Pemerintah Petakan Enam Wilayah Rawan Karhutla Selama Fenomena El Nino

Senin, 10 Agustus 2026 | 21:59:32 WIB
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Djamari Chaniago. (Foto: NET)

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Djamari Chaniago membeberkan 6 wilayah yang rawan mengalami kebakaran di tengah situasi iklim El Nino sekarang ini. 

Hal tersebut disampaikan usai pertemuan bersama Kepala BNPB Suharyanto, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat, serta Deputi Bidang Modifikasi Cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tri Handoko Seto. 

Kawasan tersebut berada di luar insiden kebakaran di area Bromo dan Gunung Gede Pangrango. Berkenaan dengan Bromo, ia menuturkan bahwa titik api tinggal menyisakan satu.

"Yang kami waspadai memang ada pada enam provinsi itu, yaitu mulai dari Jambi... eh mulai dari Riau, kemudian Jambi, Sumatera Selatan, Kalbar, Kalteng, dan Kalsel dan itu pun sudah kami kendalikan sampai dengan saat ini," kata dia di kantornya, Senin (10/9/2026).

Dia menyampaikan para pemimpin daerah dari kawasan tersebut sudah menyampaikan laporan serta memastikan bahwa mitigasi maupun penanganan kebakaran dapat dijalankan dengan cepat. 

Menurutnya, besaran potensi munculnya titik api saat ini telah terdata. Akan tetapi, pihak pemerintah belum dapat memproyeksikan secara pasti jumlah titik api yang bakal timbul ke depan sebab keadaan bisa berubah dengan cepat.

Karenanya, pihak pemerintah mengusahakan pelaksanaan pencegahan dari awal supaya situasi tidak berkembang menjadi keadaan darurat. Ia menerangkan, keadaan darurat bisa terjadi apabila kebakaran meluas hingga lahan gambut di enam provinsi terbakar secara keseluruhan.

"Cara memadamkannya seperti apa? Satu-satunya dengan air cara memadamkan itu. Mencegahnya seperti apa? Patroli dilakukan oleh rakyat sendiri ya upaya itu. Karena gambut begitu terbakar dipadamkan belum tentu bisa padam, karena akan ke bawah. Kemudian yang kedua adalah bagaimana upaya pencegahannya dengan penegakan hukum. Begitu ada pelanggaran segera diselesaikan," jelasnya.

Dia mengutarakan terdapat dua provinsi yang masih memberikan izin pembakaran lahan untuk keperluan perkebunan dengan memakai cara-cara konvensional. Kendati demikian, pemerintah daerah bersangkutan telah mengutarakan kesiapannya untuk menjalankan pengawasan.

“Dalam keadaan seperti itu kalau perlu dihentikan dulu hukumnya, berhenti dulu, selesai El Nino baru boleh lagi. Menteri LHK juga akan membuat edaran kelak untuk itu, menghadapi keadaan darurat ini ya.,” ujarnya.

Dari aspek pendanaan, pemerintah memastikan kebutuhan penanganan karhutla sudah dipersiapkan. Dia menyatakan dana untuk penanganan bencana senantiasa tersedia dan mampu ditambah menyesuaikan kebutuhan di lapangan. 

Walaupun begitu, hingga kini pihak pemerintah menilai belum perlu pengerahan kekuatan dalam skala yang amat besar. Ia menegaskan urgensi penanganan sejak awal agar keadaan tidak berkembang menjadi keadaan darurat.

“Situasi ini memang situasi kami semua dan kedaruratan itu harus kami selesaikan semuanya dengan cara yang, kalau perlu, sejak awal supaya tidak menangani keadaan darurat,” ucap Djamari.

Penanganan kebakaran hutan terbagi menjadi dua satuan tugas yakni udara dan darat. Untuk penanganan lewat udara melibatkan 43 helikopter serta 15 fixed-wing yang bisa dimanfaatkan secara insidental. Sementara satgas darat melibatkan bermacam personel dari K/L maupun institusi terkait.

"Melihat situasi seperti sekarang ini, upaya yang paling tepat, operasi yang paling tepat dilakukan adalah yang efektif, yang efektif, operasi udara sebetulnya sangat efektif, menimbulkan hujan buatan yang dilakukan oleh BNPB, itu yang paling efektif," ujarnya.

Dia membeberkan bahwa fenomena El Nino bakal berlangsung dalam kurun waktu panjang yang diperkirakan sampai bulan Oktober 2026. Alhasil operasi udara tidak sekadar menyiram titik api lewat helikopter, melainkan melaksanakan modifikasi cuaca. 

Namun, dia mengerti bahwa terdapat kendala berupa susahnya mencari awan sebagai media semai agar terjadi hujan.

"Walaupun berdasarkan perkiraan sekarang ini, pada minggu-minggu ini sampai dengan tanggal 18 Agustus, itu ada 3-4 hari kemungkinan awan hujan ada. Kalau itu ada, itu memang mungkin anugerah yang diberikan kepada kami, mungkin menjelang 17 Agustus, semoga itu akan keluar awan hujan itu," ujarnya.

Terkini