Kinerja Semester I-2026: Laba Bersih DEWA Meroket 89 Persen

Minggu, 09 Agustus 2026 | 20:05:31 WIB
ILUSTRASI. PT Darma Henwa Tbk (DEWA) [FOTO: NET].

JAKARTA - PT Darma Henwa Tbk (DEWA) meraih laba bersih sebesar Rp 354,28 miliar pada paruh pertama tahun ini. Keuntungan DEWA melonjak 89% dibandingkan raihan Rp 187,44 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan laba DEWA didorong oleh kinerja positif dari sisi pendapatan yang mengalami kenaikan 3,22% secara tahunan atau year on year (yoy) dari Rp 3,10 triliun menjadi Rp 3,20 triliun pada semester I-2026. Seluruh pendapatan DEWA pada periode ini didapat dari bisnis jasa pertambangan.

Sementara itu, beban pokok pendapatan DEWA menyusut 0,76% (yoy) menjadi Rp 2,59 triliun, dari sebelumnya Rp 2,61 triliun. Penurunan beban pokok pendapatan mendongkrak laba bruto DEWA sebanyak 23,45% (yoy) dari Rp 495,87 miliar menjadi Rp 612,16 miliar pada semester I-2026. Kinerja DEWA mampu tumbuh walaupun ada dekonsolidasi anak usaha PT Dire Pratama pada akhir tahun 2025.

Pertumbuhan pendapatan dan laba DEWA didukung oleh kenaikan volume waste removal dengan penambahan kapasitas internal, serta peningkatan marjin laba kotor dan marjin operasional. Sepanjang enam bulan pertama 2026, marjin laba kotor dan marjin operasional DEWA tercatat sebesar 19,1% dan 12,8%. 

Meningkat dibandingkan marjin laba kotor dan marjin operasional sebesar 16% dan 11,8% pada semester I-2025. Hasil tersebut mendongkrak perolehan laba kotor dan laba operasional DEWA. Pada semester I-2026, laba operasional DEWA meningkat 11,4% (yoy) menjadi Rp 409,7 miliar. Pada periode yang sama, DEWA mencatat keuntungan lain-lain sebesar Rp 255,7 miliar, yang sebagian besar berasal dari keuntungan yang belum direalisasikan atas perubahan nilai wajar investasi.

Sementara itu, posisi EBITDA tumbuh 20,2% (yoy) dari Rp 780,7 miliar menjadi Rp 938,1 miliar. Hasil ini didorong oleh kenaikan marjin EBITDA dari 25,1% menjadi 29,3%. Dari sisi operasional, volume waste removal tercatat mengalami kenaikan 10,4% (yoy) menjadi 75,3 juta bank cubic meters (bcm) pada semester I-2026, terutama didorong oleh volume in-house yang meningkat 38,9% menjadi 62,5 juta bcm. 

Sementara pada periode yang sama volume waste removal yang dilakukan subkontraktor turun 44.9% (yoy) menjadi 12,8 juta bcm. Sepanjang enam bulan pertama 2026, volume produksi batubara DEWA tercatat sebanyak 8,2 juta ton, turun 1,6% secara tahunan. Penurunan tersebut terutama disebabkan karena turunnya volume produksi batubara dari subkontraktor.

Direktur Darma Henwa, Ricardo Silaen mengungkapkan pendapatan dan laba DEWA mampu tumbuh di tengah tantangan pemotongan volume Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026, yang cenderung membawa dampak negatif ke sektor batubara. Meski begitu, DEWA terus berupaya meningkatkan kemampuan operasionalnya, khususnya untuk klien utama yaitu PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia.

"Perseroan akan terus berfokus produktivitas dan efisiensi operasional, optimalisasi kapasitas in-house, serta penguatan pelaksanaan proyek. Langkah ini diharapkan dapat mendukung pertumbuhan pendapatan sekaligus menjaga profitabilitas Perseroan secara berkelanjutan," kata Ricardo kepada Kontan.co.id, Minggu (9/8/2026).

Proyeksi dan Strategi Kinerja Semester II-2026

Ricardo optimis DEWA bisa melanjutkan kinerja positif pada semester II-2026. Ada empat faktor yang berpotensi mendorong kinerja DEWA. Pertama, adanya proyek baru dari Sebuku Sejaka Coal (SSC) yang mulai beroperasi pada Agustus 2026. SSC merupakan tambang batubara di Pulau Laut, Kalimantan Selatan yang bisa memproduksi hingga 5 juta ton batubara dan 55 juta bcm waste removal, tergantung dari RKAB. Estimasi jumlah tersebut mencapai sekitar 40% dari total volume waste removal DEWA pada 2025. Secara keseluruhan, estimasi nilai dari kontrak SSC tersebut mencapai Rp 22 triliun.

"Kami optimis dengan diperolehnya kontrak baru dari Sebuku Sejaka Coal yang dapat mendorong pertumbuhan volume produksi dan pendapatan secara signifikan ke depannya," ungkap Ricardo.

Kedua, perbaikan margin. Salah satu faktor pendorongnya adalah Proyek Bengalon yang kini sudah 100% di bawah DEWA dan tidak lagi menggunakan subkontraktor efektif sejak akhir Mei 2026. Dus, dampak penuh dari pengambilalihan ini diharapkan mulai terlihat pada kuartal III-2026 atau pada semester kedua ini.

Ketiga, DEWA sedang berupaya mendapatkan kontrak baru yang sifatnya jangka panjang yang diharapkan dapat meningkatkan volume dan pendapatan.

"Untuk semester II-2026, selain menambah kapasitas dan beroperasi di Sebuku, Perseroan juga terus mencari proyek baru untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang," imbuh Ricardo.

Keempat, Pemerintah sedang mengevaluasi revisi RKAB, termasuk untuk kuota produksi batubara nasional.

"Harapannya ini juga akan membantu kontraktor seperti Darma Henwa dalam mendapatkan volume tambahan," tandas Ricardo.

Terkini