Mengupas Risiko di Balik Kepulan Laba Bersih Emiten Rokok HMSP GGRM Cs

Kamis, 06 Agustus 2026 | 05:11:01 WIB
PT Gudang Garam Tbk. (GGRM). (Foto: NET)

JAKARTA — Seluruh emiten rokok sepanjang semester pertama 2026 mencatatkan kenaikan laba bersih yang signifikan. Di balik prestasi tersebut, sejumlah indikator menjadi catatan penting guna menakar sejauh mana kepulan fundamental emiten menopang pertumbuhan berkelanjutan. 

Sebagai contoh, PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) memang membukukan pertumbuhan laba bersih 2.440% year on year (YoY), namun penjualan bersihnya tergerus 7,19% YoY. Segmen sigaret kretek mesin (SKM) yang berkontribusi paling besar, penjualannya pun turun 7,88% YoY. Efisiensi bisnis memang memberikan lonjakan laba bersih, namun keterbatasan ruang bakal menjadi risiko bagi perseroan ke depan apabila tak mampu mendongkrak penjualan. 

Sementara bagi PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. (HMSP) yang penjualannya meningkat 2,40% YoY, segmen SKM mereka tumbuh 13,84% YoY. Akan tetapi, segmen lain seperti sigaret kretek tangan (SKT), sigaret putih mesin (SPM), serta sigaret putih tangan (SPT) penjualannya kompak turun dua digit. Di bottom line, laba bersih HMSP meningkat 97,06% YoY.

Selain itu, data Philip Morris mencatat bahwa sepanjang semester I/2026 market share HMSP di Indonesia tergerus 1,4% YoY, mengindikasikan perusahaan menghadapi tantangan kompetisi pasar di tengah downtrading industri tembakau saat ini. Kemudian, jika menilik kondisi PT Wismilak Inti Makmur Tbk. 

(WIIM), perseroan membukukan pertumbuhan penjualan serta laba bersih masing-masing sebesar 12,29% YoY dan 104,56% YoY. Namun yang jadi catatan, beban pokok penjualan WIIM tumbuh 8,60% YoY, jauh lebih tinggi apabila dibandingkan dengan HMSP yang cuma naik 0,78% YoY, atau bahkan GGRM yang mampu menekannya di level 13,28% YoY. 

Sementara itu, PT Indonesian Tobacco Tbk. (ITIC) menjadi emiten rokok dengan pertumbuhan paling moderat. Penjualan serta laba bersih perseroan sepanjang semester pertama 2026 masing-masing naik 8,67% YoY dan 16,11% YoY. Selain itu, ITIC menjadi satu-satunya di antara emiten rokok yang mencatat koreksi gross profit margin (GPM) dari 21,24% menjadi 20,37%.

Dari sisi struktur permodalan, seluruh emiten rokok masih membukukan leverage yang rendah. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi perusahaan guna lebih fleksibel dalam memperoleh pendanaan. Per akhir Juni 2026, debt to equity ratio (DER) GGRM berada di level 0,22 kali, HMSP sebesar 0,92 kali, WIIM di 0,48 kali, sedangkan ITIC di level 0,32 kali. 

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Kevin Yudha Pratama menjelaskan bahwa di antara empat emiten rokok tersebut, HMSP memiliki keunggulan dari sisi skala penjualan, brand dan jaringan distribusi. Tetapi, penurunan market share HMSP di Indonesia menunjukkan tekanan downtrading belum sepenuhnya teratasi. 

Menurutnya, premiumisasi dan produk bebas asap dapat membantu HMSP mempertahankan margin, tetapi kontribusinya belum terlihat cukup besar untuk sepenuhnya mengimbangi downtrading dan penurunan market share. Sepanjang semester pertama 2026, penjualan produk bebas asap tumbuh 8,71% YoY, namun kontribusinya terhadap total penjualan perseroan masih di kisaran 2%. 

Sementara itu, perbaikan kinerja GGRM menurutnya masih ditopang pemulihan margin dan efisiensi di tengah penurunan penjualan, tetapi belum dapat disebut sebagai pemulihan fundamental yang sepenuhnya berkelanjutan. Risikonya, ruang efisiensi akan semakin terbatas, sehingga pertumbuhan berikutnya akan bergantung pada recovery volume, pricing dan product mix, serta perbaikan profitabilitas bisnis nonrokok.

"Menurut kami, WIIM menunjukkan kualitas fundamental paling solid dari sisi kinerja semester I/2026 karena pertumbuhan penjualan dan laba bersih disertai ekspansi gross profit margin," kata Kevin kepada Bisnis, dikutip Kamis (6/8/2026).

Kevin menilai WIIM memang cenderung diuntungkan oleh fenomena downtrading, tapi tak menggaransi posisinya aman karena persaingan di segmen rokok terjangkau dapat menekan harga dan margin. Sementara untuk ITIC, Kevin melihat perusahaan ini memiliki pertumbuhan positif tetapi dibayangi skala usaha kecil dan konsentrasi pasar yang tinggi. 

Basis penjualan pasar ITIC sebesar 95% yang tertumpu di Papua dan Nusa Tenggara menurutnya juga menjadi risiko konsentrasi, sedangkan pengembangan pasar ke India yang tahun ini baru tercatat di laporan keuangan juga masih terlalu kecil untuk menjadi pendorong utama kinerja. Pandangan berbeda disampaikan Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang yang menilai HMSP menjadi emiten rokok paling menarik.

"Menurut kami, HMSP masih menunjukkan kualitas fundamental yang paling resilien di tengah fase normalisasi industri rokok. Hal tersebut tercermin dari kemampuannya mempertahankan pertumbuhan top line, diikuti ekspansi laba bersih yang signifikan serta gross profit margin sebesar 19%, lebih tinggi dibandingkan GGRM yang berada di kisaran 15%," ujarnya.

Selain itu, strategi premiumization dan akselerasi pada smoke-free products mulai menciptakan diversifikasi sumber pendapatan sekaligus memperkuat kualitas earnings. Di tengah fenomena consumer downtrading, HMSP dinilai juga mampu mempertahankan pricing power pada segmen premium sehingga tekanan terhadap margin relatif lebih terkendali.

Terkini