Bapanas Sebut Harga Gabah Tertinggi dalam Delapan Tahun Jaga Inflasi Beras dan Kesejahteraan Petani di Indonesia

Kamis, 06 Agustus 2026 | 00:48:02 WIB
Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. (Foto: NET)

JAKARTA - Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengutarakan kenaikan harga gabah ke level tertinggi dalam rentang delapan tahun terakhir sanggup mendongkrak kesejahteraan petani sekaligus mengamankan inflasi beras agar senantiasa terkontrol lewat penguatan cadangan pemerintah.

"Pemerintah menjaga keseimbangan kepentingan petani dan konsumen. Di satu sisi, kesejahteraan petani padi terus meningkat dengan indeks harga yang diterima petani mencapai level tertinggi dalam delapan tahun terakhir," kata Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam keterangan di Jakarta, Kamis (6/8/2026).

Pada sisi sebaliknya, inflasi beras tetap terkendali berkat penguatan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) beserta beragam program stabilisasi yang dieksekusi secara berkelanjutan.

Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) termutakhir, indeks harga yang diterima petani pada Juli 2026 menyentuh 151,10, menjadikannya level tertinggi. Pencapaian tersebut mencerminkan harga gabah yang semakin menguntungkan bagi kalangan petani.

Menurutnya komoditas beras merupakan pangan strategis sehingga pemerintah terus mengawal keberlanjutan harga gabah supaya tetap menguntungkan bagi petani padi.

Ia menyebutkan pemerintah saat ini memegang Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sekitar 5,2 juta ton yang menjelma sebagai instrumen vital guna memelihara keseimbangan pasokan, stabilitas harga, serta ketahanan pangan nasional.

Amran menilai harga gabah yang layak krusial dipertahankan agar petani tetap termotivasi menanam padi, sehingga Indonesia dapat mengamankan surplus produksi dan mereduksi ketergantungan terhadap impor beras.

"(Kalau) petani berhenti tanam, kita (malah harus) impor seperti tahun 2023 dan 2024 (sampai) 7 juta ton. Tapi 2025 tidak ada impor medium, kita surplus," beber Amran.

Adapun BPS turut merilis data Nilai Tukar Petani (NTP) secara umum yang juga mencatatkan angka 127,84 sekaligus menorehkan rekor tertinggi dalam 8 tahun terakhir sejak BPS menghitung berdasarkan tahun dasar 2018. Pada Juli 2026, NTP Subsektor Tanaman Pangan (NTPP) pun mendaki paling tinggi dari 114,65 menjadi 116,16.

Kenaikan indeks NTPP sebesar 1,32 persen itu bersumber dari naiknya indeks kelompok penyusun dari kelompok padi sebesar 0,97 persen.

Menurut Bapanas, hal tersebut menjadi andil dari upaya pemerintah menopang harga petani melalui Perum Bulog yang telah menyerap panen petani sampai total 3,57 juta ton lewat instrumen Harga Pembelian Pemerintah (HPP) minimal di Rp6.500 per kilogram (kg).

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa menambahkan pemerintah tidak henti-hentinya berikhtiar menjaga keseimbangan dan kewajaran harga melalui pelbagai program intervensi dengan menggelontorkan stok CBP.

"Gabah saat ini memang relatif sangat bagus bagi petani, tapi berdampak pada harga beras. Beras memang ada beberapa yang agak naik sedikit tapi cukup stabil. Tentu dukungan dari pemerintah tidak henti-hentinya. Jadi harga naik sedikit, tapi intervensi pemerintah terus-menerus. Ini seimbang sebenarnya," jelas Ketut.

Bapanas menuturkan distribusi CBP pada Januari hingga Juli 2026 mencapai 1,45 juta ton. Capaian tersebut terdiri atas realisasi penjualan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) pada Januari-Februari yang menyentuh 221,05 ribu ton.

Kemudian realisasi SPHP beras Maret sampai Juli tahun ini yang telah menggapai 570,79 ribu ton serta ditambah realisasi program bantuan pangan tahap pertama sebanyak 662,88 ribu ton.

"Ini belum termasuk rencana salur bantuan pangan beras tahap kedua sebanyak 997,2 ribu ton kepada 33,24 juta keluarga masing-masing 10 kg dengan alokasi 3 bulan (alokasi Juli, Agustus, dan September)," jelas Ketut.

Dengan begitu, pemerintah bersama Perum Bulog nantinya mampu menyalurkan CBP hingga melampaui 2 juta ton dari total stok saat ini yang masih berada di angka 5,25 juta ton.

Pantauan harga beras dari Bapanas sepanjang Juli 2026, rata-rata harga beras premium secara nasional bertengger di Rp15.972 per kg.

Sementara itu, rata-rata harga beras medium secara nasional berada di kisaran Rp13.564 per kg dengan rentang Harga Eceran Tertinggi (HET) beras medium dari Rp13.500 sampai Rp15.500 per kg menyesuaikan zonasi.

Sebelumnya Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengemukakan inflasi beras secara tahunan merosot dari 3,98 persen ke 3,10 persen. Sementara itu, inflasi beras secara bulanan masih terbilang rendah di level 0,49 persen.

Terkini