Waspada, 7 Kebiasaan Harian Ini Bisa Rusak Kesehatan

Kamis, 06 Agustus 2026 | 01:55:32 WIB
Ilustrasi main HP [FOTO: NET].

JAKARTA - Sejumlah kebiasaan harian yang tampak biasa, seperti bermain ponsel sebelum tidur atau melewatkan waktu makan karena kesibukan, sering kali dianggap tidak berbahaya. Namun, tanpa disadari, kebiasaan tersebut dapat menguras energi, memengaruhi suasana hati, hingga memberi dampak negatif terhadap kesehatan dalam jangka panjang.

Berikut sejumlah kebiasaan sederhana yang perlu diperhatikan karena berpotensi memengaruhi kesehatan.

Deretan Kebiasaan Sehari-hari yang Berisiko bagi Kesehatan

Terlalu sering bermain ponsel saat merasa bosan

Menggunakan ponsel ketika sedang memiliki waktu luang memang menjadi hal yang umum dilakukan. Akan tetapi, kebiasaan terus-menerus mengalihkan perhatian ke layar dapat membuat otak kehilangan kesempatan untuk beristirahat.

Terapis pernikahan dan keluarga sekaligus direktur program keluarga di All in Solutions, Alexandra Foglia, DMFT, mengatakan penggunaan ponsel secara berlebihan saat merasa bosan dapat mengurangi ruang bagi seseorang untuk melakukan refleksi, mengolah emosi, maupun memperoleh relaksasi mental.

“"Saat merasa bosan atau tidak nyaman, banyak orang beralih ke ponsel, tetapi terus-menerus mengisi jeda kecil itu menyisakan sedikit ruang untuk refleksi, pemrosesan emosi, atau relaksasi mental yang sesungguhnya," ucap dia, Kamis (6/8/2026).”

Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dapat meningkatkan tingkat stres serta menurunkan kemampuan seseorang untuk berinteraksi secara penuh dengan orang lain.

Terlalu sering mencurahkan keluhan kepada pasangan

Berbagi cerita dengan pasangan dapat membantu meredakan beban pikiran. Namun, jika dilakukan secara berlebihan tanpa mencari solusi, kebiasaan tersebut justru dapat meningkatkan stres dan berdampak pada hubungan.

Psikoterapis sekaligus direktur klinik di Feel Your Way Therapy, Arkadiy Volkov, RP, menjelaskan bahwa terlalu sering membahas masalah yang sama tanpa adanya langkah penyelesaian dapat membuat seseorang terjebak dalam perenungan berulang.

"Walau bisa saja sehat dalam jumlah sedang, ada ambang batas saat ekspresi emosional berubah menjadi sesuatu yang disebut perenungan inti,” jelas psikoterapis dan direktur klinik di Feel Your Way Therapy, Arkadiy Volkov, RP.

"Ini terjadi saat masalah yang sama terus dipikirkan dan dibahas berulang kali, tanpa ada pergerakan menuju penyelesaian atau penerimaan," imbuh dia.

Volkov menyarankan agar waktu untuk mencurahkan perasaan dibatasi, misalnya sekitar 10 hingga 15 menit, kemudian dilanjutkan dengan aktivitas lain yang tidak berkaitan dengan masalah tersebut.

Terus-menerus mengecek kabar

Kebiasaan mengecek kabar pasangan secara berulang sering dianggap sebagai bentuk perhatian. Namun, tindakan tersebut bisa saja muncul akibat rasa cemas dan kebutuhan mendapatkan kepastian.

““Ini bisa terlihat penuh perhatian dan kepedulian. Namun saat kita melakukannya karena kecemasan alih-alih rasa ingin tahu yang tulus, ini bukan lagi tentang menjalin hubungan, melainkan lebih pada mencari penegasan,” jelas Volkov.”

Selalu berusaha menyenangkan orang lain

Terus menerima permintaan orang lain karena merasa tidak enak hati dapat berdampak buruk apabila dilakukan dengan mengorbankan kebutuhan pribadi.

Foglia menjelaskan, sebagian orang menganggap selalu tersedia bagi orang lain merupakan bentuk kepedulian. Padahal, kebiasaan tersebut dapat menyebabkan kelelahan emosional dan membuat batasan diri menjadi tidak jelas.

"Namun, kebiasaan terus-menerus menyenangkan orang lain dengan mengorbankan diri kita sendiri biasanya berujung pada perasaan benci, kelelahan emosional, dan batasan yang kabur,” kata dia.

Memberi label makanan sebagai baik atau buruk

Mengelompokkan makanan dengan istilah “baik” atau “buruk” dapat memengaruhi hubungan seseorang dengan makanan.

Psikolog sekaligus salah satu direktur klinis di Cultivating Courage Psychological Services, Moriah O’Barr, PsyD, menjelaskan bahwa makanan merupakan sumber nutrisi bagi tubuh dan tidak seharusnya membuat seseorang merasa bersalah.

“Makanan adalah makanan, dan sesuatu yang digunakan tubuh kita sebagai nutrisi,” terang psikolog dan salah satu direktur klinis di Cultivating Courage Psychological Services, Moriah O’Barr, PsyD.

"Melabeli makanan akan membuatmu merasa bersalah dan malu. Rasa bersalah ini bisa sangat berbahaya karena perlahan-lahan mengikis hubunganmu dengan tubuhmu," lanjut dia.

Melewatkan waktu makan

Menahan lapar secara sengaja, misalnya agar dapat makan lebih banyak saat menyantap makanan tertentu, dapat mengganggu sinyal alami tubuh.

“Melewatkan waktu makan memberi tahu tubuhmu bahwa sinyal laparnya tidak penting, yang pada akhirnya memutuskan jalur komunikasi penting ini,” papar O’Barr.

Ia menambahkan, kebiasaan tersebut dapat memicu gangguan pola makan karena tubuh membutuhkan asupan makanan secara teratur agar dapat menjalankan fungsi dengan optimal.

"Tubuh kita menyukai konsistensi dan hal yang bisa diprediksi. Tubuh butuh makanan secara teratur agar bisa berfungsi maksimal," kata O'Barr.

Hanya mengandalkan jalan kaki sebagai olahraga

Jalan kaki memang memberikan manfaat bagi kesehatan. Namun, apabila menjadi satu-satunya aktivitas olahraga, tubuh tidak mendapatkan tantangan yang cukup untuk membangun massa otot.

Pakar kebugaran sekaligus pendiri AND/life, Andrea Marcellus, mengatakan kemudahan jalan kaki justru dapat menjadi kekurangan apabila tidak dikombinasikan dengan latihan lain.

“Fakta bahwa jalan kaki sangat nyaman dan mudah justru menjadi masalahnya," tutur pakar kebugaran dan pendiri AND/life, Andrea Marcellus.

Menurutnya, tubuh membutuhkan latihan dengan tingkat tantangan tertentu agar dapat beradaptasi, termasuk membangun otot dan meningkatkan sensitivitas insulin.

“Sejujurnya, kamu perlu merasa sedikit tidak nyaman. Beban harus terasa berat pada pengulangan kesembilan atau kesepuluh, dan kamu perlu sedikit terengah-engah sampai tidak bisa ngobrol dengan mudah,” pungkas Marcellus.

Terkini