnya mencatatkan kenaikan.
Berdasarkan faktor usia, indeks perkiraan pendapatan paling tinggi tercatat pada golongan usia 20-30 tahun sebesar 139,0, dilanjutkan golongan usia 31-40 tahun sebesar 137,7.
Dari sudut pandang pendapatan yang diterima saat ini, persepsi pembeli pun masih berada pada level optimis. Pihak BI mencatat indeks pendapatan saat ini tetap kokoh pada seluruh golongan pengeluaran, kendati sebagian besar golongan mendapati penurunan indeks.
Indeks tertinggi dijumpai pada golongan pengeluaran Rp 4,1 juta hingga Rp 5 juta, yakni sebesar 124,5.
Berdasarkan faktor usia, indeks pendapatan saat ini paling tinggi dijumpai pada golongan usia 20-30 tahun dengan nilai 124,9.
Meskipun demikian, pandangan terhadap lapangan pekerjaan memperlihatkan gambaran yang lebih variatif. Responden berpendidikan SMA mencatatkan penurunan pandangan terhadap ketersediaan lapangan pekerjaan saat ini dan indeksnya masih menempati level pesimis.
Sebaliknya, responden berpendidikan akademi atau diploma, sarjana, serta pascasarjana mencatatkan penambahan indeks, masing-masing menjadi 106,2, 114,5, serta 101,7.
Berdasarkan faktor usia, pandangan ketersediaan lapangan pekerjaan masih menempati level optimis pada golongan usia 20-40 tahun, sementara golongan usia melampaui 41 tahun menempati level pesimis.
Dari sisi pembelian barang tahan lama, pembeli dengan golongan pengeluaran lebih tinggi tetap memperlihatkan optimisme.
Pihak BI mencatat indeks pembelian barang tahan lama menempati level optimis bagi golongan pengeluaran melampaui Rp 4,1 juta. Indeks tertinggi dijumpai pada golongan pengeluaran melampaui Rp 5 juta, kendati sedikit menyusut menjadi 108,3.
Berdasarkan faktor usia, indeks pembelian barang tahan lama paling tinggi dijumpai pada golongan usia 20-30 tahun sebesar 109,5, disusul golongan usia 31-40 tahun sebesar 106,0.
Sementara untuk enam bulan ke depan, perkiraan pembeli terhadap aktivitas usaha tetap optimis. Indeks tertinggi berdasarkan golongan pengeluaran dijumpai pada golongan dengan pengeluaran melampaui Rp 5 juta, sejumlah 127,4, dilanjutkan golongan Rp 4,1 juta hingga Rp 5 juta sejumlah 121,5.
Akan tetapi, perkiraan aktivitas usaha merosot pada golongan pengeluaran Rp 2,1 juta hingga Rp 4 juta. Berdasarkan faktor usia, penurunan indeks berlangsung pada golongan usia 41-50 tahun dan melampaui 60 tahun, sementara golongan usia lainnya mencatatkan kenaikan.
Riset Konsumen BI merupakan penelitian bulanan yang sudah dijalankan sejak Oktober 1999. Semenjak Januari 2007, survei dijalankan terhadap kurang lebih 4.600 rumah tangga sebagai responden memakai metode stratified random sampling.
Riset Juli 2026 mencakup 18 kota, yakni Jakarta, Bandung, Bodebek, Semarang, Surabaya, Medan, Makassar, Bandar Lampung, Palembang, Banjarmasin, Padang, Pontianak, Samarinda, Manado, Denpasar, Mataram, Pangkal Pinang, Ambon, serta Banten.
Di dalam metodologinya, pihak BI menerangkan bahwa indeks melampaui 100 menyimbolkan situasi optimis, sebaliknya indeks di bawah 100 menyimbolkan situasi pesimis.