Selain Mata Minus, Ini Berbagai Masalah Penglihatan yang Sering Dikeluhkan

Minggu, 09 Agustus 2026 | 23:31:32 WIB
Ilustrasi - masalah penglihatan. (Foto: NET)

JAKARTA – Sewaktu mendengar kata optik, sebagian orang mungkin langsung menghubungkannya dengan pemeriksaan rabun jauh ataupun pembuatan kacamata. Padahal, problem yang dijumpai di optik cukup bermacam-macam, mulai dari mata kering sampai kebutuhan untuk mengenali gangguan penglihatan secara lebih awal. 

General Manager Operation Optik Melawai James Hadisurjo menuturkan, problem penglihatan yang paling banyak dijumpai berkaitan dengan kelainan refraksi, khususnya miopia atau rabun jauh. Keadaan tersebut menjadikan seseorang memerlukan lensa korektif guna membantu penglihatannya supaya menjadi lebih terang. 

“Masalah yang paling sering ditemui tentunya myopia atau butuhnya apa namanya lensa korektif,” jelas James dalam Optik Melawai Eyewear Exhibition 45 Years Anniversary di Senayan City Mall, Jakarta Pusat, Kamis (6/8/2026).

Walaupun demikian, pemeriksaan di optik tidak sekadar berhubungan dengan menetapkan ukuran lensa kacamata. Sejumlah problem lain pun dapat dijumpai tatkala masyarakat mengecek keadaan matanya. Salah satu problem yang tergolong sering dijumpai yaitu mata kering. 

Kondisi ini sanggup membuat organ penglihatan terasa tidak enak dan mengganggu aktivitas sehari-hari. James menyebutkan, keluhan mata kering yang dijumpai di optik dapat berupa sensasi perih hingga ketidaknyamanan pada indra penglihatan. 

“Sebenarnya cukup banyak juga kasus dry eyes yang kami temui. Keluhan-keluhan mata kering, seperti perih dan rasa tidak nyaman,” ujar James. 

Problem tersebut menjadi salah satu poin yang dicermati ketika masyarakat menjalankan pemeriksaan penglihatan. Dengan begitu, pengecekan tidak cuma berpusat pada apakah seseorang mengalami rabun jauh, dekat, ataupun silinder, melainkan juga pada problem yang dirasakan.

Di samping kelainan refraksi dan mata kering, Optik Melawai pun memusatkan layanan pada pengenalan dini katarak. Pengecekan tersebut diperuntukkan guna membantu menemukan indikasi gangguan penglihatan sebelum berkembang lebih jauh. James menyatakan, katarak selama ini lebih banyak dihubungkan dengan kelompok umur lanjut. 

Akan tetapi, menurutnya, kasus yang bersangkutan dengan keadaan tersebut sekarang pun mulai dijumpai pada umur yang lebih dini. 

“Biasanya orang yang operasi katarak itu di usia 60 sampai 70 tahunan, namun sekarang semakin muda usianya karena adanya efek blue light, layar komputer, atau aktivitas olahraga di luar yang lebih intens,” kata dia. 

Keadaan itu menjadikan pemeriksaan indra penglihatan menjadi krusial, khususnya bagi masyarakat yang mempunyai problem penglihatan ataupun faktor yang sanggup memengaruhi kesehatan mata.

Guna mendukung pengenalan dini tersebut, Optik Melawai menghadirkan perangkat yang dilengkapi slit lamp. Instrumen tersebut lazimnya dipakai dalam pemeriksaan mata oleh tenaga medis guna memandang keadaan bagian-bagian penglihatan secara lebih mendalam. 

James menuturkan, perangkat itu dimanfaatkan guna membantu mengenali katarak sejak dini, mencakup pada individu yang sebelumnya belum mengetahui keberadaan keadaan tersebut. 

“Kami punya alat yang dilengkapi dengan slit lamp atau alat yang biasanya digunakan dokter mata untuk mendeteksi katarak sejak dini pada orang-orang yang belum terdeteksi,” ujar James.

Seiring semakin bermacam-macamnya problem yang dijumpai, pemeriksaan indra penglihatan di optik tidak sekadar menjadi tahapan guna mengetahui keperluan kacamata. Pengecekan pun sanggup menjadi bagian dari ikhtiar masyarakat mengenali keadaan penglihatan lebih lekas. 

Oleh sebab itu, keluhan seperti penglihatan yang mulai kabur, organ penglihatan terasa perih atau tidak enak, sampai perubahan pandangan sebaiknya tidak diabaikan. Pemeriksaan secara rutin sanggup membantu mengenali keadaan penglihatan serta menetapkan langkah penanganan yang tepat.

Terkini