Angka Kemiskinan di Indonesia Menurun Signifikan Menurut Catatan BPS

Rabu, 05 Agustus 2026 | 03:17:31 WIB
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Edy Mahmud. (Foto: NET)

JAKARTA — Badan Pusat Statistik mengumumkan adanya tren perbaikan pada kondisi sosial serta ekonomi skala nasional pertengahan tahun ini.

Jumlah masyarakat miskin tercatat menyusut tajam secara bersamaan dengan menurunnya persentase pengangguran di dalam negeri.

BPS mendata pengurangan jumlah penduduk miskin sebanyak 430.000 jiwa sehingga kini tersisa 22,93 juta jiwa per Maret 2026.

Capaian tersebut menunjukkan perbaikan apabila disandingkan dengan periode September tahun sebelumnya yang menyentuh angka 23,36 juta jiwa.

Deputi Bidang Neraca serta Analisis Statistik lembaga tersebut mengutarakan bahwa berkurangnya warga prasejahtera itu turut mengerek turun tingkat kemiskinan nasional ke level 8,07 persen pada Maret 2026, dari posisi terdahulu yakni 8,25 persen pada September tahun lalu.

"Berdasarkan tren pada grafik sejak Maret 2023 sampai dengan Maret 2026 jumlah dan tingkat kemiskinan terus mengalami penurunan," kata pejabat berwenang dalam Rilis Berita Resmi Statistik di ibu kota pada Rabu, 5 Agustus 2026.

Garis kemiskinan serta ketimpangan antara desa dan kota.

Ditinjau melalui aspek konsumsi, garis kemiskinan secara nasional pada Maret 2026 berada pada nominal Rp 669.235 per kapita setiap bulannya.

Besaran tersebut mengalami kenaikan sebesar 4,33 persen jika dibandingkan posisi September 2025 yang senilai Rp 641.443 per kapita tiap bulan.

Pihak BPS memberikan catatan krusial bahwa ukuran garis kemiskinan mutlak dipahami dalam kerangka pengeluaran rumah tangga secara utuh.

Hal tersebut dikarenakan sebagian besar beban kebutuhan harian, mulai dari biaya sewa hunian, pasokan listrik, hingga kebutuhan pangan, dipikul secara kolektif bersama-sama.

Tercatat pada Maret 2026, rata-rata rumah tangga miskin di nusantara mempunyai 4,62 anggota keluarga di dalam satu atap.

Besaran garis kemiskinan rumah tangga di tiap-tiap provinsi pun beragam, bergantung pada level harga daerah, pola konsumsi, serta total jiwa dalam keluarga prasejahtera tersebut.

Berdasarkan pembagian wilayah tempat tinggal, tingkat kemiskinan di kawasan pedesaan masih terpantau lebih tinggi dibandingkan perkotaan.

Tingkat Kemiskinan Perdesaan mencapai 10,67 persen pada Maret 2026. Tingkat Kemiskinan Perkotaan berada di angka 6,34 persen pada Maret 2026.

Kendati proporsi kemiskinan baik di perdesaan maupun perkotaan sama-sama mencatatkan penurunan berbanding September 2025, BPS memberikan penekanan terhadap adanya disparitas dari sudut pandang kualitas.

Indeks Kedalaman Kemiskinan serta Indeks Keparahan Kemiskinan di wilayah perkotaan memperlihatkan perbaikan berupa jarak pengeluaran penduduk prasejahtera terhadap garis kemiskinan yang semakin merapat.

Sebaliknya, Indeks Kedalaman Kemiskinan serta Indeks Keparahan Kemiskinan di perdesaan justru mengalami kenaikan, yang menyimbolkan bahwa jarak pengeluaran warga miskin di desa terhadap garis kemiskinan malah semakin menjauh.

Terkini